
"Maafkan aku, Ly. Aku tidak bisa," ucapnya lirih. Dengan nafas terengah-engah ia kembali menarik tubuhnya, menjauhiku. Kemudian kembali merapikan pakaiannya. Ia meraih ikat pinggangnya yang teronggok di lantai dan memasangnya kembali.
Aku memalingkan wajah. Semuanya telah berakhir. Kini ia bahkan sudah tak menginginkan tubuhku lagi. Kesedihan kembali menyelimutiku. Betapa memalukannya diriku saat ini. Sudah di campakkan tapi masih menawarkan tubuhku seperti pelacur. Tidak, aku bahkan lebih hina dari kupu-kupu malam itu. Setidaknya mereka mendapatkan bayaran. Sementara aku memberikannya secara cuma-cuma. Benar-benar murahan dan tak punya harga diri.
"Pakai bajumu, Ly," titah Kevin. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di sampingku.
Aku terus memalingkan wajah dan membalikan badan, memunggunginya. Kini aku bahkan tak sanggup menatap wajahnya lagi. Kugenggam dengan erat selimut tebal yang menutupi tubuhku yang setengah telanjang.
"Pergilah," usirku tanpa mengalihkan pandangan dari dinding. Diam-diam air mataku kembali menetes. Membasahi kedua pipi. Aku menangis tanpa suara.
"Bawa juga hadiah-hadiah yang kau bawakan tadi, aku tak membutuhkannya," imbuhku dengan mulut bergetar, menahan tangis.
"Aku tidak akan mengambil kembali apapun yang sudah kuberikan padamu, Ly," sahut Kevin.
"Tapi aku ingin mengembalikannya. Aku tak ingin melihatnya, apalagi memakainya. Jadi bawa saja, berikan saja pada yang lain."
Seperti Alia misalnya, istrimu itu pasti kegirangan jika kau membawakan hadiah untuknya.
"Aku membelikannya untukmu, Ly. Jika kau tak menginginkannya maka buang atau bakar saja."
Kuseka air mata sialan yang terus mengalir tanpa permisi.
"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang," kataku, kembali mengusirnya.
"Hm. Aku pergi sekarang." Tempat tidurku sedikit berguncang saat ia bangun. Meski tak melihatnya tapi bisa kudengar langkah kakinya yang bergerak menjauh.
Ia berhenti sejenak. Kurasa ia kini berada di depan pintu. "Selamat tinggal, Ly, jaga dirimu baik-baik."
Aku tak menjawabnya dan sama sekali tak melihatnya. Detik berikutnya terdengar derit pintu saat di buka dan suara berdebum ketika pintu kembali di tutup. Setelah itu tak terdengar apapun.
Aku membalikan badan, menatap pintu yang tertutup rapat. Seketika tangisku pecah.
Dia sudah pergi, benar-benar pergi. Kuulang kalimat itu berulang kali. Rasanya aku masih tak percaya Kevin benar-benar meninggalkanku. Kami benar-benar berpisah sekarang.
Aku meraung, seperti orang gila. Menangis tersedu-sedu. Berakhir sudah kisah cinta kami. Angan-angan yang selalu kuimpikan bisa hidup bahagia bersamanya, musnah sudah. Menghilang bersama dengan kepergiannya yang begitu tiba-tiba.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Yang pasti aku tidak baik-baik saja. Rasa sakitnya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Terlalu sakit, sakit luar biasa hingga rasanya ingin mati saja.
Kevin ... Mengapa kau pergi? Mengapa meninggalkanku di saat seperti ini? Tidakkah kau ingat kalau aku sudah tak memiliki siapapun kecuali dirimu?
Ayah, ibu, adik dan juga teman-temanku, mereka semua sudah pergi. Aku yang membuang mereka karena kupikir aku masih memilikimu. Aku mengandalkanmu, tapi kenapa kau berbuat sekejam ini padaku?
Sepanjang malam aku terus menangis. Hingga akhirnya tertidur saat menjelang subuh.
...****************...
Tiga hari telah berlalu. Tak banyak hal yang kulakukan. Aku tak pernah keluar selama itu. Setiap hari hanya mengurung diri di dalam kamar.
Sesekali aku memainkan ponsel yang lebih sering kuabaikan. Ku pandangi beberapa fotoku bersama Kevin yang tersimpan rapi di galeri ponsel itu.
Aku tersenyum, mengenang masa-masa indahku bersamanya. Kemudian kembali menangis saat mengingat hubungan kami yang telah berakhir.
Kepalaku terasa pusing dan berat. Mungkin karena tak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhku. Aku hanya mengonsumsi air putih setiap harinya. Entah, biasanya aku selalu kelaparan setiap lima jam sekali. Tapi kali ini, aku sama sekalu tak pernah merasa lapar. Padahal sudah tiga hari tidak makan.
Setelah malam itu, Kevin tak pernah datang lagi. Ia juga tak pernah menghubungiku duluan.
Berbeda denganku yang masih sering menghubunginya. Akan tetapi panggilanku itu di tolak. Aku mencobanya beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama, selalu di tolak.
Begitu pula dengan pesan yang ku kirimkan. Ia tak pernah membalasnya, hanya membacanya saja.
Banyak sekali pesan yang ku kirim padanya. Semuanya berisi curahan hatiku yang sangat merindukannya. Aku bahkan berulang kali memintanya kembali. Kukatakan padanya kalau aku tak masalah meskipun hanya menjadi simpanannya asal bisa terus bersamanya.
Namun, hasilnya tetap sama. Kevin tak pernah merespon pesan singkatku itu. Sepertinya Kevin mulai muak dengan perilakuku yang tak tahu diri ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memblokir nomorku.
Aku masih terduduk di sofa sambil menatap sembarang arah. Tak sengaja kutemukan sebuah pisau di atas meja. Warnanya yang seperti perak itu tampak mengkilat di mataku.
Aku bangkit berdiri, lalu berjalan beberapa langkah mendekati meja kayu berukuran kecil itu.
Kuraih pisau stainless yang ujungnya runcing itu. Kusentuh permukaannya dengan jempolku. Cukup tajam, sampai menggores kulitku dan mengeluarkan setitik darah.
Setelah pisau itu sudah berada dalam genggaman, aku kembali berjalan menghampiri sofa.
Kembali ku jatuhkan bokongku di sana.
Duniaku sudah hancur. Tak ada seorang pun yang menginginkan ataupun memperdulikanku. Meski ragaku masih hidup tapi tidak dengan jiwaku. Aku tak ingin menyiksa tubuhku lebih lama lagi, jadi kuputuskan untuk mengakhirinya hari ini saja. Toh aku juga akan mati.
Perlahan ku arahkan pisau itu di pergelangan tangan kiriku. Aku meringis saat benda tajam itu mengoyak kulitku. Rasanya sakit dan juga perih. Namun rasa sakit itu tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rasa sakit di hati ini.
Sedikit demi sedikit cairan berwarna merah itu mulai mengucur dan jatuh berceceran di lantai. Kepalaku semakin pusing dan terasa berputar-putar saat bau anyir itu menusuk hidungku. Pandanganku perlahan-lahan mulai kabur dan tak lama kemudian menjadi gelap gulita. Aku tak melihat apapun, mungkin inilah akhir hidupku.
Kevin ... Sekarang aku akan mati. Selamat tinggal, aku mencintaimu.
.
.
.
.
.