
"Akhirnya kau pulang juga, Alea," ucap Alan. Membentangkan kedua tangan, ingin memelukku.
Aku mendorong tubuhnya menjauh. "Berhentilah cari kesempatan!"
Alan nyengir padaku.
"Minggir! Jangan menghalangi jalanku," pintaku seraya mendorong tubuhnya ke samping dan berjalan melewatinya.
"Kau kasar sekali, Alea," ucapnya. Ia berjalan di belakangku.
Aku merogoh kunci dari dalam tas. Kemudian membuka pintu kamar kost.
"Kenapa kau mengikutiku? Pergilah ke kamarmu sendiri," usirku saat Alan ikut masuk.
Lagi-lagi Alan tak menggubris ucapanku. Ia tetap nyelonong masuk dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Aku menatapnya jengkel.
Menyuruhnya pergi dengan kata-kata sama saja seperti berbicara dengan batu. Ia tetap tak akan berpindah posisi. Ingin mengangkat dan melemparnya keluar juga tidak mungkin. Mengangkat galon saja aku sudah kerepotan. Apalagi mengangkat tubuh Alan yang sebesar bayi kingkong. Meskipun kurus tapi ia lebih tinggi dariku, aku tak sanggup melakukannya, berat. Pada akhirnya aku harus menyerah dan membiarkannya.
"Alea, aku lapar," ucap Alan.
Kalau lapar ya makan! Kenapa malah laporan padaku.
"Apa kau tidak dengar? Aku bilang aku lapar," ucapnya lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.
Aku menoleh, menatapnya. "Tak bisakah bicara pelan saja? Aku tidak tuli," kataku kesal.
"Aku sudah bicara pelan, tapi kau mengabaikanku," protesnya.
Aku menatapnya geram. Ingin sekali menendangnya keluar tapi tidak bisa. Dari pada terus berdebat dengannya lebih baik cari tau keinginannya dan turuti saja agar ia cepat pergi. "Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Kamu," ucapnya menyeringai.
Aku mendelik, kesal. Namun bukannya takut Alan malah tertawa. "Kau imut sekali kalau marah," ucapnya.
Benar-benar sinting! Mana ada orang marah imut.
Aku membuang nafas kasar. Menghadapinya memang memerlukan kesabaran ekstra. Entah dosa apa yang telah kuperbuat. Hingga Tuhan murka dan mengujiku dengan mengirimkan tetangga menyebalkan seperti Alan.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Al. Cepat katakan apa yang kau mau dan segera pergi. Aku ingin istirahat," kataku dengan suara lembut.
Laki-laki itu tampak berbinar. "Nah, gitu dong. Kau semakin cantik kalau bicara lembut seperti itu," ucapnya, memuji.
Aku memutar bola mata, bosan.
"Aku lapar, Alea. Ayo kita makan," ajaknya.
"Aku tidak lapar, kau makan sendiri saja," kataku, menolak.
"Kau kan tahu, aku tidak punya uang. Uangku habis untuk mentraktirmu jalan-jalan waktu itu."
"Siapa suruh kau menghabiskannya. Aku tidak memintamu mentraktirku."
"Kau kejam sekali, Alea. Bukankah kita berteman? Mengapa kau tak mau membantuku?"
"Aku memang kejam. Jadi pergilah--jangan menggangguku, kau berteman dengan yang lain saja."
"Aduh," pekik Alan.
Aku meliriknya sebentar. Laki-laki itu sedang memegangi perutnya.
"Berhentilah berakting, aku tahu kau pura-pura. Aku tidak akan tertipu lagi," kataku sambil berpaling. Mengingat kejadian beberapa hari lalu saat Alan membohongiku dengan berpura-pura sakit.
"Kali ini aku tidak bohong, Alea. Perutku benar-benar sakit," ucapnya.
Aku kembali menatapnya. Terkejut saat melihat wajahnya memucat. Aku berlari menghampiri Alan yang tergeletak di sofa. Dan berjongkok di depannya.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, panik.
"Bagaimana baik-baik saja, perutku sakit sekali, sepertinya aku akan mati," ucapnya.
"Jangan! Jangan mati."
Alan menatapku. Kemudian tersenyum lebar.
Aku menatapnya heran. Bisa-bisanya ia masih bisa tersenyum dalam kondisi seperti sekarang.
"Sekarang kau mulai menyukaiku ya, Alea?"
"Jangan konyol. Aku sama sekali tidak menyukaimu," bantahku dengan tawa mengejek.
"Hei ... tidak usah malu, mengaku saja kalau kau menyukaiku. Buktinya kau mencemaskan aku, kau juga tidak ingin aku mati."
"Berhentilah bicara omong kosong, Al. Aku tidak menyukaimu. Aku juga tidak peduli kalau kau mati. Hanya saja jangan mati di kamarku. Aku tidak ingin jadi saksi," kataku, jujur.
"Kau pasti bohong, aku tidak percaya."
"Terserah kau mau percaya atau tidak, Al. Sekarang yang terpenting ayo kita pergi ke rumah sakit. Jangan sampai kau mati di tempatku," kataku. Membantunya bangun. Laki-laki ini kurus tapi berat sekali.
Alan kembali duduk. "Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya butuh makanan. Aku lapar sekali Alea," ucapnya. Ia menatapku dengan wajah memelas.
"Kalau begitu tunggu sebentar aku akan membelikankmu makanan." Aku berlari mengambil dompet dari dalam tas. Kemudian memakai sweater.
"Kau mau kemana?" tanya Alan saat aku hendak keluar.
"Mau kemana lagi, tentu saja beli makanan."
"Kau meninggalkanku di sini sendirian? Bagaimana kalau aku mati?" tanyanya.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin menggendong dan membawamu ikut membeli makanan."
Ah, benar. Mungkin karena aku terlalu panik. Jadi tidak kepikiran ke sana. Aku kembali menghampiri Alan dan duduk di sebelahnya.
"Kau mau makan apa?" tanyaku seraya membuka aplikasi yang menjual makanan dan minuman secara online.
"Apa saja. Cari saja yang paling dekat," sahut Alan.
"Ok." Aku memilih nasi goreng dan Ayam bakar. Masing-masing satu porsi.
"Sudah kupesan," kataku. Meletakan kembali ponselku di atas meja. Kemudian berjalan ke belakang untuk mengambil Air minum.
"Untuk sementara minun air dulu, untuk mengisi perutmu agar tak terlalu lapar," kataku. Menyerahkan segelas air putih padanya.
Alan meminumnya hingga tandas.
"Lagi?" tanyaku.
"Cukup. Bisa kembung nanti kalau kebanyakan minum," jawabnya. Ia meletakan gelas kosong itu di atas meja.
"Masih sakit perut?" tanyaku.
"Sekarang sudah lebih baik, tak sesakit sebelumnya," ucapnya dengan suara lemah.
"Kalau begitu berbaring saja," kataku.
"Tidak. Begini saja sudah tidak apa-apa." Alan menyandarkan kepalanya ke belakang. Matanya terpejam.
Aku duduk di sebelah Alan. Melihatnya terkulai lemah seperti itu membuatku merasa kasihan. Meski menyebalkan tapi ia sering kali membantuku. "Kau belum makan sejak kapan? Kenapa bisa sampai sakit perut?" tanyaku.
Alan kembali membuka matanya. "Aku tidak ingat. Mungkin dua hari yang lalu," ucapnya.
Mataku membelalak, kaget. "Apa kau gila! Kau mau mati? Kenapa tidak makan selama itu?"
"Aku tahu kau kaget, tapi bisakah kau tak memukul saat bicara denganku? Aku heran kenapa wanita suka sekali memukul saat bicara ataupun tertawa." Alan mengusap-usap lengannya.
"Maaf. Itu spontan. Aku tak bisa mengontrolnya. Mereka bergerak sendiri," kataku. Menunjuk kedua tanganku dengan sorot mata.
"Baiklah. Permintaan maafmu di terima."
"Sekarang jelaskan padaku. Kenapa kau tidak makan selama dua hari? Apa kau sudah merasa hebat sehingga tidak butuh makan?" tanyaku, lagi.
"Bukankah sudah ku jelaskan tadi? Aku tidak punya uang untuk membeli makanan. Kau melarangku memalak orang dan juga menyuruhku berhenti meminta makan pada temanku yang memiliki restoran," sahutnya.
"Itu memang benar. Tapi seharusnya kau berusaha mencari uang, bukan malah membiarkan kelaparan sepanjang hari."
"Aku sudah mencari, tapi tidak menemukan uang itu."
Aku merasa aneh saat Alan mengatakan kalimat terakhir. Apa dia benar-benar sudah berusaha mendapatkan uang? Atau hanya mengandalkan mulutnya. "Kau cari dimana?" tanyaku.
"Dimana saja. Di kamarku, di kamar mandi, di dalam dompet, lemari pakaian bahkan sampai di jalanan tapi aku tak menemukannya dimana pun," ucapnya dengan polos.
Aku menggertakan gigi, geregetan. Rasanya ingin sekali ku tampol kepalanya hingga geger otak. Ia sering mengataiku bodoh tapi dirinya sendiri lebih bodoh. Tidak. Dia tidak bodoh tapi idiot.
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau sedang memakiku dalam hati?" tanyanya.
"Untuk apa aku memakimu dalam hati. Jika mau aku bisa mengatakannya langsung di depanmu."
Aku bangkit berdiri dan berjalan mengambil ponselku yang berdering. Rupanya telepon dari kurir yang mengantar makanan. Aku segera turun ke bawah untuk mengambilnya. Setelah itu kembali ke atas dan menyerahkan makanan itu pada Alan.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Alan di sela kunyahannya.
"Aku tidak lapar," sahutku tanpa menatapnya.
"Lalu kenapa kau membeli dua porsi makanan?" tanyanya, lagi.
"Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka. Jadi aku membeli dua itu agar kau bisa memilih salah satunya."
"Tidak peduli apapun makanannya, selama itu yang membeli adalah kau, aku pasti menyukainya, Alea."
Aku menoleh ke arahnya. Ia tersenyum padaku saat mata kami bertemu. "Aku tidak tanya," kataku seraya berpaling, kembali menatap laptopku.
"Kau sedang apa?"
"Tidur," sahutku singkat.
"Aku baru tahu ada orang tidur dengan mata terbuka."
Dasar bocah sialan. Kenapa dia tidak makan saja dengan tenang dan lekas pergi dari sini.
"Kau punya mata dan kau juga melihat apa yang sedang kulakukan, kenapa masih bertanya," kataku, geram.
"Begitu saja marah," ucapnya tertawa. "Tapi tidak apa-apa. Kau terlihat imut saat marah," imbuhnya.
Kurasa dia memang sinting! Aku kembali menatap laptop. Mengerjakan tugas kantor.
"Alea," panggilnya.
"Apa?" sahutku tanpa menoleh sedikitpun. Fokus pada pekerjaanku.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja."
"Sebesar apa kau mencintai kekasihmu?" tanyanya.
Aku menoleh, menatapnya. Ia juga sedang menatapku. Kami berdua saling beradu pandang selama beberapa detik.
bersambung...