Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 38



Alan sama sekali tak menurunkanku meski kami berdesakan di dalam lift. Aku terus menundukkan wajahku, malu sekali di lihat orang-orang.


"Ini kantormu?" ucapnya begitu kami keluar dari lift. Matanya tampak menyapu sekeliling.


"Iya. Sekarang cepat turunkan aku," desakku.


Dengan hati-hati Alan akhirnya menurunkanku. Aku menghela nafas lega. Akhirnya bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Orang-orang juga tidak akan memperhatikanku lagi.


"Kantormu kecil sekali," ucap Alan.


Aku menatapnya heran. Kantor sebesar ini di bilang kecil? Apa matanya rabun? Ah tidak, kurasa otaknya yang sedikit bermasalah.


"Ini kantor cabang, gedung utama sedang di renovasi jadi sementara sebagian karyawan di pindahkan ke sini," kataku, menjelaskan.


"Oh ya?" ucapnya seolah tak percaya. "Setahuku perusahaan ini memang tak begitu besar."


"Kau tahu apa tentang perusahaan, Al," ejekku. Jika kuberitahu apa saja yang kami kerjakan pasti Alan tercengang.


"Setahuku hanya perusahaan periklanan kecil," sahutnya dengan nada mencemooh.


"Hei ... perusahaan kami ini pernah bekerjasama dengan beberapa selebriti lho," kataku, sombong. Enak saja dia mengatai perusahaan ini kecil.


"Maksudmu si sekuter itu?" tanyanya.


"Sekuter?" ucapku, bingung.


"Iya, sekuter. Selebriti kurang terkenal dan tak berprestasi, hanya modal tampang dan viral saja, apa hebatnya? Sebentar lagi bintang iklan yang kau banggakan itu juga tenggelam."


Eh, kok dia bisa tahu. Apa dia menyelidiki perusahaan ini? Ah, sudahlah lupakan saja.


"Pergilah, aku harus pergi bekerja," kataku, mengusirnya.


"Tidak perlu kutemani sampai ke meja kerjamu?" tanyanya.


"Tidak perlu, kau pergi saja," Sahutku sambil berjalan meninggalkannya.


"Jika butuh bantuan, tangan dan kakiku juga siap menggantikan mu," ucapnya. Ia berjalan mengikutiku.


"Aku hanya keseleo, bukan lumpuh. Jadi tak butuh kaki maupun tanganmu untuk menggantikannya. Aku bahkan masih sanggup memukul dan menendangmu keluar."


Bahu Alan berguncang-guncang karena tertawa. Wajahnya tampak sangat bahagia.


Benar-benar sinting. Aku mengancam akan memukul dan menendangnya, bukannya takut ia malah tertawa bahagia. Aku kembali melangkah, meninggalkannya.


"Alea ... tunggu," panggil Alan. Tawanya sudah berhenti.


Aku menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Kemudian berbalik untuk menatapnya yang berdiri beberapa langkah di depanku. "Apa lagi?" tanyaku, tak sabar.


"Ambil ini," ucapnya seraya melemparkan sebuah ponsel padaku.


Aku menangkapnya dengan gelagapan. Kemudian menghela nafas lega saat hp itu sudah dalam genggamanku. Untung saja bisa ku tangkap dengan baik, jika tidak mungkin hp ini sudah hancur. Aih, kenapa juga dia melemparnya? Kenapa tidak memberikannya langsung, toh kita sangat dekat.


"Ada nomorku di dalam sana, hubungi aku saat kau pulang kerja, aku akan menjemputmu," ucapnya sambil berlalu pergi.


"Oke, hati-hati jalan," sahutku.


Setelah ia pergi aku kembali melanjutkan langkah, masuk ke dalam kantor. Begitu aku masuk, suasana yang tadinya sedikit berisik seketika berubah menjadi hening, membuatku heran. Sambil tersenyum aku menyapa rekan kerjaku, satu persatu. Namun, reaksi mereka membuatku terkejut. Bukannya membalas sapaanku, mereka malah membuang muka.


Ada apa dengan semua orang, batinku bertanya tanya. Aku berjalan menuju meja kerjaku dan mendudukkan tubuhku di sana. Kudengar seseorang berbisik, menyebut namaku. Aku menoleh ke belakang, memeriksa siapa yang menyebutku tadi. Kulihat Rena dan Saskia sedang mengobrol. Keduanya langsung membuang muka begitu bersitatap denganku. Aku mulai merasa tak nyaman saat semua orang terus menatap ke arahku. Sebenarnya apa yang terjadi, apa aku melakukan kesalahan? Aku ingin bertanya tapi setiap orang yang kudekati justru menjauh pergi.


"Hai juga, Alea," sahutnya tanpa menatapku.


Bahkan Naira juga bersikap dingin padaku. Rasanya sedikit menyakitkan saat orang sangat dekat denganku justru begitu acuh.


"Nai, apa aku melakukan kesalahan? Mengapa kau dan semua orang bersikap dingin padaku?" tanyaku.


Akhirnya Naira menatapku. Namun ekspresinya sama sekali tidak seperti biasanya. Ia tampak marah. "Apa kau benar-benar tidak tahu? Atau hanya pura-pura tidak tahu seperti kebiasaan yang kau lakukan," tanyanya dengan nada membentak.


Aku sedikit kaget. Baru kali ini ia berbicara padaku dengan suara meninggi. "Memangnya apa yang terjadi, Nai? aku benar-benar tidak tahu," sahutku, bingung.


"Kau menyebutku biasa berpura-pura tidak tahu, memangnya kapan aku bersikap seperti itu?" Ya, selama ini aku tidak pernah berpura-pura dalam hal apapun saat di kantor.


"Oh ya?" ucap Naira dengan tawa mengejek.


"Kalau begitu ini apa, Alea?" Naira menyodorkan hpnya ke arahku.


Aku begitu terkejut saat melihat sebuah video yang di perlihatkan Naira. Dimana video tersebut merupakan adegan yang terjadi semalam, saat Alia memukuliku.


Aku menutup mulut, tak percaya dengan apa yang terjadi. Jadi inikah alasan orang-orang bersikap tak biasa padaku?


"Jadi ... Bagaimana Alea? Apa kau masih mau mengelak?" ucap Naira dengan nada mengejek.


"Kupikir kau wanita baik-baik. Aku selalu memujimu, menyanjungmu wanita hebat, wanita pintar yang memiliki hati seluas samudera. Ternyata aku salah, kau itu tidak lebih dari sampah masyarakat, kau wanita kejam yang merebut suami dari adik kandungmu sendiri, kau itu sangat hina, Alea. Aku membencimu, aku malu memiliki teman sepertimu, Alea!" Ucap Naira, marah.


Mendengar kalimat panjang itu, aku merasa ribuan pisau menghujam ke tubuhku. Sakit luar biasa, hatiku seperti di sayat berulang kali. Bagaimana bisa seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri bisa mengatakan kalimat sesadis itu padaku.


Pandanganku terasa buram seiring dengan munculnya cairan bening yang menggenang di pelupuk mata. Aku menggeleng pelan. "Aku--aku tidak seperti itu, Naira," kataku dengan wajah tertunduk.


Naira tertawa sinis. "Tidak seperti itu?" ucapnya dengan nada mengejek. "Jadi kau itu seperti apa Alea? Kebusukan apa lagi yang belum kuketahui?"


Aku mengangkat wajah, menatapnya. "Aku tidak menyangka kau bisa sekejam ini padaku, Nai."


"Aku kejam?" ucap Naira menuding dirinya sendiri. Kemudian kembali tertawa sinis. "Sadarlah Alea, yang kejam itu kau, wanita pelakor!" ucapnya setengah berteriak. Ia beralih menudingku dengan telunjuknya.


"Pelakor?" ucapku mengulang kata terakhir yang di ucapkan Naira. Aku menatapnya tajam. "Bukankah kau yang paling tahu tentang hubunganku dengan Kevin?" ucapku mengingatkan. "Kau dan semua orang di sini tahu, sebelum adikku menikah dengan Kevin, akulah yang lebih dulu menjadi pasangannya, aku yang jadi tunangannya, aku yang selalu menemaninya selama hampir lima tahun, apa kalian semua lupa!" teriakku. Memandang setiap wajah di ruangan ini satu persatu. Dadaku terasa bergemuruh saat mengatakannya. Marah, sedih dan kecewa, perasaan itu bercampur menjadi satu. "Kalian semua tidak tahu apa yang kualami dan apa yang kurasakan. Bagaimana bisa kalian semua begitu kejam padaku!" teriakku, lagi. Semua orang yang ada di sekelilingku membisu. Namun masih terus menatapku. Aku tak sanggup lagi menahan tangis. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah juga. "Aku hanya mempertahankan cintaku, mempertahankan apa yang kumiliki, tidakkah kalian mengerti!"


"Kalian menyebutku pelakor, wanita hina dan sampah masyarakat. Apa kalian pikir kalian tak lebih buruk dariku!"


"Kau!" Aku menunjuk Rena, rekan satu tim yang sempat menggunjing di belakangku. "Kau bahkan menjadi simpanan kakek-kakek kaya, beraninya kau menggunjing di belakangku, mengataiku tak tahu malu dan menyebutku pelakor. Apa kau tidak punya kaca!" kataku berapi-api.


Aku beralih menatap Naira, sahabat tercintaku yang kurang ajar. "Kau juga!" Aku menudingnya dengan telunjukku. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau diam-diam berselingkuh dengannya?" Aku menunjuk Ilham, rekan sekantor yang sudah memiliki pistri. Orang kutunjuk itu tersentak kaget.


"Meskipun aku menjadi pelakor seperti yang kalian katakan tapi sampai detik ini aku masih bisa menjaga kesucianku. Tidak seperti kalian semua yang secara suka rela menjajakan tubuh kalian bukan pada pasangan yang sah," sindirku, marah.


Usai puas mengatakannya aku berlalu pergi.


.


.


.


.


.