Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 72



Si lidah tajam, mungkin itu sebutan paling yang cocok untuk menggambarkan seseorang seperti Alan ketika lelaki itu sedang marah.


Lima belas menit telah berlalu semenjak manager toko datang bersama pelayan wanita menyebalkan itu. Selama itu pula Alan tak berhenti mengoceh dengan berbagai keluhannya. Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menggertak dua orang di hadapannya. Ia bahkan tidak repot-repot berteriak seperti kebanyakan orang lainnya ketika melampiaskan amarahnya. Akan tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya saja sudah menusuk jantung mereka.


Ia masih berdiri di sana, menjulang tinggi seperti tiang listrik di hadapan dua orang yang tampak sangat tertekan. Auranya masih memancarkan permusuhan.


"Aku tidak mengerti pertimbangan apa yang membuatmu yakin saat merekrut sampah sepertinya." Usai mengatakan itu pada sang manager, Alan kembali menoleh ke kiri, menatap pelayan wanita yang kini terus menundukkan kepala. Sikap angkuh dan arogannya sudah meninggalkannya sejak lama, di gantikan oleh rasa takut yang tak bisa ia sembunyikan. Wajar saja, siapa yang tidak akan merasa takut ketika seseorang berniat memenjarakannya dan ancaman itu tidak main-main. Seluruh warna seolah dilucuti dari wajahnya, bahkan tangannya mulai gemetar.


Meski begitu tampaknya Alan masih belum berniat berhenti. Matanya bergerak naik turun, mengamati wanita di depannya itu. Kata-katanya berikutnya masih setajam sebelumnya. "Tidak ada yang menarik darinya. Wajahnya jelek, attitude nya nol dan mulutnya sangat bau, bahkan melebihi kotoran."


Kata mulut bau di sini bukan merujuk pada aroma tak sedap yang terendus ketika wanita itu berbicara. Tapi itu seperti perumpamaan yang memiliki makna tersirat bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya merupakan sesuatu yang tidak pantas dan tak seharusnya di ucapkan.


Manager itu membungkuk lagi. "Sekali lagi kami minta maaf atas ketidaknyamanan Tuan, saya akan mengajarinya dengan baik dan kedepannya saya pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."


"Heh, kau masih ingin mempertahankan orang seperti itu?" cibir Alan. Ia mengangkat kelopak matanya dan kembali bersitatap dengan manager itu. "Jika aku jadi kau, aku akan menendangnya saat ini juga. Tidak ada gunanya menyimpan pegawai seperti itu. Meski kau mengajari dan menasehatinya sampai mulutmu berbusa, itu tidak akan merubahnya menjadi lebih baik. Hatinya sudah membusuk, sampah itu sudah tak tertolong!"


Tidak ada hal lain yang bisa di lakukan sang manager selain kembali membungkuk dan meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.


Aku menghela napas lega setelah Alan akhirnya mengakhiri perdebatan panjang itu. Ketika ia berbalik ke arahku, kekesalan di wajahnya luntur dalam sekejap, seolah itu tak pernah ada. Kedua sudut mulutnya terangkat, memperlihatkan deretan giginya yang kecil dan putih bersih. Meskipun bukan anak-anak lagi, tapi menurutku ia terlihat menggemaskan saat tersenyum seperti itu. Suaranya terdengar sangat lembut ketika ia bertanya "Apa Nyonya Ars menginginkan sesuatu yang lain?" Ia menunjuk pelayan toko dengan dagunya. "Katakan saja padanya, mereka akan mengambilkannya untukmu."


Manager dan beberapa pelayan lain yang berada di sekitar kami menyaksikan perubahan ekspresi dan suasana hatinya dengan mulut menganga. Bagaimana bisa seseorang mengubah ekspresinya secepat itu? Apa dia aktor? Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang terlukis di wajah mereka.


Aku menggeleng cepat. "Tidak." Sepatu yang di tunjuk Alan sebelumnya saja sudah banyak. Selain itu rak sepatu di rumah tidak akan muat jika menambah yang lain.


"Bagaimana dengan yang itu? mau tidak?"


Aku menoleh ke belakang, mengikuti telunjuknya yang mengarah pada etalase yang memajang tas wanita dengan berbagai macam model dan corak. Kemudian menggeleng sekali lagi. "Lemarinya penuh," kataku, mengingatkan.


Minggu lalu Alan menghadiahiku tiga tas sekaligus dan sekarang masih menawariku tas lagi. Apa semua orang kaya itu memang memiliki hobi pemborosan?


Dengan begitu ia membeli dua tas lagi dan keduanya itu untukku. Usai memilih tas dan sepatu aku bergegas mengajaknya keluar dengan alasan lapar. Tidak aman jika berlama-lama di toko itu. Bisa-bisa Alan memborong semua yang ada di sana.


"Mau makan apa, Sayang?" tanyanya begitu kami keluar.


"Emm, bagaimana kalau steak?" kataku seraya menoleh ke arahnya, meminta persetujuan.


"Oke," sahutnya, setuju.


Alan merangkul pinggangku ketika kami berjalan menuju restoran yang berada di lantai 4. Mengingat banyaknya lantai di gedung ini, kami memilih menggunakan eskalator dari pada menunggu lift turun.


Alan tiba-tiba berhenti melangkah dan melepas rangkulannya ketika kami baru saja menginjak di lantai tiga. Setelah itu ia berkata "Aku ingin ke toilet, mau ikut atau tunggu di sini?"


"Tunggu di sini saja," kataku seraya mengambil alih barang belanjaan di tangannya. Agak merepotkan jika membawa barang saat menggunakan toilet.


"Baiklah, tunggu sebentar." Alan mengusap rambutku sebentar, sebelum akhirnya melangkah pergi. Sementara aku masih berdiri di tempat, menunggunya kembali. Sesekali aku menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan sekeliling. Aku tak bisa menahan senyum ketika melihat dua anak kecil yang sedang berlarian di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Salah satunya sangat lucu dengan dua ikat rambut di kepalanya yang menyerupai tentakel. Kedua pipinya tembam dengan rona kemerahan di tengahnya. Itu benar-benar menggemaskan, rasanya aku ingin membawanya pulang dan mencubitnya hingga puas.


Aku masih memandangi dua bocah itu ketika sebuah lengan melingkar di dada, mendekap tubuhku dari belakang. Kukira itu Alan, sehingga tanpa ragu aku meraih tangannya dan bertanya "Sudah selesai?"


Sepuluh detik telah berlalu tapi tak kunjung ada sahutan. Itu sedikit aneh untuk seseorang seperti Alan yang banyak bicara. Selain itu saat kuperhatikan lagi warna kulitnya lebih gelap jika dibandingkan dengan kulit Alan yang seputih salju.


Dia bukan Alan, lalu siapa?


Tentu saja aku memberontak dan hendak berteriak setelah menyadari semua itu. Namun, sebelum aku mengeluarkan suara, seseorang berkata lebih dulu. "Ini aku, Ly."


Ketika mendengar suara itu, aku seolah kehilangan seluruh kekuatan. Dengan bunyi kedebug paper bag yang berada dalam genggaman itu jatuh ke lantai. Selain itu, entah bagaimana otakku tiba-tiba berhenti bekerja dan semuanya menjadi kosong. Tubuhku membeku, seperti patung.


Bersambung ...