
Ekspresi Jordi berubah menegang. Ia menunduk sebentar, menatap jemarinya yang masih memegang stir. Kudengar ia menarik nafas panjang, lalu menghembuhkannya perlahan sambil mengubah posisi duduknya. Namun tak sampai menggeser pinggulnya. Ia hanya sedikit menyerong kan tubuhnya ke kiri, menghadap ke arahku.
"Alea ...," panggilnya dengan suara lembut.
"Ya," sahutku, makin penasaran.
Aku sedikit kaget saat tangan Jordi meraih kedua telapak tanganku. Pria itu mengangkat wajah, menatapku. Aku pun membalas tatapannya.
"Sudah sejak lama aku menyimpan rasa padamu, Le. Bahkan saat kau masih bersama mantan kekasihmu," ucapnya.
Aku terdiam. Sudah bisa kutebak apa yang akan Jordi katakan. Meskipun pria itu belum menyelesaikan kalimatnya.
"Aku menyukaimu, Alea," ucapnya kemudian. Yang sesuai dugaanku. Mudah sekali bagiku untuk menebak perkataan selanjutnya yang akan di lontarkan Jordi. Ia pasti akan memintaku menjadi kekasihnya. Namun aku tetap diam, menghargainya.
"Maukah kau menjadi kekasihku? Aku berjanji tidak akan menyakiti ataupun menghianatimu."
Aku menarik tanganku dari genggamannya, perlahan. "Maafkan aku, Di--aku tidak bisa."
Jordi tampak kecewa. "Kenapa, Le? Bukankah katamu aku orang baik?" tanyanya, ingin tahu.
"Ya. Itu memang benar, Di. Kau salah satu orang baik yang kukenal," jawabku membenarkan.
"Lalu kenapa kau tak mau menerimaku, Le?" tuntut Jordi meminta jawaban. Aku hanya bisa terdiam. Tak mungkin aku mengatakan kalau aku masih menjalin hubungan dengan Kevin. Tak mungkin juga aku mengatakan secara jujur kalau aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Aku takut melukainya jika harus berterus terang kalau aku sama sekali tak menyukai dirinya. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman. Tak lebih dari itu. Meskipun terkadang kami jalan berdua.
"Apa karna aku tak sekaya mantan kekasihmu dulu? Sehingga kau tak mau menerima cintaku, Lea?" tanyanya, lagi. Setelah melihatku hanya diam.
Mataku membelalak. Tak terima dengan tuduhan yang dikatakan Jordi padaku. Ya, ucapannya barusan seolah mengatakan kalau aku ini wanita yang hanya menerima seseorang karna harta.
"Apa maksudmu, Di? Kau pikir aku ini wanita matre?" kataku marah.
"Aku tak menyangka--kau bisa berkata seperti itu padaku." Aku lekas mengambil tas dan ponsel yang kuletakan di dasbor. Lalu membuka pintu dan segera turun dari mobil Jordi. Mengabaikan ucapan Jordi yang menahanku. Aku terus melangkahkan kaki, berjalan menuju gang dengan perasaan jengkel.
"Lea, tunggu," teriak Jordi. Pria itu ikut turun dari mobilnya dan berlari mengejarku.
"Maafkan aku, Lea. Aku tak bermaksud menuduhmu seperti itu," ucapnya saat ia sudah berada di sisiku.
Aku menatapnya emosi. Bagaimana mungkin Jordi mengatakan tak bermaksud menuduhku matre. Sedangkan jelas-jelas ia sudah mengatakannya langsung. "Aku lelah--bisakah kau pergi sekarang?"
"Ok. Aku akan pergi. Tapi kumohon--maafkan aku, Lea."
Aku memejamkan mata sebentar, berusaha meredam emosiku yang masih memuncak. "Baiklah--aku memaafkanmu," kataku dengan terpaksa.
"Terima kasih, Lea. Sekali lagi aku minta maaf ."
"Boleh aku pergi sekarang?" tanyaku.
"Tentu, Lea. Silahkan," sahut Jordi.
Aku kembali melangkahkan kaki, menyusuri gang kecil yang sudah biasa kulewati. Meninggalkan Jordi yang entah kini sudah kembali ke mobilnya atau ia masih berdiri menatap kepergianku. Rasa kesal masih menyelimutiku. Aku tak ingin menoleh ke belakang meskipun hanya sekedar mengeceknya.
Tak lama kemudian kudengar suara langkah kaki tak jauh di belakangku. Untuk apa Jordi mengikutiku? Apa ucapanku barusan masih belum jelas, batinku kesal.
Aku menghela nafas berat, bersiap menyemprot laki-laki itu agar ia berhenti membuntutiku. Akan tetapi saat membalikan badan, aku tak menemukan Jordi di sana. Melainkan sosok pria lain. Sesosok pria yang terus menerus menatapku saat kami tak sengaja bertemu di Mall. Untuk ketiga kalinya aku kembali bertemu dengan Cecunguk itu. Berandal itu berjalan kian mendekat ke arahku. Ia tersenyum aneh saat aku memandangnya. Kemudian dengan langkah panjangnya Ia terus mengikis jarak diantara kami.
Aku segera berbalik. Kembali berjalan dengan langkah terburu-buru. Bahkan aku berjalan setengah berlari untuk menghindarinya. Semakin cepat aku melangkah, semakin cepat pula ia mengejarku.
Jantungku berdegup kencang saat berbelok di pertigaan gang. Jalan yang kulalui ini lebih sempit dari sebelumnya dan sangat minim pencahayaan, membuatku takut. Ketakutanku kian bertambah kala berandal itu berhasil menyusul dan memegang pundakku.
Sontak aku membalikan badan dan mundur ke belakang, hingga tubuhku membentur dinding pembatas gang kecil itu. Aku memejamkan mata, menutupi sebagian wajahku dengan tas yang kubawa. "Tolong jangan sakiti aku," pintaku memohon. "Ini--ambil saja tasku. Semuanya ada di dalam uang beserta ponsel milikku. Ambil saja semuanya asal jangan menyentuhku," kataku dengan ketakutan luar biasa.
Bersambung...
.
.
.
Jangan lupa like dan votenya biar author makin semangat nulis. Tap ❤nya juga biar ngga ketinggalan update terbaru. Terima kasih.