Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 79



Aku mengalihkan pandangan dari pemandangan menjengkelkan itu. Kemudian melangkahkan kaki menuju kursi kosong yang ada di deretan paling belakang. Aku duduk di sana, tempat dimana tidak ada orang yang memperhatikan.


Seluruh kamera sudah menyala dan siap merekam. Pembawa acara yang berada di tengah panggung mengangkat mic-nya dan mulai berbicara, membuka acara tersebut.


"Selamat siang semuanya...."


Selama acara berlangsung aku hanya duduk sambil memperhatikan jalannya acara. Sesekali ikut tertawa ketika presenter itu mengatakan hal-hal lucu.


"Seperti yang kita ketahui bersama, Arkana Group sudah meluncurkan banyak sekali produk, baik berupa makanan maupun non makanan. Bukan mau sombong..." Presenter itu terbatuk sekali sebelum melanjutkan. "Ini kelima kalinya saya memandu acara peluncuran produk baru di sini. Sama seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Arkana group juga meluncurkan produk yang luar biasa, yang ditunggu-tunggu dan dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi..." Ia berhenti lagi. Semua orang terdiam, menunggu dengan penasaran.


"Ada sesuatu yang mengusik pandangan saya sejak tadi dan ini yang menjadi pembeda dengan acara-acara sebelumnya yang pernah saya bawakan, yaitu kehadiran sesosok pria tampan yang duduk tak jauh di hadapan saya," ucapnya seraya menunjuk Alan dengan tangannya. Kamera kini menyorot ke arahnya.


Presenter itu hendak turun dan menghampiri Alan. Namun, dicegah oleh pihak penyelenggara. Mereka justru mempersilahkan Alan untuk naik ke panggung agar tak membelakangi para wartawan yang sedang meliput.


"Seperti yang kalian lihat, Tuan Ars di sini sekarang. Selamat siang Tuan Ars," kata presenter itu seraya menoleh ke arah Alan ketika lelaki itu sudah berada disisinya.


"Selamat siang, Mario," balas Alan dengan senyum tipis. Ia sangat tampan. Beberapa wanita didepannya tampak terpesona sampai wajahnya memerah. Ada yang salah tingkah juga saat tak sengaja bersitatap dengannya.


Presenter itu menghadap ke depan lagi, menatap ke kamera. "Ngomong-ngomong ini pertama kalinya saya bertemu dengan beliau, saya sedikit gugup sekarang," ucapnya dengan tawa kecil. Tangannya sedikit gemetar. Sepertinya ia memang benar-benar gugup.


"Teman-teman disini mungkin sama penasarannya seperti saya. Seperti yang kita ketahui, sebagai presdir Arkana Group tentu saja beliau sangat sibuk. Tapi kali ini beliau menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara ini. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira ada apa atau hal spesial apakah yang membuat Tuan Ars turun gunung secara langsung dalam peluncuran produk baru kali ini?" tanyanya seraya menoleh ke Alan lagi.


Kedua sudut mulut Alan melengkung ke atas, membentuk senyuman. Ia mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk, lalu mendekatkan mic ke mulutnya dan mulai berbicara. "Seperti yang Mario bilang tadi, ini memang spesial." Alan mengangkat minuman yang dikemas dalam bentuk botol kaca itu, yang memiliki desain unik layaknya sebuah guci berukuran kecil. "Produk yang kami rilis sekarang berbeda dengan minuman yang kami produksi sebelumnya-sebelumnya. Minuman ini tidak hanya untuk melepas dahaga atau memanjakan lidah semata, tapi juga memiliki nutrisi yang sangat baik untuk tubuh. Minuman ini sangat cocok untuk semua wanita yang menginginkan kulit yang lembut, cantik dan sehat tentunya. Seperti yang dimiliki oleh dua wanita yang disebelah saya," ucapnya seraya melirik the beauty, duo/grup wanita yang menjadi brand ambassador produk baru tersebut. "Jadi, untuk para wanita diluar sana, baik yang masih remaja, dewasa maupun emak-emak... cobalah produk baru kami dan rasakan khasiatnya," ucapnya dengan senyum paling menawan.


Aku masih di tempat yang sama. Duduk dengan tenang sambil menatapnya dengan bangga. Kurasa anggapan semua orang tentang Alan memang benar. Tidak ada cela dalam diri lelaki itu, dia sempurna. Bukan hanya tampan, tapi juga kaya, ramah dan pintar tentu saja.


"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan." Alan membuka mulutnya lagi. Ia masih tersenyum dan matanya tampak berbinar. "Ini mengenai masalah pribadi," lanjutnya.


Mario yang duduk di sebelahnya tampak terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Matanya yang besar membelalak kaget. Selang beberapa detik barulah ia bicara lagi. "Oh, kurasa teman-teman kita akan senang mendengarnya," ucapnya seraya menoleh ke arah wartawan yang berjejer di hadapan mereka.


Seperti yang dikatakan Mario barusan, para wartawan itu tak menyembunyikan ekspresi senang mereka. Jarang-jarang seorang pengusaha mengungkapkan masalah pribadinya dengan sukarela. Apalagi ini mengenai Alan, sosok yang memiliki seribu daya tarik. Selain itu, kehidupan pribadi seorang konglomerat selalu bisa menarik perhatian sebagian masyarakat di negara ini. Mereka mengecek alat perekam dan kamera sekali lagi, memastikan keduanya berfungi dengan baik.


Sama seperti semua orang, aku juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan Alan. Kami sama-sama menunggu dengan antusias.


Alan melirik ke arahku sebentar, setelah itu kembali menatap ke kamera. "Aku menyukai seseorang," ucapnya dengan lantang.


Senyum para wartawan semakin lebar. Sepertinya mereka mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Siapakah seseorang itu, Tuan Ars? Apakah dia seorang pengusaha juga atau selebriti?" tanyanya sambil memiringkan kepala. "Dia sangat beruntung disukai oleh lelaki seperti Anda," imbuhnya.


Alan menggelengkan kepala. "Tidak. Dia gadis biasa, tapi juga luar biasa."


"Gadis biasa tapi luar biasa." Presenter itu mengulang kata-kata Alan dengan dahi mengernyit. Ia menggaruk kepalanya sebelum bertanya. "Tuan Ars, aku sedikit bodoh, bisakah Anda jelaskan maksud dari kata-kata barusan?


"Wanita yang kucintai bukan seorang pengusaha, bukan juga selebriti atau publik figur," jelas Alan sambil melirik ke arahku.


Aku merasa lega karena tidak seorang pun menyadari tatapan Alan ketika ia mengatakan itu.


"Wanita itu pasti cantik," tebak si presenter.


"Tentu saja," sahut Alan seraya berpaling dariku. Kembali menatap presenter itu dan ke kamera. "Wanitaku sangat cantik. Matanya besar, seperti boneka. Dia sedikit pendek, tapi tidak pernah mengakui kalau ia pendek," imbuhnya dengan tawa kecil.


"Dia galak dan cerewet, tapi dia merawatku dengan sangat baik. Dia juga penyayang dan sangat sangat sabar. Ketika aku nakal dan membuatnya marah, ia hanya menghela nafas dengan mata melotot. Pacarku sangat lucu, wajahnya akan merona setiap kali ia merasa malu. Selain itu ia selalu kehabisan nafas ketika kami berciuman."


Seketika tubuhku membeku. Tidak, bukan hanya aku. Kurasa semua orang kaget dengan perkataannya. Alan terlalu blak-blakan.


"Ups, kurasa aku keceplosan. Jika dia disini, pasti sudah mencubit pahaku dengan keras," ucapnya sambil terkekeh


Semua orang ikut tertawa. Terutama para wartawan yang sejak tadi mendengarkan dengan senyum cerah, seperti cuaca di luar.


"Tuan Ars, Anda pasti sangat menyukainya," kata presenter itu.


"Hm, sangat," sahut Alan seraya menganggukkan kepala. Senyum diwajahnya kian memudar. "Tapi, sepertinya dia tidak menyukaiku," lanjutnya dengan wajah murung. Ia menunduk, menatap celana katun yang melekat di kakinya yang jenjang.