Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 57



Entah, ada masalah apa dengan tubuhku. Setiap kali berada terlalu dekat dengan Alan dan juga setiap kali ia menyentuhku, jantungku akan berdetak semakin cepat. Aku tidak mengerti mengapa demikian. Padahal dulu saat bersama Kevin aku tak merasa seperti ini.


Tiba-tiba gambaran masa lalu kembali terlintas di benakku. Aku termenung sejenak. Mengenang masa masa-masa indah bersamanya dulu.


Kevin ... bagaimana keadaanmu sekarang? Apa baik-baik saja? Apa kau bahagia?


Aku merindukanmu, tidakkah kau merindukanku?


Kevin ... Apa kau benar-benar sudah melupakan aku? Melupakan cinta kita?


Tanpa sadar air mata kembali menetes.


"Kau sedang apa?"


Suara Alan berhasil memecah lamunanku pagi itu. Aku segera menyeka air mata yang mengalir tanpa permisi itu. Sebelum Alan menyadari kalau aku sedang menangis. Atau ia akan menjadi khawatir jika melihatnya.


Aku menoleh ke belakang, menatapnya sebentar sambil memasang senyum tipis. "Membuat sarapan," kataku sebelum berbalik.


Alan berjalan mendekat dan berdiri di belakangku.


"Bubur lagi?" tanyanya dengan alis berkerut. Ia mengintip panci berisi cream soup yang sedang ku buat melalui celah bahu. "Aku tidak menyukainya, Alea. Mengapa kau selalu memberiku makanan lembek itu," ucapnya dengan tatapan tak suka.


Aku kembali berbalik untuk menatapnya. "Itu baik untuk tubuh dan juga pencernaanmu. Kau akan pulih lebih cepat jika mengkonsumsinya saat sedang sakit," jelasku.


Ya, menurut artikel yang pernah ku baca di internet. Cream soup memiliki manfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu makanan berbahan dasar daging, sayuran seperti jagung atau jamur serta susu itu bagus untuk pencernaan dan juga bisa membantu menghidrasi tubuh.


Alan tak mengatakan apapun lagi. Ia berbalik dan melangkah menuju meja makan. Menuangkan segelas air putih dan menenggaknya hingga tandas. Setelah itu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di sana.


Setelah supnya matang segera kutuangkan ke dalam mangkok dan membawanya ke meja makan. Bersama dengan beberapa potong roti bakar serta dua gelas coklat panas.


"Dimana kopiku, Alea?" Ia mendongak menatapku yang sedang berdiri sembari menata makanan di atas meja.


"Kau sedang sakit. Tidak ada kopi untuk hari ini dan juga besok. Lusa baru kau akan mendapatkannya. Itu juga kalau kau benar-benar sudah sembuh," kataku seraya menjatuhkan pinggul di kursi sebelah Alan.


"Kalau begitu tidak ada kopi sampai minggu depan," sahutku tanpa menatapnya. Aku mengambil sepotong roti bakar yang ku olesi dengan selai kacang. Kemudian menggigitnya dengan potongan kecil dan mulai mengunyah.


Alan mendesah, tak menyukai aturan tersebut. "Bagaimana bisa kau membuat aturan seperti itu, Alea? Aku hanya demam, mengapa kau melarangku minum kopi? Kau tahu tidak, rasanya seperti ada yang kurang saat aku tak minum kopi. Sebagian jiwaku seakan hilang," gerutunya.


Aku meliriknya yang saat itu terus menggerutu. Cih, Cecunguk ini lebay sekali. Aku mengambil sepotong roti bakar lagi. Kemudian menjejalkan ke dalam mulutnya agar ia berhenti mengeluh. "Diam dan makanlah sarapanmu. Kau tidak akan mati meskipun tak meminum kopi selama setahun."


Akhirnya Alan berhenti menyerocos. Ia mengunyah makanan yang kuberikan tadi.


"Jangan hanya makan roti, makan supnya juga," kataku saat Alan mengambil sepotong roti bakar lagi dan terlihat tak berniat menyentuh krim sup yang telah ku siapkan untuknya.


"Aku tidak menyukainya, untukmu saja," sahutnya seraya mendorong mangkuk sup ke arahku. Setelah itu ia kembali menggigit roti bakar dengan potongan besar hingga kedua pipinya terlihat menggembung.


Aku menghela nafas. Mengambil sendok, lalu mencelupkannya ke dalam sup yang masih hangat.


"Buka mulutmu," perintahku seraya menyodorkan sesendok sup ke mulut Alan.


"Sudah kubilang aku tak menyukainya." Meskipun terlihat enggan tapi Alan tetap membuka mulut dan menelan sup yang ku suapkan padanya.


"Suka ataupun tidak kau tetap harus memakannya," kataku sambil terus menyuapinya.


Tak terasa sudah hampir satu bulan aku tinggal bersamanya. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas yang setiap hari kulakukan. Membereskan rumah, mencuci bajuku dan bajunya. Membantu mengeringkan rambut Alan ketika ia selesai mandi dan juga membuatkan sarapan untuknya. Kini aku bahkan menyuapinya juga. Benar-benar seperti seorang pengasuh yang menjaga anak manja dan sedikit nakal ini.


Meskipun sedikit merepotkan. Tapi entah mengapa aku menyukainya. Aku tak merasa keberatan sama sekali.


.


.


.


.