
Hari ini aku kembali ke kantor. Namun tidak untuk bekerja. Melainkan menemui atasan untuk menyerahkan surat pengunduran diri sekaligus mengemasi barang-barangku.
"Kau yakin tidak perlu aku temani?" tanya Kevin ketika kami sampai di depan kantor. Wajahnya tampak cemas.
Aku mengangguk sambil memasang wajah ceria. "Mas Kevin tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja saat keluar nanti. Meskipun semua orang membenciku tapi mereka tidak akan menggigit," kataku dengan tawa kecil.
Kevin membuang nafas kasar. Mengusir kecemasannya. "Baiklah," ucapnya kemudian.
"Aku pergi dulu," pamitku seraya turun dari mobil.
Kevin mencondongkan tubuhnya untuk melihatku yang sudah berada di luar. "Jangan lama-lama."
"Ok," balasku seraya menutup pintu mobil. Aku menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Butuh persiapan mental yang cukup untuk kembali ke gedung itu lagi. Terlebih saat menghadapi orang-orang munafik dan menyebalkan yang ada di dalamnya. Rasanya sudah seperti saat akan melamar kerja. Aku merasa gugup dan sedikit takut.
"Selamat pagi, Neng Lea," sapa Pak Kardi. Pria berperawakan tinggi besar itu tersenyum padaku. Meskipun usianya tak lagi muda, akan tetapi beliau masih menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan dengan sangat baik.
Melihat senyumnya yang begitu tulus aku merasa terharu. Dari sekian banyaknya orang yang ku kenal di gedung ini, beliaulah satu-satunya orang yang tak berubah. Meskipun ia sudah mengetahui kasus yang menimpaku kemarin. Beliau tetap menyapaku dengan ramah, masih sama seperti sebelumnya. Saat kulihat wajahnya sedikitpun ia tak pernah memandangku dengan tatapan merendahkan.
"Pagi juga, Pak Kardi," kataku sambil tersenyum. Usai bertegur sapa dengan security itu, aku kembali melanjutkan langkah memasuki gedung itu.
Sama seperti hari sebelumnya, begitu masuk orang-orang langsung menatapku. Hanya saja kali ini tak ada yang berbisik-bisik, membicarakan ku. Aku terus melangkah, tak memperdulikan tatapan sinis orang-orang itu. Ku lewati mereka begitu saja yang saat itu sedang duduk di meja kerja masing-masing.
Aku menghentikan langkah saat berada di depan ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca tebal.
Tok tok tok. Dengan pelan ku ketuk daun pintu itu.
"Masuk," sahut seorang lelaki dari dalam ruangan itu.
Aku lekas mendorong pintu tersebut untuk membukanya. Setelah itu menerobos masuk ke dalam ruang kerja manager itu. Saat itu kulihat Jordi sedang sibuk dengan laptopnya.
"Selamat pagi, Pak," sapaku.
Jordi berpaling dari layar laptopnya. Ia beralih menatapku yang sedang berjalan ke arahnya.
"Pagi, Alea," sahutnya. "Silahkan duduk, Lea," imbuhnya.
Ku jatuhkan bokongku di kursi kosong di sana, berhadapan dengannya. Tanpa basa-basi ku serahkan sepucuk surat yang telah ku siapkan sejak kemarin malam.
Sepertinya Jordi sudah menduga kalau aku akan hengkang dari perusahaan ini. Ia sama sekali tak terkejut saat membuka dan membaca surat pengunduran diriku itu.
"Jadi, itukah alasanmu menolak ku, Le?" tanyanya tanpa menatapku. Ia sibuk melipat kembali surat itu.
"Maksud pak Jordi apa?" tanyaku, tak mengerti.
Jordi kembali mengangkat wajahnya. Kini ia kembali menatapku. "Kau tidak mau menerimaku saat itu karena masih berhubungan dengan mantan kekasihmu."
Ah, jadi yang Jordi maksud masalah yang waktu itu. Aku mengerti sekarang. Sejujurnya, jika saat itu aku sudah tak bersama Kevin pun, aku tak bisa menerimanya. Aku sama sekali tak menyukainya.
"Kenapa diam saja, Le?" tanyanya, lagi.
"Maaf, Pak. Aku datang ke sini hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diriku. Aku hanya akan menjawab jika itu menyangkut pekerjaan. Aku sama sekali tak ingin membahas masalah pribadi,"
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Jordi. Akhirnya ia menyerah.
"Kalau begitu aku pamit undur diri," kataku seraya bangkit berdiri.
"Sebelum pergi temui direktur terlebih dulu, beliau sudah menunggumu sejak kemarin," ucap Jordi sebelum aku pergi.
"Baik, Pak."
Aku tertegun saat Jordi ikut berdiri dan mengulurkan tangan padaku. Ku tatap matanya yang sipit itu.
"Apa kau bahkan tidak mau berjabat tangan denganku, Le?" tanyanya dengan suara lembut. Aku tersenyum. Lalu dengan cepat menjabat tangannya.
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Alea. Kau wanita hebat yang pernah ku temui. Aku yakin kau punya alasan tersendiri. Kuharap kedepannya kau bahagia dengan segala pilihanmu," ucapnya tulus.
Lagi-lagi aku di buat terharu. Bahkan kali ini mataku sampai berkaca-kaca. Aku baru sadar ternyata masih ada orang tulus di sekitarku. "Terima kasih, Di."
"Kau juga, ku doakan suatu saat nanti kau menemukan sosok wanita yang mencintaimu dengan tulus. Wanita yang jauh lebih baik dariku," kataku sungguh-sungguh.
"Hm," sahut Jordi seraya menganggukkan kepala.
Kami saling melepas tangan masing-masing. Setelah itu aku berlalu pergi. Bergegas naik ke lantai atas dimana ruang direktur utama itu berada. Kedatanganku di sambut dengan jutek oleh asisten pribadi bos perusahaan ini.
"Silahkan masuk, pak Bos sudah menunggu di dalam," ucap asisten yang bernama Lusi itu. Wajahnya sama sekali tidak ramah.
"Terima kasih," kataku seraya masuk ke dalam.
"Alea," ucap pak Dendi begitu melihatku. "Duduklah," imbuhnya mempersilahkan.
"Jadi kau benar-benar ingin berhenti?" tanyanya langsung pada intinya. Ia melepas kacamatanya dan meletakan benda itu ke meja di hadapan kami. Setelah itu menatapku.
Aku mengangguk, mengiyakan. "Betul, Pak," kataku tanpa ragu.
"Tak bisakah kau memikirkannya lagi? Aku sangat menyukaimu. Kau salah satu pegawai yang bisa ku andalkan. Kau bertanggung jawab, pekerja keras dan juga cerdas. Perusahaan ini membutuhkan orang-orang sepertimu, Alea. Tak bisakah kau tetap tinggal? Aku bisa memberimu cuti jika kau masih perlu menenangkan diri," bujuknya.
"Sebelumnya saya ingin berterima kasih atas segala pujian Bapak. Terima kasih juga atas penawaran yang Bapak berikan pada saya. Akan tetapi mohon maaf, saya tidak ingin merubah keputusan saya."
Pak Dendi tampak kecewa. "Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan memaksa."
"Terima kasih atas pengertian Bapak."
"Sama-sama, Alea. Datanglah kembali jika kau berubah pikiran, perusahaan ini akan selalu terbuka untukmu," sahut Pak Dendi.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Setelah percakapan kami selesai, aku pamit undur diri dan bergegas kembali ke lantai sebelumnya. Ku kemasi seluruh barang-barang pribadi yang ada di meja kerjaku. Tak banyak barang-barang yang ku punya. Semuanya masuk dalam kardus berukuran kecil. Setelah semuanya beres, aku bergegas membawanya pergi. Kali ini aku sama sekali tak berpamitan dengan siapapun. Meskipun saat itu banyak orang di sekelilingku. Termasuk pada Naira, rekan kerja yang duduk bersebelahan denganku. Yang dulu pernah sangat dekat denganku. Aku melewatinya begitu saja, bahkan sama sekali tak berniat ingin melihat wajahnya.
Aku kembali menemui Kevin yang masih setia menungguku di dalam mobilnya. Ia langsung menghampiriku begitu melihatku keluar gedung. Kemudian mengambil alih barang bawaanku.
Kami berjalan beriringan, menuju mobilnya. "Apa aku lama?" tanyaku.
"Tidak juga. Hanya menghabiskan sebungkus rokok," sahutnya.
Aku terkekeh. Meski ia mengatakan tidak lama tapi kalau menghabiskan sebungkus rokok itu berarti sangat lama. "Maaf," kataku kemudian.
Kevin meletakan kardus itu di bagasi. Setelah itu menyusulku masuk ke dalam mobil. Ia kembali menghidupkan mesin dan bergegas menancap gas.
"Setelah ini mau kemana lagi?" tanya Kevin.
"Pulang?" kataku dengan nada bertanya. Sekarang aku bahkan tidak punya tujuan lain selain pulang ke rumah. Akan tetapi sebenarnya aku tak ingin pulang. Sudah semingguan lebih aku hanya berdiam diri di dalam rumah. Untung saja ada Kevin dan Alan yang bergantian menemaniku.
"Kau ingin jalan-jalan?" tanya Kevin.
"Jalan-jalan? Kemana?" Aku menatapnya dengan mata berbinar.
"Kemanapun kau mau, aku akan mengantarnya."
"Serius?" tanyaku masih tak percaya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Kevin bertanya balik.
Aku menggeleng. "Sama sekali tidak," kataku, tersenyum.
"Kalau begitu, Bagaimana kalau kita camping ke gunung?" tanya Kevin
Seketika mataku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Kevin. Apa aku salah dengar? Dia tadi bilang camping kan? Apa dia salah bicara? Mengapa tiba-tiba mengajakku berkemah? Satu lagi, dia menyebut gunung? Apa dunia akan kiamat? Mengapa dia mengajakku ke tempat yang ia benci.
"Kau tidak mau?" tanya Kevin saat aku masih bergumul dengan pikiranku sendiri.
"Mas Kevin tidak suka gunung," ucapku, mengingatkan.
"Tidak apa, kau menyukainya."
Kevin menghentikan mobilnya. Ia memutar posisi duduknya menghadap ke arahku. Kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang besar. Kami saling beradu pandang dengan jarak yang lumayan dekat.
"Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaanmu, Ly. Selama ini aku terlalu sering menyakitimu, aku membuatmu terluka begitu banyak," ucapnya dengan wajah sendu. "Tapi tenang saja. Aku berjanji padamu, setelah ini akan ku pastikan kau tidak akan tersakiti lagi, akan ku akhiri penderitaan ini. Kedepannya kau akan bahagia, Ly," ucapnya dengan bibir tersenyum.
Aku terus menatapnya dalam diam. Seharusnya aku senang, ia berjanji akan membuatku bahagia. Namun, kenyataannya sama sekali tidak. Aku justru merasa takut. Bibirnya memang tersenyum tapi tidak dengan matanya. Kulihat ada kesedihan yang mendalam. Seolah ia hanya menginginkan aku yang bahagia tapi tidak dengannya.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku merasa ucapannya seolah mengatakan salam perpisahan.
"Aku mencintaimu, Ly," ucap Kevin. Aku memejamkan mata saat ia mengecup keningku cukup lama.
Kuharap apa yang kulihat salah. Semoga saja apa yang ku pikirkan tidak benar.
.
.
.
.
.