
"Ada apa, Ly?" tanya Kevin saat aku menghentikan langkah.
Aku merogoh kedua saku celana dan juga jaket yang ku kenakan.
"Ponselku tidak ada. Sepertinya tertinggal di warung tadi. Mas Kevin duluan saja, aku mau ambil hp dulu," kataku seraya berbalik arah. Berjalan tergopoh-gopoh kembali menghampiri warung tadi.
Sesampainya di sana aku langsung menuju meja yang tadi sempat kutempati. Kosong. Tak ada apapun di meja tersebut. Ponselku tak berada di sana. Aku kembali mengedarkan pandangan, menyapu setiap sudut meja di warung itu. Berharap aku meletakannya di salah satu meja itu. Akan tetapi hasilnya sama, nihil. Aku beranjak menghampiri seorang pelayan yang bekerja di sana.
"Permisi, Mas."
Pelayan yang sedang mengelap piring itu mendongak, menatapku.
"Iya. Ada apa Kak?"
"Masnya atau yang lainnya tadi pas beresin meja, lihat ada hp ketinggalan tidak, ya?"
"Kau cari ini?" ucap seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, menatap pemilik suara tenor tersebut. Dahiku mengernyit. Alan--mengapa ponselku ada di tangannya.? Aku berjalan mendekat ke arahnya. Akan tetapi kembali berhenti saat melihat ke empat pria menghampirinya. Menepuk pundak Alan dengan begitu akrabnya. Bahkan salah satu di antara ke empat pria itu tampak memberikan pelukan kilat padanya. Aku mengamati keempat pria itu dengan seksama. Bukankah ke empat pria itu yang tadi yang terlibat pengeroyokan di seberang jalan. Jadi Alan juga terlibat?
Ke empat pria itu duduk tak jauh dari tempat Alan berdiri. Memanggil pelayan warung dengan suara tinggi dan kasar. Aku menatapnya muak.
"Hei ... Ale-Ale. Kenapa malah bengong?"
Aku lekas berpaling dari ke empat pria itu. Kemudian beralih menatap Alan yang sudah berdiri satu meter di hadapanku.
"Jadi ini milikmu?" tanya Alan. Menyodorkan ponsel milikku.
"Iya. Kenapa bisa ada di tanganmu?" Aku mengulurkan tangan hendak meraih benda pipih itu. Namun Alan justru menjaukan tangannya dari jangkauanku.
Aku menatapnya sebal. "Apa maumu? Kau butuh uang?"
Alan mengangkat sebelah sudut bibirnya, tersenyum menyeringai. "Kau selalu to the point, Alea," sahutnya tak tau malu. "Tentu saja aku selalu membutuhkan uang. Tapi sepertinya bukan hanya aku, semua orang juga butuh uang. Bukankah begitu, Alea?"
Aku menyesal sempat berpikir kalau laki-laki di hadapanku ini lebih baik, tak seberengsek seperti berandal lain di luaran sana. Ternyata aku salah. Ia bersama gengnya tetaplah cecunguk yang menyebalkan sekaligus menakutkan. Yang suka mengganggu orang lain, merampas milik orang lain dengan paksa. Bahkan mereka tak segan memukuli orang lain hingga babak belur.
"Berapa yang kau butuhkan? Satu juta? Dua juta?" tanyaku. Mengabaikan ucapan Alan sebelumnya.
Alan berpaling sebentar. Kemudian kembali menatapku dengan senyum mengembang di bibirnya. Membuatku semakin muak.
"Mengapa kau selalu ingin memberiku sesuatu tanpa perlu kuminta?" ucapnya bertanya balik. "Waktu itu kau menawarkan tasmu beserta semua isinya padaku. Sekarang kau menawariku uang. Apa kau sangat kaya raya? Hingga ingin memberikan sebagian hartamu dengan cuma-cuma?"
"Bukankah itu yang kau inginkan? Kau selalu mengganggu orang lain, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, kan?"
Sejenak Alan terdiam. Bibirnya terkunci rapat. Tatapannya tajam, menghujam ke wajahku. Namun tak lama kemudian ia kembali mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum.
Aku memandangnya heran. Mengapa ekspresinya bisa berubah-ubah begitu cepat.
"Apa kau sedang datang bulan? Hari ini kau sensitif sekali," ucapnya dengan tawa kecil. Tatapannya kembali melembut.
"Aku sedang tidak ingin bercanda," celetukku.
"Berapa yang harus kubayar agar kau mau mengembalikan hpku?" tanyaku lagi, dengan suara lantang. Tak peduli dengan tatapan marah yang dilayangkan oleh ke empat teman Alan padaku. Mungkin mereka tak suka aku berbicara kasar dengan ketua geng mereka.
"Alih-alih memberiku uang, bagaimana kalau kau menemaniku makan?" tawarnya.
Cih. Kau pikir aku wanita penghibur?
"Aku tidak punya waktu untuk menemanimu. Bukankah kau pun sudah banyak teman?"
Aku menoleh ke kanan, menatap keempat temannya yang sedang menunggu dengan makanan yang sudah terhidang di meja di hadapan mereka. "Lihatlah--Mereka sudah sejak tadi menunggumu."
Alan ikut menoleh ke arah temannya itu. Keempat temannya itu tersenyum dan menganggukan kepala. Persis seperti seorang hamba yang begitu mengagungkan rajanya, menunggu tanpa banyak protes apalagi membantah.
"Kenapa lama sekali, Ly?"
Aku dan Alan sama-sama menoleh, menatap Kevin yang berjalan ke arahku. Ia memandang Alan sebentar, lalu beralih menatapku. "Hpnya ada, Ly?" tanyanya saat sudah berada di sisiku.
"Ada. Tapi dia tak mau memberikannya padaku," kataku. Menunjuk Alan dengan sorot mata. Di ikuti oleh Kevin yang kembali menatapnya.
Alan menatapku, tersenyum. "Kenapa kau jahat sekali, Alea. Aku tak pernah berkata demikian," ucapnya membela diri. Kemudian beralih memandang Kevin. Aku menatap Alan dan Kevin bergantian. Keduanya saling bersitatap dengan ekspresi berbeda.
Alan tampak menyunggingkan senyum dan lebih santai. Sementara Kevin justru melayangkan tatapan tak bersahabat.
"Sorry, Bro. Aku hanya ingin menggodanya sedikit. Ini ...," ucap Alan sambil menyodorkan ponselku.
Kevin segera mengambil hp itu dari genggaman Alan. Lalu memasukan hp tersebut di saku celananya. "Jangan di ulangi lagi. Aku tak suka kau menggoda kekasihku," ucap Kevin serius. Sebuah kalimat yang bukan hanya sekedar himbauan biasa. Namun seperti sebuah peringatan bagi Alan.
"Ok. Aku mengerti. Akan kuingat kata-katamu, " sahut Alan.
Kevin meraih telapak tanganku. Menggenggamnya erat. Seolah menegaskan pada Alan kalau aku miliknya. "Ayo pulang," ajaknya sambil menarik tanganku.
Kevin menyeretku keluar. Menuju mobilnya yang diparkirkan di seberang jalan. Kali ini ia tak membukakan pintu untukku. Ia langsung masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi. Aku sedikit terlonjak saat Kevin membanting pintu. Apa dia marah padaku? tapi marah kenapa? Aku bahkan tak membuat kesalahan, batinku.
Bersambung...