Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 50



Aku terbangun saat merasakan nyeri di pergelangan tanganku. Entah jam berapa sekarang, aku tidak tahu. Tapi dilihat dari suasana yang gelap dan sunyi, sepertinya sudah lewat tengah malam. Sebisa mungkin aku mengurangi gerakan di tanganku agar tak semakin sakit. Jadi yang kulakukan hanya terus berbaring di ranjang. Sesekali aku menoleh ke samping, memperhatikan dinding kaca yang tertutup tirai berwarna krem yang menjuntai hingga ke lantai.


"Mengapa bangun? Ini masih tengah malam," ucap seseorang yang terdengar familiar di telingaku. Suaranya sedikit serak. Mungkin karena ia juga baru saja bangun dari tidurnya.


Aku menoleh, menatapnya yang tahu-tahu sudah berada di sisiku. Padahal beberapa menit yang lalu kulihat ia sedang meringkuk di sofa. Wajahnya tampak bersinar meskipun saat itu ruangan cukup gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu tidur kecil yang ada di atas meja, dekat ranjang.


"Bagaimana denganmu? Mengapa kau juga bangun?" tanyaku.


Alan menarik sebuah kursi, meletakkannya di sisi ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia meraih tangan kananku yang tak terluka. Mengusap punggung telapak tangannya sebentar, setelah itu menggenggamnya. Aku merasa hangat saat telapak tangan kami saling bertaut.


"Bagaimana aku bisa tidur saat kau terus bergerak dengan gelisah. Ada apa? Apa kau merasa sakit?" Ia memandangku dengan wajah cemas.


Aku mengangguk pelan. "Sedikit," kataku mengakui.


"Tunggu sebentar, aku panggilkan dokter dulu."


Aku menarik tangannya saat ia bangkit berdiri dan siap melangkah. Ia kembali menatapku dengan dahi mengernyit. Ekspresinya seolah bertanya, ada apa? Mengapa menahanku?


"Aku baik-baik saja, Al. Tidak perlu memanggil dokter." Ya, meskipun terasa sakit tapi masih bisa di tahan. Aku tak ingin merepotkan dokter ataupun perawat yang berjaga. Mereka juga perlu istirahat. Jadi selagi aku bisa menahannya, maka tak perlu memanggil mereka.


"Baiklah." Alan kembali duduk di kursinya. Kerutan di dahinya sedikit memudar.


"Apa kau butuh sesuatu? Atau ingin pergi ke toilet?" Lagi-lagi ia berkata dengan suara yang sangat lembut. Jemarinya yang panjang dan ramping terulur, mengusap kening dan mengibaskan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku.


Aku menggeleng. "Aku tidak membutuhkan apapun."


"Kalau begitu tidurlah," perintahnya. Satu tangan kanannya masih menggenggam tanganku. Sementara satu tangannya yang lain mulai membelai kepalaku. Membenamkan jemarinya di sela-sela rambutku dan memainkannya berulang -ulang.


Sejenak kami berdua terdiam. Aku terlena oleh sentuhannya yang terasa nyaman dan menyenangkan. Membuatku sedikit mengantuk.


"Al ...," kataku, memecah keheningan.


"Hm," sahutnya. Alan kembali menatap wajahku. Kerutan di dahinya sudah menghilang sepenuhnya bersama dengan ekspresi cemasnya.


"Apa besok aku bisa pulang? Aku tak menyukai tempat ini."


Sudut bibirnya terangkat ke atas. Senyum di wajahnya membuatnya terlihat semakin tampan. "Memangnya ada orang yang menyukai tempat ini, hm?"


"Bukankah kau menyukainya? Sejak kemarin kau tak beranjak kemanapun. Bahkan kau juga mandi dan tidur di tempat ini." Ya, kurasa ia sangat menyukainya sampai-sampai tak ingin beranjak dari sini sedetikpun.


Aku hanya bisa berdecak mendengar gombalannya.


"Ngomong-ngomong bisakah kita pindah ke kamar yang lebih kecil? tempat ini tidak cocok untukku." Aku memperhatikan sekeliling. Ruang meeting dengan dinding pembatas, meja makan berukuran besar, serta sofa panjang abu-abu itu. Sungguh tempat ini sangat berlebihan, aku tak membutuhkannya. Lagipula hanya ada Alan yang menjagaku, tak ada siapapun lagi yang menjengukku. Jadi tempat sebesar ini sama sekali tidak cocok untukku. Terutama harga sewanya. Ya, biaya rawat inap di kamar sebesar dan semewah ini sudah pasti tidak murah.


"Apanya yang tidak cocok? Bukankah tempat ini sangat nyaman?"


Benar. Tinggal di tempat ini sangat nyaman. Tapi mengingat biayanya yang tinggi membuatku tak nyaman. Aku tak memiliki pekerjaan sekarang, tak ada penghasilan sama sekali. Jadi sebisa mungkin harus hemat. "Kau tahu, aku pengangguran sekarang. Tabunganku tidak banyak."


"Kau tenang saja, Ale-Ale. Tidak usah pedulikan soal biayanya, serahkan saja padaku," ucapnya seraya menepuk dada.


Aku menatapnya ragu. Bisakah aku mempercayainya, aku tidak yakin dengan ucapannya itu.


"Hei, ada apa dengan ekspresimu itu? sepertinya kau meragukanku."


Benar. Aku memang meragukanmu. Tak di sangka Cecunguk ini cukup pintar membaca raut wajah orang.


"Kau tidak perlu khawatir, aku mengenal pemilik rumah sakit ini," imbuhnya dengan percaya diri.


"Berhentilah membual, Al," kataku dengan tawa mengejek. Kemudian memalingkan muka.


"Siapa yang membual? aku serius, Alea, percayalah padaku, aku memang mengenal pemiliknya."


Aku menghela nafas. Dari pada terus berdebat dengannya lebih baik aku mengalah dan pura-pura percaya saja. "Baiklah, kau mengenalnya. Sekarang kembali ke tempatmu dan tidurlah, aku mengantuk," kataku seraya memejamkan mata.


Kursinya berderit saat ia bangkit berdiri. Sebelum pergi ia mengecup keningku. Tentu saja aku sangat terkejut. Namun tak berani membuka mata.


"Selamat tidur, Alea," ucapnya lembut. Setelah itu melangkah pergi. Kembali ke sofa.


Aku masih membeku. Sejenak aku merasa linglung. Entah mengapa jantungku berdetak sangat cepat.


.


.


.


.