
Sepeninggalan Alan setengah jam yang lalu aku hanya termenung seorang diri, kesepian. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan di tempat asing ini. Tidak ada siapapun dan aku gak membawa barang-barangku. Tas, dompet dan ponselku, semuanya tertinggal di rumah orang tua Kevin. Eh, ngomong-ngomong aku dimana aku sekarang. Sebelumnya aku sama sekali tak memperhatikan kondisi sekitar. Aku hanya mengikuti Alan yang membawaku kemari. Aku mengedarkan pandangan. Begitu tercengang saat menyadari dimana aku berada saat ini. Kamar presidential suite yang begitu mewah dan luas. Setahuku harga sewa kamar seperti ini sangat mahal. Permalam bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Bagaimana bisa Alan yang pengangguran menyewa tempat ini?
Panjang umur. Ditengah kebingunganku itu Alan kembali muncul di balik pintu.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya. Tangannya tampak menenteng paper bag berukuran besar yang entah apa isinya.
Aku terus memperhatikannya saat ia berjalan mendekat ke arahku. Apa dia benar-benar Alan? Mengapa terasa berbeda? Sama sekali tidak seperti Cecunguk yang ku kenal. Biasanya ia selalu mengenakan kaos dengan jaket serta celana jeans bolong-bolong di lututnya. Selain itu anting dan juga kalung rantainya, kemana perginya dua benda itu. Meskipun ia tetap tampan mengenakan setelan jas seperti sekarang, tapi rasanya agak aneh. Dan juga kamar presidential suite ini, mengapa ia bisa tinggal di sini? Sebenarnya siapa dia? Apa jangan-jangan Alan ini seorang mafia?
Aku menutup mulut, menutupi keterkejutanku sendiri.
Alan memandangku dengan dahi berkerut. "Ada apa denganmu? Mengapa terkejut seperti itu? apa kau baru saja melihat hantu?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa," sahutku.
Alan tak bertanya lagi. Ia duduk di sampingku setelah memberikan paper bag yang ia bawa padaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Bukankah kau sudah lihat?" ucapnya dengan wajah datar.
Ya, sebelum bertanya tadi aku memang mengintip isinya sebentar. Sepertinya beberapa pakaian wanita.
"Aku tidak tahu baju seperti apa yang kau suka, jadi kubawakan saja beberapa potong. Kau bisa pilih salah satu yang menurutmu cocok," imbuhnya.
"Mengapa kau membelikanku baju?" tanyaku, penasaran. Sebelum pergi ia marah-marah padaku. Sekarang ia begitu perhatian.
"Apa kau tetap ingin memakai gaun yang menjijikan itu?" ucapnya dengan suara meninggi. Ia memandangku dengan wajah kesalnya.
Cih, dia marah lagi. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu kesal?
Aku berpaling dari wajahnya. Beralih menatap pakaian yang ku kenakan. Aku membuang nafas kasar. Alan benar, gaunku memang kotor sekali. Itu semua gara-gara Alia yang menumpahkan minuman padaku tadi.
"Cepat ganti pakaianmu, mataku sakit melihatmu dengan pakaian seperti itu," ucapnya, memerintah. Ia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan menghampiri kulkas. Mengambil minuman kaleng dari mesin pendingin itu dan meminum isinya beberapa teguk.
Aku memandangnya, jengkel. Kalau begitu kenapa kau tidak pergi lagi saja! Sudah tahu sakit tapi masih terus memandangiku. Dasar Cecunguk gila!
"Berhentilah mengumpatku dalam hati," ucapnya tanpa menatapku. Ia masih berdiri memunggungi ku.
Hah, mengapa dia bisa tahu kalau aku sedang memakinya dalam hati? Apa dia bisa membaca pikiran orang lain?
Alan membalikkan badan dan memandangku lagi. "Aku tidak bisa membaca pikiran," ucapnya.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya. Ia seolah tahu apa yang ku ucapkan dalam hati.
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku. Sudah ketahuan, tidak perlu malu untuk mengakuinya, pikirku.
Alan tersenyum lebar. "Karena aku jenius," ucapnya, membanggakan diri.
"Mengapa kau masih diam di situ? Apa perlu aku yang turun tangan untuk membantumu mengganti baju!" ucapnya tak sabar.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," kataku, kesal. Aku segara bangun. Menyambar paper bag dengan kasar, lalu bergegas masuk ke salah satu kamar yang ada di ruangan itu dengan langkah sedikit pincang.
Usai mengunci pintu, aku menghampiri tempat tidur. Meletakan paper bag yang ku bawa di sana. Kemudian mulai menanggalkan gaunku. Setelah itu kembali melangkah menuju kamar mandi.
Usai membersihkan diri, aku kembali ke tempat tidur. Meraih paper bag yang teronggok di kasur dan menumpahkan isinya. Aku cukup bangga pada Alan. Entah siapa yang mengajarinya, ia cukup pandai dalam memilih pakaian. Yang ia bawa semuanya cocok dengan seleraku. Kainnya bagus, warna dan modelnya juga tidak norak. Namun saat melihat baju tidur yang ia bawa membuatku menggelengkan kepala. Semuanya terlihat seksi. Terutama yang berbahan tule itu. Aku mengangkat pakaian tidur transparan itu. Memandanginya sambil bertanya-tanya dalam hati. Apa yang ia pikirkan? Mengapa memberiku lingerie? Memangnya aku sedang berbulan madu!
Kumasukan kembali baju haram itu ke dalam paper bag. Kemudian memakai salah satu dari beberapa pakaian tersebut. Setelah itu bergegas keluar kamar.
Saat itu kulihat Alan sedang duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Beberapa menu makanan sudah tersaji di hadapannya. Ia menoleh ke arahku saat aku menutup pintu.
"Apa kau mau pergi bekerja?" tanyanya begitu melihatku.
"Kerja macam apa yang berangkat di jam segini," balasku sambil berjalan menghampirinya.
"Lalu apa yang kau kenakan sekarang? Mengapa memakai pakaian seperti itu? Bukankah seharusnya kau pakai baju tidur?" tanyanya. Ia memperhatikan blouse yang kukenakan.
Heh, mana mungkin aku mengenakan baju tidur yang kau berikan padaku itu.
"Aku tidak menyukainya, terlalu terbuka."
"Tapi aku menyukainya," ucapnya, nyengir.
"Kalau begitu kau pakai saja sendiri." Aku duduk disalah satu kursi kosong yang ada di sana, berseberangan dengan Alan.
"Aku ingin melihatmu memakai salah satunya, terutama yang warna hitam."
Warna hitam, yang di maksud pasti baju haram itu. "Jangan harap!"
Alan terkekeh. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa jadi suatu saat nanti kau akan menunjukan padaku setiap hari."
"Huh, itu tidak akan pernah terjadi," kataku, yakin. "Aku lapar, bolehkah aku makan sekarang?" tanyaku.
"Tentu saja, Alea. Makanlah yang banyak, kau perlu tenaga lebih untuk malam nanti," ucap Alan dengan senyum menyeringai.
Aku menatapnya bingung. Tenaga lebih untuk malam nanti? Apa maksudnya?
.
.
.
.