
"Kita mau kemana, Al?" tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan. Sebelumnya Alan menyebutkan rumah utama, tapi aku masih tidak tahu rumah siapa yang dimaksud itu.
"Ke kota M, menemui keluargaku," jawab Alan yang saat itu duduk di jok belakang, bersebelahan denganku.
Aku memalingkan muka, memandang keluar jendela dengan jantung berdebar kencang. Telapak tanganku basah oleh keringat. Belum-belum aku sudah mulai gugup dan panik. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Seperti apakah keluarganya? Akankah mereka menyukaiku? Bagaimana jika mereka tidak memberikan restu?
"Ada apa?" tanya Alan. Ia meraih telapak tanganku dan meremasnya.
Aku kembali menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Tidak ada apa-apa."
"Jika tidak ada apa-apa, lalu kenapa kau melamun, hm?" Jari-jarinya yang panjang dan ramping itu terulur, membelai pipiku. Ia menarikku lebih dekat, membawaku ke dalam pelukannya. "Katakan, apa yang kau pikirkan?"
Aku bersandar di dadanya. Pandanganku lurus ke depan, menatap Arman yang sedang fokus mengemudi. Ekspresi lelaki itu tetap sama seperti biasanya, datar, tanpa emosi. Acuh tak acuh seolah tidak ada orang lain di belakangnya.
"Aku sedang bertanya-tanya, kira-kira seperti apakah keluargamu?" kataku, kemudian.
Alan melingkarkan kedua tangannya di perutku saat ia menjawab. "Tidak ada yang spesial. Mereka sama seperti kita, sama-sama manusia yang suka makan nasi," sahut Alan.
Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Ia tersenyum padaku. "Aku serius, Al."
"Aku juga serius." jari-jarinya yang panjang dan ramping terulur, membelai wajahku. Menyingkirkan helai rambut yang tersesat dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Dengar, apapun yang akan di katakan kakekku nanti, abaikan saja. Kau hanya perlu mendengarkan dan menuruti perintahku, mengerti?!"
Mendengar kata-katanya yang seperti itu, kurasa aku mengerti. Hubungan kami mungkin akan mengalami sedikit kesulitan kedepannya. Pasti tidak mudah untuk mendapatkan restu dari keluarganya, mengingat status sosial kami yang terlalu timpang.
Alan dan keluarganya begitu tinggi. Kaya dan berkuasa. Mereka mungkin mampu membangkitkan maupun menghancurkan suatu perusahaan hanya dalam waktu semalam. Sementara aku... Aku hanya wanita biasa yang terlahir yatim piatu. Aku tidak memiliki apa-apa selain reputasi buruk. Ya, cap pelakor itu akan terus melekat padaku, seumur hidup. Aku menunduk dengan sedih, meratapi kenyataan pahit itu.
"Apa yang harus kulakukan, Al, agar keluargamu menyukaiku?"
"Tidak ada," sahutnya tanpa ragu. "Kau tak perlu melakukan apapun. Bersikaplah seperti biasanya, seperti Alea yang kukenal. Jangan pernah mengubah dirimu menjadi orang lain hanya agar disukai orang lain."
Aku kembali mengangkat mataku, menatapnya lagi. "Kenapa? Bukankah seharusnya aku bersikap manis untuk menyenangkan keluargamu sekaligus mengambil hati mereka? dengan begitu mereka mungkin bisa menerimaku."
"Itu melelahkan. Kau tidak akan bahagia jika terus hidup dalam kepura-puraan seperti itu. Selain itu kau tidak berkewajiban untuk menyenangkan semua orang. Kau hanya perlu membahagiakan aku dan juga dirimu sendiri."
"Tapi aku cerewet, galak dan keras kepala. Keluargamu pasti membenci dan tidak mau menerima menantu pembangkang sepertiku." Sengaja aku mengutip kata-kata yang Alan sebutkan saat konferensi pers beberapa jam yang lalu.
Alan terkekeh. "Apa kau mengakuinya sekarang?" ucapnya dengan senyum mengejek.
Aku menggeleng. "Tidak. Kurasa aku tidak seburuk itu." Aku memang agak keras kepala. Tapi kalau galak dan cerewet... Aku tidak bersikap seperti itu pada orang lain, cuma ke Alan saja. Karena dia menyebalkan. Cecunguk itu tidak akan berhenti nakal jika aku tidak membentaknya atau mengingatkannya berkali-kali.
Alan mengangguk setuju. "Benar. Kau jauh lebih baik di bandingkan wanita-wanita lain di luar sana."
Hei, kenapa kau jadi membandingkan aku dengan wanita lain?
Aku sama seperti wanita lain pada umumnya. Tidak suka di banding-bandingkan.
Alan mengeratkan pelukannya. Ia sedikit membungkuk saat mendaratkan kepalanya ke kepalaku, membuat pipi kami saling bersentuhan. "Tenang saja, Alea. Tidak peduli apakah keluargaku menyukaimu atau tidak. Aku akan tetap bersamamu, apapun yang terjadi."
"Tentu saja."
Aku melepaskan pelukannya, lalu menggeser pinggulku ke samping dan mengubah posisi dudukku menghadap ke arahnya. "Bagaimana jika keluargamu menentang hubungan kita dan mereka menyuruhmu meninggalkan aku, apa yang akan kau lakukan?"
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan terus bersamamu apapun yang terjadi?" Alan mencubit daguku dengan gemas. "Aku lebih memilih menentang keluargaku daripada harus berpisah denganmu, Alea. Apa kau senang?"
Melalui sorot matanya, aku bisa melihat sekaligus merasakan betapa seriusnya ia saat mengatakan itu. "Terima kasih sudah memilihku tanpa ragu, Al, aku sangat senang. Tapi aku tidak senang jika kau menentang keluargamu. Aku tidak ingin kau menjadi anak durhaka."
Alan tersenyum. "Aku tahu, Alea," ucapnya seraya membelai kepalaku. "Aku punya ide dan aku yakin itu akan berhasil. Kakekku pasti langsung merestui dan menikahkan kita secepatnya."
Aku tak bisa menahan senyum saat menemukan secercah harapan itu. "Bernarkah? Apa itu?" tanyaku, antusias.
"Aku akan mengatakan pada kakek kalau aku sudah menghamilimu. Kau hanya perlu menambahkan beberapa kata dan juga sedikit berakting untuk meyakinkannya."
"Apa!" Ide gila macam itu?
"Kau pasti bercanda kan, Al?" tanyaku, ingin memastikan. Mungkin saja tadi aku salah dengar.
"Aku serius, Alea. Aku akan meminta kakek untuk segera menikahkan kita berdua sebelum perutmu semakin membesar."
Aku tertawa keras sambil menatap sembarang arah. Rasanya masih tak percaya kalau Alan memiliki ide konyol semacam itu.
"Jangan bilang kau akan mengatakan pada kakekmu kalau usia kandunganku sekarang memasuki tiga bulan," kataku seraya menoleh ke arahnya lagi.
Alan tampak terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau seorang cenayang?"
Astaga, dia benar-benar...
"Lupakan! aku tidak mau melakukannya," tolakku dengan tegas.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau memulai hubungan baru dengan dilandasi sebuah kebohongan, Al. Itu akan menodai pernikahan kita. Selain itu, bagaimana jika ketahuan? keluargamu akan semakin membenciku karena aku telah membohonginya."
"Kalau begitu ayo kita buat saja, Alea. Dengan begitu kita tidak perlu membohonginya."
Aku menatapnya dengan bingung. "Maksudmu?"
"Ayo ke hotel dan membuat anak di sana. Aku bisa melakukannya berkali-kali agar kau cepat hamil."
Aku kembali dibuat tercengang oleh ucapannya yang begitu blak-blakan.
"Atau, kau lebih suka melakukannya di dalam mobil? kita bisa menepi dan menyuruh Arman keluar supaya tidak menganggu," ucapnya lebih gila lagi.
Kali ini bukan hanya aku yang terkejut. Arman yang duduk di jok depan juga sama terkejutnya sepertiku. Mata sipitnya yang dibingkai kacamata itu membelalak lebar. Ia sangat terkejut sampai membuat tangannya tergelincir dan kehilangan kendali. Mobil yang kami tumpangi oleng ke kanan dan hampir menabrak kendaraan lain jika ia tidak segera menginjak rem. Aku dan Alan yang duduk di belakang dan tak mengenakan sabuk pengaman saling bertabrakan sebelum akhirnya membentur jok depan karena berhenti mendadak.