
"Hentikan, Al ...." Napas ku terengah-engah saat mengatakan kalimat itu untuk memperingatkannya.
Namun Alan seolah tuli. Ia justru bergerak semakin liar. Dengan tubuh jangkungnya ia menekan ku ke bawah. Merapatkan tubuh kami sekaligus menutup ruang gerakku. Sementara tangan dan bibirnya terus menjelajah ke tempat yang tak seharusnya.
Mungkinkah kali ini aku akan kehilangannya? Sesuatu yang selalu aku jaga dengan susah payah?
Sungguh, aku tak ingin memberikan kesucianku pada lelaki manapun. Kecuali orang itu telah menyandang status sebagai suamiku yang sah, aku akan menyerahkannya dengan suka rela.
Tuhan maha baik, di tengah ketidakberdayaan itu, Alan akhirnya berhenti. Aku menghela nafas lega karenanya.
Detik berikutnya sesuatu yang tak terduga datang lagi. Aku membeku untuk sesaat. Syok dengan kalimat panjang yang Alan bisikan di telingaku. Sebuah kalimat yang membuat hatiku bergetar hebat.
"Menikahlah denganku, Alea. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku takut merenggut kesucianmu jika terus begini."
Saat itu waktu seolah berhenti berputar. Sama seperti detak jantungku yang juga ikut berhenti. Apa aku salah dengar? atau ... Apa aku sedang berhalusinasi?
Bagaimana bisa seorang lelaki sepertinya, yang setiap malam berteriak mengajakku tidur bersama, lelaki yang tak kenal waktu dan tempat untuk mencuri ciuman.
Namun, di saat kesempatan emas itu datang ia justru tak melakukannya.
Aku tetap bungkam. Lidahku terasa kelu hingga tak bisa berkata-kata. Hanya bisa memandang wajah tampannya yang mulus dan tanpa cela itu. Bulu matanya yang panjang dan agak lentik itu bergetar saat ia membuka mata secara perlahan.
"Alea ...." Alan berkata lagi. Suaranya sedikit serak dan dalam. Sama seperti sorot matanya saat ia menatapku. "Maukah kau menjadi istriku?" imbuhnya dengan wajah penuh harap.
Aku masih linglung saat itu. Namun segera tersadar saat Alan mengucapkan kalimat berikutnya. "Jawab aku, Alea."
"Terlalu cepat." Dua kata itu meluncur dari mulutku begitu saja. "Aku tak bisa menjawabnya sekarang, beri aku waktu untuk berpikir," lanjutku setelah melihat kerutan di dahinya.
Pernikahan merupakan hal yang sakral. Banyak hal yang harus di perhatikan dan di pikirkan dengan matang sebelum melangkah ke jenjang itu. Oleh karena itu aku tak ingin buru-buru mengambil keputusan.
Alan menekan dahiku dengan dahinya. Matanya kembali terpejam. Nafasnya yang hangat menerpa kulit wajahku saat ia berbicara. "Jangan terlalu lama, aku sulit mengendalikan diri."
Setelah mengatakan itu Alan menarik diri dan bergegas turun dari tempat tidur. Aku menatap punggungnya saat lelaki itu berjalan menuju kamar kecil. Tak lama kemudian terdengar gemericik air. Kurasa ia sedang mandi.
Dua puluh menit kemudian Alan keluar dalam kondisi sudah rapi. Alan tak memakai setelan jasnya lagi. Ia menggantinya dengan pakaian yang lebih santai. Kaos putih polos yang di padukan dengan celana jeans hitam melekat sempurna di tubuh jangkungnya. Ia kembali terlihat seperti pria nakal dengan anting hitam telinga kirinya. Meski begitu wajahnya tetap saja tampan seperti biasanya.
"Ayo keluar," ajaknya seraya menyambar kunci mobil yang teronggok di meja.
"Mau kemana?" Aku memasukan ponsel ke dalam tas, lalu bangkit berdiri dan berjalan menyusulnya.
Alan meraih telapak tanganku dan mengaitkan jemari kami sebelum menjawab, "Jalan-jalan."
Aku sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. "Ke ...?"
Alan menoleh ke arahku sebentar saat ia bertanya. "Kau maunya kemana?"
"Terserah kau saja, aku tak punya saran," kataku seraya memalingkan wajah. Kembali memperhatikan sekitar saat kami masuk lift.
Alan memiringkan kepala dan sedikit membungkuk untuk melihat wajahku. "Bagaimana kalau kita kembali ke kamar saja dan melanjutkan yang tadi? Aku masih ingin menciummu."
Seketika bulu kudukku meremang saat kurasakan empat pasang mata tertuju padaku. Seorang pria yang berdiri di sudut lift bahkan tampak menahan senyum sambil melirik ke arahku. Rasanya aku ingin menghilang saat itu juga. Terlebih saat Alan mengatakan kalimat selanjutnya dengan suara lantang. "Sayang, kenapa bibirmu sangat manis, apa kau makan permen sebelumnya?"
Sungguh, saat itu aku ingin menjahit mulutnya supaya ia berhenti bicara sembarangan. Untung saja pintu lift segera terbuka. Aku segera keluar dan berjalan dengan cepat menuju ke mobilnya.
Bersambung.....