
Sore itu, sekitar pukul 16.45 waktu belanda. Sebuah pesawat mendarat di bandar udara schiphol. Bandara utama di belanda yang terletak di selatan Amsterdam, persisnya di gemeente Haarlemmermeer.
Seluruh penumpang serta awak kabin tampak turun dari pesawat. Salah satu dari penumpang itu adalah kevin. Laki-laki berperawakan tinggi dan juga kekar itu berjalan menyusuri lobi utama bandara tersebut. Wajahnya tampak lelah dan tidak ramah. Maklum saja ia baru saja menempuh perjalanan selama kurang lebih empat belas jam. Kendati demikian ia masih tetap terlihat tampan.
"Berapa lama perjalanan menuju hotel?" tanya Kevin.
"Sekitar dua puluh lima menit, Pak," jawab laki-laki yang berjalan di sisi Kevin. Laki-laki itu bernama Hendri. Seorang personal assistant eksekutif yang sudah lama mengabdi di PJ Group, perusahaan yang kini di kelola Kevin.
Awalnya Hendri bekerja untuk Putra Sanjaya, ayah Kevin yang merupakan pendiri sekaligus pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut. Namun kini bosnya itu sudah pensiun dan digantikan oleh anaknya. Sehingga kini ia bekerja untuk Kevin. Meskipun usianya tak lagi muda tapi Hendri masih terlihat bugar dan juga gesit. Ia mampu mengimbangi bos mudanya itu.
"Apa tak ada hotel di dekat sini?" tanya Kevin tampak tak sabar.
"Ada. Tapi hotel di sekitar sini tipe yang tidak di sukai Pak Kevin. Jadi aku memilih hotel lain yang fasilitasnya lebih lengkap dan letaknya juga tak terlalu jauh dengan perusahaan yang akan kita temui besok," tutur Hendri.
Kevin mendesah. Kesal dengan keadaan tersebut. Ia memang tak suka menginap di hotel yang fasilitasnya tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun di sisi lain ia merasa sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Meskipun perjalanan menuju hotel hanya menyita waktu kurang dari setengah jam tapi rasanya begitu lama. Karna tak ada pilihan lain mau tak mau ia harus menuruti ucapan asisten pribadinya itu.
"Tunggu di sini sebentar, Pak. Saya akan mencari taksi untuk Anda," ucap Hendri pada bos mudanya itu.
Kevin patuh. Ia berhenti melangkah. Kemudian menjatuhkan pinggulnya di kursi tunggu yang di sediakan oleh pengelola bandara tersebut. Sementara Hendri terlihat menghampiri loket pemesanan taksi yang ada di bandara itu.
Sambil menunggu, Kevin mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Memencet tombol power untuk menghidupkannya dan mematikan mode pesawat. Beberapa notifikasi langsung masuk ketika ponsel tersebut setelah kembali terhubung dengan jaringan sekitar. Ia lekas memeriksanya satu persatu. Yang pertama ia cek adalah pesan masuk yang di kirimkan oleh lima orang berbeda. Salah satu dari pengirim pesan tersebut adalah Alea, kekasihnya yang biasa ia panggil dengan sebutan Lily itu. Ia segera mengetuk layar tersebut untuk membuka pesan yang di kirimkan kekasihnya itu. Kedua sudut bibir Kevin terangkat ke atas. Ia tersenyum saat membaca pesan yang di tulis oleh Alea.
[Sayang]
[Kau sedang apa?]
[Sudah makan?]
[Bukankah aku bodoh? Padahal sudah tahu Mas Kevin tidak bisa memakai ponsel saat di pesawat. Tapi aku tetap mengirim pesan padamu]
[Baru beberapa jam kita berpisah, tapi aku sudah merindukanmu]
[Jangan lupa makan]
[Kabari aku jika sudah sampai]
Itulah bunyi pesan yang di kirim Alea secara beruntun. Saat siang hingga menjelang malam. Yang terakhir di kirim satu jam yang lalu. Alea juga mengirimkan foto makan siangnya serta beberapa emoticon peluk dan cium. Dan yang terakhir ia mengirimkan sebuah foto selfie dirinya saat berada di kantor.
Kevin tersenyum, memandangi foto yang di kirim kekasihnya itu. "Aku juga merindukanmu, Ly," gumamnya.
Setelah puas menatap foto itu. Kevin lantas mengetikan sesuatu di sana. Mengirim balasan.
[Aku baru saja tiba di bandara, Ly]
[Aku makan dengan baik. Meskipun makanannya kurang enak tapi aku tetap menghabiskannya, sesuai perintahmu]
Pesan itu sudah tersampaikan. Namun masih centang hitam. Belum terbaca. Ia menunggu beberapa saat, berharap Alea lekas membaca dan membalas pesannya.
Benar. Tak berselang lama Alea membaca pesannya. Ia terlihat sedang mengetikan sesuatu. Kevin menunggunya dengan sabar.
[Syukurlah] balas Alea pada pesan pertama Kevin.
[Anak pintar] tulisnya lagi pada baris kedua.
Baru saja Kevin hendak menekan ikon gagang telepon untuk menghubungi Alea, Namun Hendri keburu datang.
"Mari, Pak. Taksinya sudah siap," ucap Hendri.
Kevin pun mengurungkan niatnya. Ia bergegas menuju taksi yang sudah menunggu. Setelah masuk ke dalam mobil, ia kembali mengetik pesan pada Alea. Memberitahunya kalau ia sedang dalam perjalanan menuju hotel. Setelah itu kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Baik, Pak," sahut Hendri yang duduk di jok depan. Bersebelahan dengan supir taksi.
Taksi pun mulai bergerak maju. Meninggalkan bandara dan bergegas menuju hotel.
Supir taksi itu membawa kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesuai dengan apa yang di perintah Hendri.
Hendri melakukannya dengan maksud agar Kevin lebih nyaman dan waktu tidurnya tidak terganggu. Meskipun ia sendiri tak yakin bosnya itu benar-benar tertidur atau hanya sekedar memejamkan matanya saja.
Setengah jam telah berlalu taksi itu kini memasuki area hotel. Kemudian berhenti di dekat pintu utama hotel bintang lima itu.
Hendri melepas seatbeltnya. Kemudian turun dari mobil. Berjalan menuju resepsionis untuk meminta kunci kamar yang sudah ia pesan sebelumnya, secara online.
Setelah mendapatkannya, ia kembali melangkah keluar untuk menjemput bosnya yang masih terlelap di dalam taksi.
Namun baru saja sampai di ambang pintu ia melihat Kevin justru sedang berjalan ke arahnya. Dengan menyeret dua koper yang ada di kedua tangannya. Hendri segera berlari menghampirinya dan meminta koper tersebut.
Kevin dan Hendri menaiki lift, menuju ke lantai atas dimana dua kamar hotel yang dipesan Hendri ada di sana. Pintu kembali terbuka di lantai lima. Keduanya bergegas keluar dan menuju ke kamar masing-masing.
Begitu masuk kamar, Kevin langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai berpakaian Kevin merebahkan tubuhnya di kasur berukuran king Size itu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Kemudian menghubungi Alea.
"Apa dia sudah tidur?" gumamnya saat panggilan tersebut tak kunjung di angkat. Deringan pertama dan kedua tidak di angkat. Hingga akhirnya setelah dering ketiga akhirnya tersambung. Namun ia terkejut karena yang mengangkat telepon tersebut bukan Alea. Melainkan orang lain yang entah siapa ia tidak tahu. Yang pasti itu suara seorang pria.
"Siapa kau?" Ucap Kevin menginterogasi. Ia langsung bangun. Kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Mengapa bertanya padaku? Kau yang menelponku, seharusnya kau tahu siapa yang kau hubungi," sahut si pria di seberang sana dengan suara parau.
"Dimana Lily, berikan hp itu padanya?"
"Lily? Siapa Lily? Di sini tidak ada yang namanya Lily, sepertinya kau salah sambung, Bro," sahut pria itu lagi.
Kevin semakin bingung. Mungkinkah ia keliru? Ia kembalj mengecek layar ponselnya. Memeriksa apakah ia memang salah sambung? Namun saat ia perhatikan lagi tak ada yang salah. Yang ia hubungi memang Alea. Tapi kenapa yang menjawab seorang pria. Ia mulai curiga. Mungkinkah kekasihnya itu selingkuh?
"Dimana Alea?" ucap Kevin setelah terdiam beberapa saat.
"Kau mengenal Alea? Dia ada di sampingku, kenapa?"
Wajah kevin tampak memerah. Dadanya terasa bergemuruh. "Berikan hp itu padanya, aku ingin berbicara dengannya," titah Kevin.
"Maaf, dia sedang tidur. Aku tidak tega membangunkannya, sepertinya ia kelelahan."
Kevin memutuskan sambungan telepon. Pikirannya sudah kemana-mana. Ia meremas ponselnya kemudian membantingnya ke lantai. Ia mengacak rambutnya. Kemudian mengerang. Marah, kecewa dan juga sedih. Semuanya bercampur menjadi satu. "Mengapa kau mengkhianati aku, Ly," gumamnya.
Sementara itu di tempat berbeda. Alan terlihat menggerutu. Ia kesal karena orang asing itu menelponnya tengah malam dan mengganggu tidurnya. Dengan mata tertutup ia meletakan kembali ponsel Alea di atas nakas.
Ya, yang mengangkat panggilan tersebut adalah Alan. Laki-laki itu mengira yang berdering adalah ponselnya. Ia bahkan menjawab pertanyaan Kevin dengan mata tertutup dan dalam keadaan setengah sadar. Ia kembali melanjutkan tidurnya. Meringkuk di bawah selimut yang sama dengan Alea.
.
.
.
.