
Pagi ini aku bangun lebih cepat. Setelah mencuci muka dan berkumur, aku bergegas turun ke bawah. Menuju dapur dan mulai membuat sarapan.
Aku terkesiap saat sepasang tangan tiba-tiba merayapi pinggangku dan berakhir melingkar di perutku.
"Mengapa masih saja kaget? ini bukan pertama kalinya aku memelukmu," ucap Alan seraya mendaratkan dagunya di bahuku.
Benar, ini memang bukan pertama kalinya ia memelukku dari belakang seperti barusan. Entah, sudah berapa kali ia melakukannya. Kurasa sudah tak terhitung jari. Tak peduli mau di rumah atau di kantor sekalipun, ia akan memelukku setiap kali ada kesempatan. Meski begitu aku masih saja kaget setiap kali ia tiba-tiba melakukannya, masih belum terbiasa.
"Apa kau terbang? Mengapa aku tak mendengar suara langkah kaki saat kau berjalan kemari?" Aku berjinjit ingin mengambil selai coklat di rak penyimpanan atas.
"Kau terlalu serius saat memasak," sahut Alan. Tangannya terulur ke atas, membantuku mengambilkan selai itu saat tanganku tak menjangkaunya meskipun sudah melompat.
"Terima kasih," kataku, tersenyum. Sedikit mendongak untuk melihat wajah tampannya.
Lagi-lagi aku terkesiap saat Alan tiba-tiba menarik tubuhku. Membawaku ke dalam dekapannya, lalu mendaratkan kecupan kilat di bibirku.
"Lakukan seperti ini saat kau berterima kasih padaku," ucapnya setelah melepas ciumannya.
Aku masih membeku. Jantungku berdetak tak karuan. Sangat cepat hingga terasa seperti akan meledak. Alan terkekeh melihat ekspresiku yang mungkin terlihat idiot. Mulut terbuka dengan mata terbelalak. Aku lekas memalingkan wajah dan menutup mulut begitu tersadar.
"Apa kau malu?" tanyanya, masih tertawa.
Aku menggeleng cepat, menyangkalnya. Meskipun sebenarnya memang malu, malu sekali. "Tidak."
"Begitukah?" ucapnya tak percaya. Tangan kirinya terulur, membelai pipiku sebentar lalu memutar wajahku agar menghadapnya. Aku menunduk, tak ingin menatapnya.
"Kau tidak malu tapi pipimu memerah, detak jantungmu juga terdengar sangat cepat, seolah ingin melompat keluar."
Bisa kurasakan hembusan nafasnya saat Alan mendekatkan wajahnya padaku. Memiringkan kepala dan bersiap mencium ku lagi.
Aku membekap mulut sebelum bibirnya menyentuh bibirku.
Alan menjauhkan wajahnya lagi. Dahinya tampak mengernyit. "Kenapa? Apa aku tidak boleh menciummu?" tanyanya. Wajahnya berubah masam.
Aku menggeleng. "Bukan begitu. Aku belum gosok gigi," sahutku. Masih membungkam mulut dengan telapak tangan.
Seketika ekspresinya berubah ceria lagi. "Tidak apa-apa, aku juga belum menggosok gigi," ucapnya seraya menyingkirkan telapak tanganku. Setelah itu mendekatkan wajahnya lagi.
Kami kembali beradu bibir. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Aku memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan dan kelembutan bibirnya. Begitu pula dengan Alan, matanya juga terpejam saat ******* bibirku. Ia berhenti sejenak, memberikan kesempatan untukku mengambil nafas. Setelah itu kembali mengulanginya hingga beberapa menit. Untung saja tangan Alan menopang pinggang dan punggungku. Jika tidak mungkin aku sudah terjengkang ke belakang akibat tekanan dari tubuhnya yang terus mendorongku.
Aku kembali membuka mata. Sesaat setelah Alan melepas bibirku. Kulihat matanya masih terpejam. Nafasnya masih memburu, sama sepertiku yang juga terengah-engah.
Namun, tak lama kemudian mata hitam kecoklatan itu kembali terbuka. Ia memandang lekat wajahku dengan kedua telapak tangan di pipi, merengkuh wajahku.
"Aku mencintaimu, Alea," ucapnya. Ia mengecup bibirku sekali lagi. Setelah itu mendekap tubuhku dengan erat.
Aku melingkarkan kedua tangan di pinggangnya, membalas pelukannya.
"Mulai hari ini kau tidak perlu memesan taksi online lagi, kita berangkat ke kantor bersama-sama," ucapnya, kemudian.
"Biarkan saja mereka tahu, aku memang tak berniat menyembunyikan hubungan kita," jawabnya, santai.
"Ada apa? Sepertinya kau keberatan? Kau tidak mau berangkat bersamaku? Atau kau tidak ingin orang lain tahu hubungan kita?"
Alan kesal lagi. Aku baru mengerti kalau ia memiliki tempramen yang sangat buruk. Sedikit-sedikit kesal, sedikit-sedikit marah kalau keinginannya tak terpenuhi.
Aku merasa sedikit aneh saat memikirkan hal itu. Sepertinya ada yang salah. Seharusnya aku kan yang bersikap begitu? Sedikit-sedikit kesal lalu ngambek. Seperti wanita-wanita lain pada umumnya. Sebagai wanita aku merasa gagal karena tak bisa bersikap seperti
Itu.
"Bukan seperti itu," jawabku, kemudian.
"Kalau bukan seperti itu, lalu seperti apa, Ale-Ale?" Alan mencubit daguku.
Aku bukan bayi tapi Alan seringkali tampak geregetan saat melihat wajahku. Selain suka mencubit dagu, ia sering mencubit pipi dan juga pernah menggigit punggungku.
Aku mendongak, menatapnya. "Berhenti memanggilku seperti itu!" protesku, kesal.
"Kalau begitu kau ingin kupanggil apa? Sayang, Cinta, atau Baby?" tanyanya sambil memasang wajah imut.
Aku terkekeh. "Jangan seperti itu juga. Itu menggelikan."
"Lalu panggilan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Alan, serius.
"Seperti biasanya saja. Alea atau sekertaris Lea, itu saja."
Alan menggeleng. "Tidak. Kau pacarku sekarang, kenapa aku harus memanggilmu sekretaris Lea? aku tidak mau memanggilmu seperti itu."
"Ya sudah, terserah kau saja. Yang penting jangan menyebutku Ale-Ale lagi," kataku, memperingatkan.
"Baik, Nyonya Ars," ucap Alan, tersenyum.
Aku berdecih saat ia menyebutku seperti itu. Setelah itu berjalan menuju meja makan sambil membawa dua porsi roti panggang dan semangkuk buah-buahan yang sudah kupotong kecil-kecil.
Alan mengekor di belakangku dengan segelas jus strawbery dan secangkir kopi hitam kesukaannya.
bersambung ...
.
.
.
.