Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 30



Alan sudah seperti tukang ojeg pribadiku. Kemanapun aku pergi ia akan mengantar dan menjemputku. Kecuali saat aku bersama Kevin. Alan tak pernah meminta bayaran. Ia juga selalu menolak jika aku memberinya uang. Sebagai gantinya ia memintaku mentraktirnya makan malam.


"Hari ini mau kemana?" tanya Alan.


"Ke Margasari," kataku seraya naik ke motornya.


Alan memutar kepalanya sedikit, menoleh ke arahku yang duduk di belakangnya.


"Margasari mana? Kota sebelah?" tanya Alan.


Aku mengangguk. "Ya," kataku, singkat.


"Mau apa di sana? Berladang?"


Margasari merupakan kawasan perbukitan yang sebagian wilayahnya merupakan perkebunan teh dan juga sayur mayur.


"Tak bisakah tidak usah banyak tanya?" kataku, geram. Laki-laki ini kenapa cerewet sekali.


"Tapi itu jauh sekali," sahut Alan.


Jauh sekali kepalamu! Hanya menempuh perjalanan satu setengah jam saja.


"Jadi kau mau mengantarku tidak?" tanyaku. "Kalau kau tidak mau aku bisa cari kendaraan lain," kataku, menambahkan. Aku kembali turun dari motornya. Kemudian berdiri memunggunginya, kesal.


"Oke. Aku akan mengantarmu," ucap Alan. "Naiklah, ayo berangkat sekarang," ajaknya.


Aku tersenyum penuh kemenangan. Entah Alan yang bodoh atau aku yang terlalu pintar. Terkadang laki-laki itu bersikap penurut. Sehingga aku kadang memanfaatkannya.


Usai memakai helm dan naik ke motornya kembali, Alan mulai menancap gas. Meninggalkan halaman tempat tinggal kami dan bergerak membelah jalanan. Alan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Harus kuakui kemampuan mengemudi Alan memang luar biasa. Sangat mahir hingga terlihat seperti seorang pembalap profesional yang mampu meliuk-liuk di jalanan padat sekalipun. Berkat keahliannya itu kami sampai tujuan lebih cepat. Yang seharusnya di tempuh selama satu setengah jam kini hanya membutuhkan waktu satu jam lima menit saja.


"Ini rumah siapa, Alea?" tanya Alan ketika kami baru tiba. Ia mengedarkan pandangan. Memperhatikan sebuah mansion yang membentang luas di hadapannya.


*Rumah kedua orang tua pacarku. Dua orang tua yang hampir menjadi ayah dan ibu mertuaku.


"Rumah milik mertua adikku," kataku, menjelaskan.


"Mengapa kau datang kesini? Ada urusan apa?" tanyanya, lagi.


"Kau ini kenapa kepo sekali, Al? Apa kau ini benar-benar kurang kerjaan? Hingga ingin tahu semua urusanku?"


Alan nyengir, padaku. "Benar!" ucapnya, mengakui. "Kau tahu sendiri kalau aku ini pengangguran. Jadi aku memang kurang kerjaan," imbuhnya, senang.


Aku menatapnya sambil menggelengkan kepala. Dia memang gila 'kan? Hanya dia satu-satunya pria yang merasa bangga saat menyebut dirinya pengangguran*.


"Malam ini aku tidak pulang, Al. Kau tak perlu menunggu atau pun menjemputku," kataku sebelum pergi.


"Oke," sahutnya.


"Oh iya, Al. Ini untuk beli bensin," kataku. Menyodorkan lima lembar uang kertas pecahan seratus ribu padanya. Bagaimana pun perjalanan kali ini cukup jauh. Sudah pasti menghabiskan bahan bakar yang tidak sedikit. Ia juga pasti lelah karena terlalu lama mengemudi.


Sama seperti sebelum-sebelumnya. Alan kembali menepis tanganku yang memegang uang tersebut. "Kau pikir aku tukang ojeg?" ucapnya. Ia menatapku, marah.


"Bukan seperti itu maksudku, Al," kataku selembut mungkin. Masih berusaha sabar.


"Lalu apa maksudnya? Apa karena kau mengasihani aku?" tanyanya lagi. Ia menatapku tajam. Seolah aku telah menghinanya.


Aku meremas telapak tangan, geram. "Untuk apa aku mengasihanimu. Kau itu laki-laki menyebalkan, tak perlu di kasihani," bentakku setengah berteriak. Karena sudah tak tahan dengan tuduhannya yang mengada-ngada akhirnya kekesalanku meledak juga.


"Kenapa kau berteriak padaku? Kau pikir aku tuli?" ucapnya ikut berteriak.


"Kau tidak tuli tapi kau adalah orang selalu berprasangka buruk pada orang lain. Berpikir berlebihan dan terkadang tak masuk akal," teriakku, marah.


"Jika tidak mau menerimanya ya sudah. Tidak perlu marah dan berteriak padaku," kataku, kesal. Aku melangkah pergi. Meninggalkannya tanpa pamit terlebih dulu.


Masa bodo dengannya mau motornya mogok di jalan kek, atau ia kelaparan lagi aku tak peduli. Niatku hanya ingin membantunya karena semalam ia bilang tak memiliki uang bahkan sampai kelaparan. Tapi ia malah marah dan menuduhku yang tidak-tidak.


Aku berjalan memasuki halaman rumah mewah itu. Cukup terpana dengan dekorasi yang sudah terpasang dengan indah. Tirai-tirai berwarna putih yang menggantung di tenda. Bermacam-macam aneka bunga tersebar di setiap sudut. Sepertinya seluruh persiapan acara tujuh bulanan Alia sudah selesai seratus persen.


Kedatanganku di sambut oleh mama Nadia. Ibu Kevin yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.


"Alea ... Akhirnya kamu datang, Nak. Mama rindu sekali," ucapnya saat kami bertemu. Aku menjabat tangannya, mengecup punggung telapak tangannya yang halus. Setelah itu menghambur ke dalam pelukannya.


"Lea juga rindu dengan Mama," kataku.


Kami saling melepas pelukan. Mama Nadia menggandeng tanganku. Kemudian membawaku ke sofa di ruang tamu. Kami duduk di sana. Sebelumnya aku menyalami ayah Kevin dan juga kedua orang tuaku terlebih dulu. Ayah dan ibuku sudah tiba di tempat ini sejak kemarin malam.


"Ku datang dengan siapa, Nak?" tanya ibuku.


Aku menoleh, menatapnya. Ibuku sudah terlihat rapi. Mengenakan kebaya berwarna salem. Warna yang sama seperti yang di pakai mama Nadia. Begitu juga dengan papa Ibra dan ayahku. Keduanya memakai jas berwarna senada. "Tadi di antar sama temanku, Bu," kataku.


"Lalu dimana temanmu itu? Kenapa tidak di suruh masuk sekalian."


"Temanmu itu laki-laki atau perempuan, Alea?" tanya papa Ibra.


"Laki-laki, Pa," sahutku.


"Wah sepertinya sebentar lagi kita bakalan punya mantu lagi, ya, Pak Santoso," ucap papa Ibra pada ayahku.


"Jadi kau sudah punya pacar, Nak? Kenapa tidak bilang pada ayah? Pantas saja waktu itu kau langsung menolak ketika ayah ingin mengenalkanmu dengan Azam," ucap ayahku.


"Laki-laki yang mengantar tadi bukan pacar Lea, Yah ... Pa. Kami benar-benar hanya berteman," bantahku.


"Kalau begitu pasti teman lelakimu itu sangat menyukaimu, Lea. Dia bahkan menyempatkan diri untuk mengantarmu dulu padahal dia ada urusan," ucap papa Ibra.


Aku menanggapinya hanya dengan senyuman.


"Oh iya Lea, sekarang sudah waktunya ganti baju dan berdandan. Dua jam lagi acaranya akan di mulai," ucap ibuku, mengingatkan.


"Baiklah, Bu." Aku bangkit berdiri. " Kalau begitu Lea permisi, Ayah ... Ibu ... Papa Ibra," kataku sebelum pergi.


"Silakan, Nak," sahut Papa Ibra. Sementara Ayah dan Ibuku hanya menganggukkan kepala.


Bersama mama Nadia aku menaiki anak tangga, menuju salah satu kamar di lantai dua. "Kenapa kita ke sini, Ma?" tanyaku ketika kami masuk ke sebuah kamar yang merupakan kamar milik Kevin. Kami duduk berjejer di tepi tempat tidur.


"Karena Alia sedang hamil jadi ia dan Kevin sementara tidur di kamar tamu, di lantai bawah. Supaya Alia tidak perlu naik turun tangga. Sementara kamar tamu yang lainnya di isi oleh kedua orang tuamu dan juga keponakan Mama. Jadi kamar yang tersisa hanya ini saja, Alea tidak keberatan 'kan tidur di kamar Kevin?" tanya mama Nadia. Ia memegang kedua tanganku.


Aku tersenyum. "Tentu saja, Ma. Alea bisa tidur dimana saja. Kalau tidak ada kamar kosong pun Lea bisa tidur di ruang tamu," kataku, tertawa.


Mama Nadia ikut tertawa. "Kamu ini, anak gadis tidak boleh tidur di luar, bahaya," ucapnya.


"Sekarang Alea cepat ganti baju dan juga dandan yang cantik, ya, Mama tunggu di bawah," imbuhnya.


"Oke, Ma," kataku. Mama Nadia mengusap kepalaku sebentar. Setelah itu berlalu pergi.


Begitu pintu tertutup aku lekas berdandan. Mengaplikasikan foundation, bedak, lipstik dan lain-lain di wajahku. Kali ini aku memakai riasan tipis saja. Sengaja kulakukan agar tak terlalu mencolok. Selain itu aku juga tak suka dandanan yang menor. Selesai dengan urusan make up aku beralih ke rambutku. Menyisirnya dengan rapi, setelah itu menggulungnya ke atas serta menyematkan sirkam berhiaskan mutiara yang telah di sediakan oleh mama Nadia.


Riasan dan juga rambut sudah selesai. Kini tinggal mengganti pakaian. Aku bangkit berdiri, melangkahkan kaki menghampiri tempat tidur. Di sana teronggok atasan kebaya berwarna biru muda yang di padukan dengan rok batik. Kebaya itu sangat cantik. Tidak terlalu mewah tapi terkesan elegan. Sesuai dengan seleraku. Aku lekas menanggalkan pakaianku. Setelah itu menggantinya dengan kebaya tersebut.


Aku tersentak kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Untung saja saat itu aku sudah berpakaian lengkap. Tinggal memasang beberapa kancing saja.


"Maaf, aku tidak tahu ada orang di kamarku," ucap seseorang yang suaranya sudah sangat ku kenal.


Aku segera berbalik. "Mas Kevin," kataku saat melihat Kevin yang berdiri di ambang pintu.


Kevin mengangkat wajahnya yang tertunduk. "Lily," ucapnya, terkejut. Ia masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu. Ia berjalan menghampiriku.


"Kau cantik sekali, Ly," ucapnya, memuji. Ia menatap lekat wajahku.


"Mas Kevin kenapa kemari?" tanyaku.


"Aku ingin mengambil jam tanganku," sahutnya.


"Oh ya sudah sana cepat ambil dan keluarlah," pintaku. Aku tak ingin tertangkap basah berada satu kamar dengannya. Jika itu sampai terjadi situasinya pasti akan jadi runyam.


"Baiklah," ucap Kevin. Ia berjalan ke ruang ganti yang juga merupakan tempat penyimpanan barang-barang pribadinya seperti sepatu dan jam tangan. Setelah mendapatkan apa yang di cari, ia bergegas keluar. Namun, selang beberapa detik kemudian ia kembali masuk.


"Ada apa? Kenapa balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?" tanyaku saat ia menutup pintu.


"Iya. Ada yang ketinggalan," sahut Kevin. Ia berjalan ke arahku.


"Apa?" tanyaku.


"Yang ini ketinggalan." Tiba-tiba Kevin menarik tubuhku hingga aku jatuh dalam pelukannya. Mataku membelalak saat menyambar bibirku. Namun tanpa sadar perlahan aku menutup mata, ikut hanyut dalam cumbuannya.


Aku kembali membuka mata saat Kevin melepas pagutannya. "Sekarang aku akan pergi," ucap Kevin seraya mengecup pipiku. Setelah itu berlalu pergi.


"Oh iya, jangan lama-lama, aku menunggumu di bawah," ucapnya setengah berbisik. Setelah mengatakan itu ia benar-benar pergi.


Aku tersenyum, bahagia. Aku membalikan badan dan bercermin. Kurapikan lagi lipstik ku yang agak belepotan akibat ulah Kevin barusan.


"Kevin ... Mama Nadia, aku datang," gumamku setelah selesai. Aku berjalan keluar kamar dan bersiap menemui yang lainnya di bawah.


.


.


.


.