
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Alan menatapku saat melepas sabuk pengaman. Setelah itu turun dari mobil dan berjalan mengitarinya dan berdiri di sisi pintu satunya lagi dimana aku duduk.
Sejujurnya aku memang sedikit kecewa. Saat Alan mengatakan ingin jalan-jalan, yang ada dalam benakku adalah pergi ke tempat wisata seperti taman hutan atau sejenisnya.
"Mengapa membawaku ke sini?" tanyaku seraya membalas uluran tangannya.
Alan selalu seperti itu. Ia akan menjulurkan tangan dan membantuku turun dari mobil setiap kali kami pergi bersama. Itu membuatku merasa seperti seorang putri yang di perlakukan begitu istimewa oleh pangerannya.
"Bukankah wanita suka berbelanja?"
Ya, saat ini kami sedang berada di salah satu mall mewah yang ada di ibu kota. Mall tersebut merupakan pusat perbelanjaan terbesar kedua di negara ini. Beberapa brand fashion dan lifestyle internasional ternama seperti Louis Vuitton, Gucci, Nike, Chanel dan lain sebagainya ada di dalamnya.
Selain fasilitasnya yang lengkap, tempat ini bisa di bilang surganya bagi para pecinta kuliner sepertiku.
Dulu aku sangat menyukai tempat ini, tapi sekarang tidak lagi. Aku justru merasa sedikit tidak nyaman saat menyambangi tempat ini. Karena setiap kali datang kemari maka kenangan tentang seseorang akan muncul kembali.
Kurasa semua orang sudah tahu siapa seseorang tersebut. Benar, itu adalah Kevin. Lelaki yang pernah amat sangat kucintai. Lelaki yang pernah melambungkan aku dengan janji dan juga harapan setinggi langit. Namun setelah aku merasa di atas angin ia justru menghempasnya hingga ke titik terendah. Sehingga membuatku hancur berkeping-keping.
Semasa kami bersama, ia sering membawaku kemari. Menonton film di bioskop, mencicipi berbagai macam makanan dan juga membelikan beberapa barang, seperti tas dan sepatu.
Aku menggelengkan kepala, mengusir kenangan itu. Kenangan yang membuat dadaku sesak.
Lupakan dia, Alea! Lepaskan semua kenangan yang menyakitkan itu, kau pasti bisa.
Dalam hati aku mengulang kalimat itu. Mengingatkan diri sendiri agar segera move on darinya. Aku menghela nafas panjang, mengisi paru-paruku dengan oksigen sekaligus menekan rasa sakit di hati.
Setelah itu menoleh ke kiri, menatap pria yang tengah menggandeng tanganku dengan wajah riang.
"Sebenarnya aku lebih suka berkebun dari pada berbelanja," kataku kemudian.
"Nyonya Ars memang berbeda," ucapnya dengan senyum tipis. Ia terlihat agak imut saat tersenyum seperti itu. "Haruskah aku membeli lahan di kota B sebagai mas kawin?" Ia memiringkan kepala dan menoleh ke arahku. "Kau bisa berkebun setelah kita menikah nanti," lanjutnya.
Aku berpaling dari wajah tampannya. Beralih memandang lantai marmer yang tampak mengkilat di bawah cahaya neon dan menjawab dengan malas. "Ya, lalu sebulan kemudian kau menceraikanku karena istrimu menjadi dekil."
Alan terkekeh mendengar jawabanku itu. Ia melepas genggaman tangan kami. Lalu menarik pinggangku, mendekat ke arahnya. Kami jadi seperti kembar siam dengan jarak sedekat itu. Tidak, itu bukan hanya dekat tapi saling menempel satu sama lain. "Itu takkan pernah terjadi. Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kapanpun." Ia memberikan penekanan di akhir kalimat.
Aku tak mengatakan apapun. Hanya terus melangkah sambil tersenyum kecut.
Alan tiba-tiba menghentikan langkahnya, otomatis aku ikut berhenti. Aku mendongak, menatap wajahnya yang lebih tinggi beberapa senti dariku. "Ada apa?" tanyaku dengan bingung.
Keningnya berkerut saat ia bertanya. "Alea, kau tak percaya padaku?"
Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya yang tajam. "Aku haus, ayo beli minuman di sana," kataku seraya menunjuk booth yang berada di dekat eskalator. Meski terlihat enggan, tapi Alan tak menolak saat aku menarik tangannya. Ia mengikuti langkahku dengan patuh.
Aku menghela nafas lega karena Alan tak membahas masalah sebelumnya setelah kami selesai membeli minuman. Kami memasuki salah satu outlet brand fashion ternama yang ada di dalam mall tersebut.
"Sayang, cepat kemari," titah Alan.
Aku yang saat itu sedang melihat-lihat lekas berbalik dan berjalan menghampirinya. "Ada apa?" tanyaku begitu sudah sampai di sisinya.
"Sepatunya bagus, coba pakai ini."
Aku mendorong tangannya yang menyodorkan Stiletto berwarna mint itu. "Tidak, aku tidak ingin membeli sepatu," kataku seraya menggelengkan kepala.
"Tapi aku ingin membelikannya untukmu. Duduklah dan coba yang ini." Alan mendorongku ke samping dan memaksaku duduk di sofa panjang yang ada di sana.
"Tidak perlu berteriak, telingaku masih berfungsi dengan baik," ucapnya tanpa menatapku. Tatapannya jatuh ke bawah, memperhatikan kedua tangannya yang berkutat di kakiku.
"Biar aku saja Al, aku bisa melakukannya sendiri."
Bulu matanya yang lentik bergetar saat ia mendongak dan mengangkat matanya. "Apa yang akan kau lakukan? Itu sudah selesai."
Benar, saat aku melihat ke bawah sepasang stiletto itu sudah membungkus kedua telapak kakiku. Aku terus memperhatikan benda yang yang menempel sempurna di kakiku itu. Warnanya sangat cantik dan terlihat sangat cocok dengan warna kulitku. Aku bangkit berdiri, lalu berjalan beberapa langkah.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?"
Aku begitu terpesona pada sepatu dengan hak tujuh senti itu, sampai lupa kalau sedang di perhatikan oleh Alan.
"Tidak, warnanya terlalu pucat, itu tidak cocok dengan kulitku," kataku begitu sadar. Aku kembali duduk dan melepasnya.
Alan tersenyum mengejek. "Begitukah?"
Aku mengangguk. "Hm, aku sama sekali tidak menyukainya."
Alan mencondongkan tubuhnya padaku. "Alea ... apa sebelumnya tidak ada yang memberitahumu kalau kau pembohong yang buruk?" bisiknya di telingaku.
Seketika tubuhku menegang dan pipiku terasa memanas. Jadi dia tahu kalau aku berbohong? Bagaimana bisa?
Saat aku menoleh dan membalas tatapannya, senyumnya semakin lebar. Ia memalingkan wajah dan berkata pada pegawai toko yang sejak tadi melayani kami dengan malas. "Bungkuskan yang itu," ucapnya seraya menunjuk stiletto itu dengan sorot matanya. Setelah berjalan ke samping dan menunjuk beberapa sepatu lainnya lagi dan lagi.
"Yang ini juga, ini, ini dan yang di ujung sana."
Pegawai toko yang sejak tadi berdiri dan terus mengawasi kami itu terbatuk dan bertanya dengan nada meremehkan. "Maaf, apa Anda yakin ingin membeli semua itu?"
Alan berbalik dan membalas tatapan pegawai tersebut. "Ya, apa ada masalah?"
"Ini mungkin pertama kalinya Anda datang ke tempat seperti ini jadi saya maklum. Tapi, izinkan saya memberitahu Anda kalau semua barang yang ada di sini harganya tidak murah." Pegawai itu mengamati penampilan Alan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Saya khawatir harganya tidak cocok dengan keuangan Anda."
Aku mengulum bibir, menahan tawa. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu sehingga ia berani berbicara seperti itu. Sebagai seorang pramuniaga sudah sepatutnya ia melayani pelanggan dengan ramah tamah dan tak membedakan pelayanan pada setiap pelanggan, terlepas dari apa yang mereka kenakan dan apapun status sosial mereka. Itu adalah hal dasar yang wajib dimiliki oleh setiap pekerja di bidang niaga. Tapi yang di lakukan wanita ini justru sebaliknya. Ia bukan hanya bersikap tidak menyenangkan tapi juga menghina pelanggan dan sepertinya berniat mengusirnya. Mungkin karena apa yang di kenakan Alan dan aku sangat biasa sehingga ia mengira kami tak sanggup membelinya.
Salah satu sudut mulut Alan terangkat ke atas, sesaat sebelum ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan pelayan itu. "Begitukah?"
Wanita itu mengangguk. "Saya sarankan Anda berbelanja di tempat lain saja. Seperti pasar malam, misalnya. Kurasa itu lebih cocok untuk Anda dan pacar Anda yang pelakor itu."
Aku terhenyak oleh kata-katanya. Sudah beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu. Kukira semua orang sudah melupakannya. Ternyata aku salah, rupanya beberapa orang masih mengingatnya. Aku menunduk, menatap telapak tanganku yang terkepal.
Tiba-tiba sebuah tangan yang seputih susu dan sehalus beludru itu terulur, meraih wajahku dan memaksaku mendongakkan kepala.
"Bukankah aku sudah melarangmu agar tak menundukkan kepala di hadapan orang lain selain diriku? Mengapa kau sangat tidak patuh?"
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Alan tidak akan mendapatkan penghinaan dan perlakuan buruk seperti tadi jika ia tak berhubungan denganku. Ya, sejak awal memang salahku. Hari ini dan juga kedepannya mungkin aku akan terus menyeretnya ke dalam masalah.
Wajah Alan yang seputih salju itu berubah memerah. "Kau tidak bersalah, mengapa meminta maaf?" ucapnya dengan lembut. Ia membungkuk, lalu mendaratkan kecupan di keningku selama beberapa detik. Setelah itu kembali berdiri tegak dam berbalik menghadap wanita itu dengan tatapan tajam "Panggil managermu!" titahnya dengan suara tegas dan lantang. Keramahan yang biasa melekat di wajahnya sirna sudah. Digantikan oleh aura dingin yang bisa membekukan siapa saja.
Meski begitu wanita itu tampak tak kenal takut. Ia berbalik dan melangkah meninggalkan kami dengan angkuh.
Bersambung...