Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 44



Aku terbangun saat mendengar gedoran di pintu kamarku.


"Alea-Alea," teriak seseorang yang terdengar sangat familiar di telingaku. Ia menggedor pintu lagi, berulang-ulang.


"Apa sih Alan berisik banget," gerutuku seraya turun dari tempat tidur. Aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


"Ada apa?" tanyaku. Menjulurkan kepala di sela pintu yang sedikit terbuka. Tanganku masih memegang handle pintu.


Alan mendorong paksa pintu itu, hingga terbuka lebar. Aku tersentak kaget saat ia tiba-tiba mendekap tubuhku. "Syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya dengan nafas terengah-engah. Tak lama kemudian ia melepas pelukannya. Aku hanya melongo saat ia tak berhenti mengoceh.


"Apa kau tak bisa menghindar saat akan di


pukul orang! Kau ini bodoh atau bagaimana?" bentaknya. Wajahnya tampak kesal. Ia mendesah saat memeriksa kedua pipi kanan dan kiriku bergantian.


Aku menepis tangannya yang memegang daguku. "Ada apa?" tanyaku lagi.


"Masih bertanya ada apa?" ia memandangku dengan mata melotot. "Tidakkah kau tahu kalau aku mengkhawatirkanmu?"


Aku menatapnya balik. "Mengapa kau mengkhawatirkan ku?"


"Apa aku tak boleh mengkhawatirkanmu?" sahut Alan bertanya balik.


"Sudahlah, lupakan saja," kataku sambil berlalu, kembali masuk. Alan mengekor di belakangku.


"Sudah makan?" tanya Alan. Ia menanggalkan jasnya dan melemparnya di sofa, setelah itu menjatuhkan bokongnya di sebelahnya. Sementara aku duduk di tepi tempat tidur berseberangan dengannya.


"Aku sedang diet," kataku, bohong. Sebenarnya saat ini aku sama sekali tidak ingin makan. Aku hanya ingin tidur untuk menenangkan diri. Aku merasa sangat lelah meskipun sejak pagi aku tak melakukan pekerjaan apapun.


"Badan sekurus itu masih diet, apa cita-citamu ingin jadi tengkorak?"


Aku menoleh, menatap Alan yang sedang memandangiku dengan tatapan marah.


"Apa matamu rabun? Lihat, aku sangat chubby," kataku seraya mencubit kedua pipi. Kemudian memekik kesakitan. Aku lupa pipiku masih sakit akibat tamparan ayah sebelumnya.


"Bodoh," ucap Alan. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelahku. "Apa sangat sakit?" tanyanya seraya membelai pipiku dengan sangat lembut. Matanya tampak sendu.


Aku mengangguk. "Sakit sekali," kataku mengakui. Aku menundukkan kepala saat tiba-tiba merasakan sedih yang begitu dalam. Teringat perkataan ayah sebelumnya dan juga perlakuannya selama ini.


Alan kembali menarikku, membawa ke dalam dekapannya. "Menangislah jika memang ingin menangis," ucapnya seraya mengusap-usap punggungku.


Tanpa kusadari air mataku mengalir begitu saja. Aku mulai terisak dalam pelukannya. . Cukup lama aku menangis dalam pelukannya, hingga membuat kemejanya basah.


"Kenapa minta maaf? Kau tidak bersalah," ucapnya seraya menyeka sisa air mata di pipiku.


"Bajumu jadi basah," kataku. Memandang ke kemeja putihnya.


"Aku memang berniat mencucinya. Justru aku berterima kasih padamu. Karena kau, aku jadi hemat air," ucapnya dengan senyum ceria.


Aku ikut tersenyum. Ucapannya memang aneh tapi itu cukup menghibur. "Terima kasih, Al," kataku, tulus.


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Kau tahu, kau itu seperti hero yang selalu datang di saat aku kesusahan dan mendapat masalah. Kau seperti superman, Al."


"Kenapa superman? Mengapa tidak spiderman saja?"


"Superman ataupun spiderman bukankah itu sama saja. Keduanya sama-sama pahlawan."


"Tapi aku lebih suka spiderman."


"Baiklah, kutarik ucapanku yang sebelumnya. Kau itu seperti spiderman, Al," ralatku.


"Kalau begitu kapan kau akan menciumku?"


Entah mengapa jantungku berdegup cepat sekali saat ia mendekatkan wajahnya padaku. Sangat dekat hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku. "Aku sudah siap," ucapnya lagi.


Aromanya begitu menyegarkan, seperti mint. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, yang ku tahu aku tak ingin kehilangan aroma itu. Kupejamkan mataku dan kembali menghirup aroma nafas Alan berulang kali. Aku kembali membuka mata saat merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Begitu terkejut saat menyadari sentuhan itu berasal dari bibir Alan. Aku lekas berpaling dan menjauhkan wajahku darinya. Namun Alan justru kembali menarikku.


Mataku terbelalak saat ia kembali mendaratkan bibirnya di bibirku. Satu tangannya menahan tengkukku, sehingga aku tak bisa bergerak. Alan menciumku dengan lembut. Tak melewatkan setiap incinya sedikit pun. Berulang kali ia menyesap bibirku atas dan bawah bergantian.


Kurasa aku gila. Bukannya memberontak, aku justru membalas ciumannya. Aku bahkan kembali menutup mata, menikmati kelembutan dan sentuhannya yang memabukkan.


.


.


.


.