Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 87



Sementara Alan mandi, aku merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Mataku menyapu sekeliling, memperhatikan kamarnya yang luasnya tiga kali lipat dari kamar di rumah yang kami tempati bersama. Sangking luasnya kamar tersebut memiliki ruang ganti tersendiri.


Layaknya sebuah toko, lusinan baju tersusun rapi di dalam lemari panjang di ruang ganti itu. Beberapa pakaian seperti kemeja, sweater atau jaket serta jas dan celana bahan di gantung menggunakan hanger berkualitas yang sudah terjamin tidak akan merusak kain. Sementara untuk kaos, jins dan celana pendek tampak dilipat dan di susun dengan rapi.


Ratusan sepatu pria dengan berbagai model tersusun rapi di lemari kaca. Mulai dari pantofel, slip on, sneaker hingga boots ada di sana.


Selain lemari pakaian dan sepatu, ruangan tersebut juga memiliki dua etalase yang memajang puluhan dasi berbagai warna dan motif, serta beberapa jam tangan mewah bernilai ratusan juta hingga milyaran.


Beralih dari ruang ganti itu, di dekat ranjang terdapat sebuah meja kecil yang memiliki tiga laci. Di atasnya terpampang sebuah foto dengan bingkai berwarna emas.


Aku bangun dan mendekati meja itu. Mengamati foto yang menarik perhatianku lebih dekat. Foto tersebut menggambarkan sesosok wanita muda bersama makhluk kecil yang sangat menggemaskan. Dalam foto itu, si wanita tersenyum bahagia sambil memandang ke kamera. Sementara bayi laki-laki yang berada di pangkuannya tampak menangis. Bagaikan anak itik, bayi laki-laki itu tampak sangat imut dalam balutan jumpsuit dengan kapucong yang membungkus seluruh tubuhnya dari kaki hingga kepala. Hanya wajahnya yang terlihat. Pipi bulatnya yang kemerahan menyembul keluar.


"Kau sedang apa?"


Aku lekas menoleh ke sumber suara. Alan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Tangan kananya terangkat ke atas, mengelap rambut hitamnya yang basah menggunakan handuk kecil.


"Mereka siapa, Al? Apa ini kau?" tanyaku seraya menunjuk foto tersebut.


Alan berjalan mendekat dan mengambil alih foto di tanganku. "Benar, ini aku dan ibuku," jawabnya, lirih. Wajahnya tampak sedih saat memandangi foto itu. Bahkan matanya berkaca-kaca.


Aku meraih wajahnya dengan kedua tangan dan membelai pipinya dengan lembut. "Ada apa? mengapa tiba-tiba menjadi begitu sedih?


Alan meletakan foto di tangan kanannya ke meja. Sementara tangan kirinya terangkat ke atas, meraih tanganku yang sedang membelai wajahnya. Kemudian mengecupnya sebentar dan menggenggamnya. "Tidak ada. Aku hanya merindukannya." Meski ia berkata sambil tersenyum, tapi tetap saja matanya tak bisa berbohong.


"Jika kau merindukannya, maka segera temui dia," aku menyarankan. "Ngomong-ngomong ibumu tinggal di sini juga kan Al?" kataku sedikit ragu. Sejak kami tiba, aku belum melihat keluarganya yang lain, satupun tidak ada. Padahal aku sudah menyusuri sepertiga dari luas rumahnya. Aku penasaran, apa keluarganya lebih senang menghabiskan waktu di dalam kamar? atau... Apa mereka sedang berada diluar dan belum kembali?


Alan menarikku agar lebih dekat dengannya, lalu memelukku dengan erat. Kepalanya bersandar di bahuku. "Bagaimana caranya aku menemuinya? ibuku sudah di surga sekarang."


Seketika jantungku berhenti berdetak. Begitu terkejut dengan kata-katanya barusan. Jadi ibunya sudah meninggal? Pantas saja dia terlihat sangat sedih.


"Maaf," kataku kemudian.


Alan melepas pelukannya dan memandangku dengan wajah tersenyum. "Kau tidak salah, kenapa minta maaf?" ucapnya seraya mengacak rambutku.


"Aku membuatmu sedih."


"Benar, kau memang membuatku sedih," Alan mengakui. Gelombang rasa bersalah kembali menyelimutiku. Aku menunduk, menatap jari-jariku yang terjalin.


"Karena kau sudah membuatku bersedih, bukankah seharusnya kau bertanggung jawab sekarang?" ucap


Kedua tangan Alan kembali mendarat di pinggangku. "Cium aku, dengan begitu aku tidak akan sedih lagi."


Aku terdiam sejenak, ragu-ragu. Meskipun kami sudah sering berciuman, tapi selama ini Alan lah yang memulai terlebih dulu. Sekarang ia memintaku menciumnya lebih dulu, aku sedikit malu.


"Tidak mau?" tanya Alan dengan wajah kecewa.


Aku meraih pundaknya, lalu berjinjit dan mengecup pipi kanannya.


Seketika bibir tipisnya yang pucat itu merekah. Dengan mata berbinar ia berkata, "Sebelah sini juga." Alan memiringkan kepala dan menunjuk pipi satunya lagi.


Aku kembali berjinjit dan menciumnya sekali lagi. "Apa sekarang sudah cukup?"


"Tidak. Masih kurang." Alan memindahkan tangan kirinya ke tengkukku. Sementara tangan yang satunya lagi masih bertengger di pinggangku. Ia sedikit membungkuk, mensejajarkan postur tubuh kami dan mulai menciumku. Lidahnya menjelajah setiap sudut mulutku. Menyesap bibir atas dan bawahku, bergantian.


"Sekarang baru cukup," kata Alan usai melepas ciumannya.


Aku masih berdiri dengan nafas terengah, sementara Alan sudah berlalu ke ruang ganti. Saat keluar ia sudah berpakaian lengkap. Mengenakan celana pendek dan kaos polos berwarna hitam.


"Tidak mandi?" tanyanya.


"Aku ingin, tapi tidak bawa baju ganti."


"Banyak baju di dalam sana, kau boleh pakai yang mana saja." Alan menunjuk ruang ganti dengan dagunya.


Aku meliriknya sambil berkata dalam hati. Apa dia lupa kalau jenis kelamin kita berbeda? Lagipula dia terlalu tinggi, semua bajunya pasti kepanjangan jika kupakai. "Tidak. Nanti saja mandinya, saat sudah di rumah."


"Apa menurutmu kita sedang di hotel?" Ucapnya dengan alis terangkat. "kita sudah di rumah sekarang," imbuhnya.


"Maksudku di rumahmu. Rumah yang kita tempati di kota A," jelasku.


"Siapa yang mengatakan padamu kalau kita akan pulang? Kita menginap di sini malam ini."


"Tapi..." Aku hendak protes, tapi Alan sudah keluar kamar.


"Ayo turun, Aku lapar," teriaknya.


Bersambung...