
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, aku terus memperhatikan sekeliling. Memandang setiap ruangan yang kami lewati dengan takjub.
Selain memiliki kesan mewah, lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruang tamu dan juga ruang keluarga itu memancarkan cahaya pelangi yang begitu indah.
Dinding-dindingnya dicat warna putih yang lagi-lagi memiliki ukiran yang menonjol. Entah bagaimana itu tampak serasi dengan perabotan di sekelilingnya. Seperti sofa kayu dengan desain seperti kursi kerajaan yang berlapiskan kulit asli.
Lemari kaca berukuran besar yang berisi miniatur bangunan terkenal yang tersebar di berbagai belahan dunia. Selain itu ada beberapa karakter anime kesukaan Alan yang tersusun dengan rapi di sana. Seluruh lantainya menggunakan marmer yang tampak mengkilap, kuat dan terkesan mewah.
"Ada lift juga..." Aku agak kaget saat mendapati elevator yang bergerak secara vertikal itu. Yah, pemiliknya memang kaya raya. Salah satu konglomerat di kota M, pendiri Arkana group yang melegenda. Bisnisnya tersebar di kota-kota besar negara ini. Tapi, apakah itu perlu? rumah ini hanya memiliki tiga lantai. Benar apa kata orang, kalangan atas memang boros.
Seolah bisa mendengar isi pikiranku, detik berikutnya Alan membuka mulut dan berkata, "Kakekku semakin tua, lututnya sudah tidak sanggup untuk naik turun tangga," jelasnya.
"Ah..." Aku mengangguk mengerti. Ya, itu masuk akal. Aku salah, kutarik kata-kataku sebelumnya. Sepertinya tidak semua kalangan atas atau orang kaya itu boros. Mereka membeli sesuatu pasti ada tujuannya. Tidak serta merta hanya untuk menghamburkan uang saja.
"Bagaimana menurutmu? Apa rumahnya bagus?" tanya Alan. Tangannya merangkul pinggangku, menarikku lebih dekat dengannya. Kami sudah seperti kembar siam sekarang. Berjalan dengan badan saling menempel.
Aku mengangguk. "Sangat bagus."
Kami berbelok ke kiri setelah menginjak lantai dua. Melewati sebuah ruangan kosong yang tidak terlalu banyak perabotan. Tidak ada meja atau kursi seperti di ruangan-ruangan lainnya. Hanya ada piano yang diletakkan di sudut ruangan serta sebuah layar besar yang menggantung di dinding. Kata Alan, ruangan tersebut merupakan taman bermainnya ketika ia masih kecil.
Layaknya Timezone, dulu ruangan itu dipenuhi dengan berbagai jenis permainan. Seperti pump it up, komedi putar mini hingga bom-bom car tersedia dalam satu ruangan itu bersama dengan mainan-mainan lainnya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia Alan, perlahan mainan-mainan tersebut mulai terlupakan. Puncaknya ketika Cecunguk itu berumur sekitar delapan atau sembilan tahun. Semenjak itu ia lebih suka bermain diluar rumah bersama teman-temannya dan tak pernah menyentuh permainan itu lagi. Akhirnya sang kakek memutuskan untuk menyingkirkan seluruh mesin game itu dan membiarkan ruangan itu kosong begitu saja.
Sekarang ruangan tersebut beralih fungsi menjadi ruang serbaguna yang biasa dipakai saat ada acara-acara tertentu saja. Sebagai ruang pertemuan keluarga atau semacamnya.
"Kau menyukainya?" Alan bertanya lagi.
"Hmm." Aku mengangguk sekali lagi. Siapa coba yang tidak suka dengan rumah mewah semacam ini, kurasa tidak ada.
Kami sedang menaiki anak tangga yang terhubung ke lantai tiga saat Alan kembali bertanya, "Jadi... setelah menikah nanti, apa kau ingin memiliki atau tinggal di rumah seperti ini? yang besar dan mewah?"
Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak."
Alan mengernyitkan dahi. Memandangku dengan tatapan heran. "Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"
Sambil terus melangkah aku menoleh ke arahnya. "Terlalu besar. Aku tidak sanggup membersihkannya seorang diri."
Kedua sudut mulut Alan melengkung ke atas, membentuk senyuman. "Kau tidak perlu membersihkannya." Alan membelai puncak kepalaku. "Aku akan mempekerjakan beberapa pelayan untuk mengurus rumah kita nanti."
"Itu tidak perlu, Al, aku bisa melakukannya sendiri."
"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya sendiri," ucapnya meremehkan. Alan melepaskan pelukannya dan melangkahkan kakinya mendahuluiku. Dengan kakinya yang sangat panjang, Alan bisa melewati dua anak tangga sekaligus sehingga aku tertinggal jauh di belakang. Sementara Alan sudah berada di puncak.
"Itu tidak sama. Selain itu kau selalu kelelahan setelahnya." Alan menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu kamar yang paling dekat dengan tangga. Memutar tubuhnya menghadap ke arahku dan berkata dengan serius "Aku tidak akan membiarkan hal itu terus berlanjut saat kita sudah menikah nanti."
"Kenapa?" Aku sudah berada di sisinya sekarang. Kami memasuki kamar tersebut bersamaan.
Alan sedikit membungkuk saat ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Jari-jarinya yang panjang dan ramping itu membelai wajahku. "Bagaimana kau akan melayaniku jika terus kelelahan seperti itu?" ucapnya dengan suara berbisik. "Tidak mungkin kan aku menidurimu sementara kau tertidur?"
"Mengapa tidak mungkin? Kudengar beberapa pria tetap melakukannya ketika istri mereka tertidur."
Alan menggiringku ke dinding di belakang, lalu menghimpit tubuhku dengan tubuh jangkungnya. "Katakan, dari siapa kau mendengarnya? Pria cabul mana yang mengatakan hal-hal seperti itu padamu, hm?"
Alan tertawa saat aku menepis tangannya yang mencubit daguku dan mendorongnya dengan kuat, melepaskan diri dari kurungannya. "Tidak ada. Bukan pria yang memberitahuku. Itu seorang teman, teman wanita," jelasku sambil berjalan menuju ranjang berukuran besar yang berada di tengah-tengah ruangan.
"Baguslah, dia seorang wanita. Jika itu laki-laki aku akan merobek mulutnya."
Aku menjatuhkan diri di kasur. Duduk dengan kaki menyilang dan menatapnya dengan heran. Mengapa semakin lama ucapannya terdengar semakin kejam?
Aku terus memperhatikannya yang sedang berjalan ke arahku sembari membuka kancing kemejanya dengan satu tangan. Setelah semuanya terlepas, ia melemparkan pakaiannya itu ke sembarang arah.
"Kau mau apa?" Reflek aku mundur ke belakang dan menyilangkan kedua tangan di dada saat ia semakin mendekat dan mencondongkan tubuhnya padaku.
Dada bidangnya yang kokoh serta perutnya yang rata dan kotak-kotak itu tampak sangat menggiurkan. Mereka seolah-olah mengolok-olokku, menari-nari di depan mataku, minta di sentuh.
Pikiranku berkelana. Membayangkan bagaimana jika aku menyentuh atau memeluknya. Meraba setiap sudutnya tanpa terkecuali sambil mengecek seperti apa kehangatan tubuhnya dan seberapa lembut kulitnya.
Mungkinkah tubuhnya akan sehangat selimut tebal di musim dingin? akankah kulitnya yang seputih salju dan semulus porselen itu terasa sehalus beludru?
Liurku hampir menetes saat menikmati pemandangan indah yang menyejukkan mata dan menggoda iman itu. Aku memejamkan mata dan menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri sendiri sekaligus mengusir iblis yang bersarang di otakku, yang terus membisikan kalimat-kalimat agar aku melakukan perbuatan tercela. Seperti menyentuh dadanya dan membelai perutnya yang seksi itu. Benar-benar iblis terkutuk.
Saat kembali membuka mata, aku mendapati Alan sedang menatapku dengan senyum menggoda. "Menurutmu... apa yang akan kulakukan?"
Aku hampir terjengkang ke belakang karena ia terus mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tubuh bagian bawahnya hampir menindihku.
Aku memalingkan muka dan berusaha mendorong tubuhnya menjauh. Akan tetapi itu sia-sia. Alan terlalu kuat, tubuhnya sama sekali tak bergeser sedikitpun. Jantungku berdetak tak karuan akibat keintiman itu. Sangat kencang seolah ingin melompat keluar. Disaat mendebarkan dan canggung itu, Alan tiba-tiba tertawa keras. Aku kembali menatapnya dengan bingung. Apa yang dia tertawakan?
"Apa kau tahu, betapa menggemaskannya dirimu saat posisi kita sedekat ini?" ucapnya masih dengan tawa. "Wajahmu seperti tomat sekarang," imbuhnya.
Aku lekas memalingkan muka, merasa sangat malu. Aku bersyukur manusia tidak memiliki kemampuan membaca pikiran manusia lainnya. Akan sangat memalukan jika Alan mengetahui isi pikiranku yang kotor beberapa saat sebelumnya.
Alan menarik diri dan berdiri tegak. "Aku mau mandi," ucapnya seraya melepas ikat pinggang dan melemparnya ke kasur. Setelah itu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Bersambung...