Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 29



"Kenapa melihatku seperti itu? Apa sekarang kau sadar kalau aku sangat tampan?" ucap Alan, membanggakan diri.


Dasar narsis.


"Terserah apa katamu, Al. Aku cuma penasaran mengapa kau sangat tertarik mengenai hubunganku dengan Kevin. Sebenarnya apa tujuanmu?" tanyaku. Menatapnya serius.


Alan mengangkat gelasnya. Kemudian meminum isinya beberapa teguk. Setelah itu kembali meletakkan di atas meja.


"Aku juga penasaran apa yang membuatmu menyukai pria sepertinya. Menurutku kekasihmu itu bukan laki-laki yang baik," ucapnya.


"Kau tahu apa tentangnya, Al? Kau bahkan tak mengenalnya, atas dasar apa kau mengatakan pacarku itu tidak baik. Apa kau peramal?" kataku dengan tawa mengejek.


"Aku memang bukan peramal. Tapi aku tahu beberapa hal tentangnya. Bagaimana denganmu? Apa kau benar-benar mengenal kekasihmu itu seperti apa?" tantang Alan.


"Tentu saja, Al. Kami sudah bersama selama lima tahun. Mana mungkin aku tidak tahu seperti apa pacarku itu."


"Oh ya?" ucap Alan, tak percaya. Ia memandangku dengan tatapan aneh.


"Jadi ... apa kau juga tahu kalau pacarmu punya wanita lain?" tanyanya.


Untuk sesaat jantungku berhenti berdetak. Wanita lain? siapa yang ia maksud? Apa di luaran sana Kevin masih punya wanita lain selain aku dan Alia?


"Kenapa diam?" tanya Alan. Laki-laki itu menyeringai. "Dilihat dari ekspresi wajahmu, sepertinya kau tidak tahu kalau pacarmu punya wanita lain," imbuhnya.


Aku menghela nafas. Berusaha agar lebih tenang. Aku yakin Kevin tak mungkin mengkhianati ku lagi. Ia sudah berjanji padaku dan pasti akan menepatinya. Kevin bukan tipe orang yang suka ingkar janji.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Al? Provokasi yang kau ucapkan sebelumnya tak akan mempan terhadapku. Aku percaya dengannya. Ia tak akan mengkhianati ku," kataku tenang.


Alan tersenyum sinis. "Melihatmu yang seperti ini membuatku iri padanya, Alea," ucapnya.


"Apa yang membuatmu iri? Apa karena ia memiliki wanita cantik sepertiku?" kataku. Aku meletakan kedua telapak tangan di pipi dan tersenyum. Berusaha terlihat semenarik mungkin.


Alan terkekeh. "Benar," ucapnya mengakui. Alan memalingkan wajah. Menatap sembarang arah. "Selain itu kau juga sangat mempercayainya. Aku sangat iri padanya," imbuhnya. Wajahnya terlihat kecewa kemudian berubah sendu.


Ada apa dengannya? Mengapa ekspresinya seperti itu? sepertinya ia sangat serius mengucapkannya. Apa dia tak mendapat kepercayaan dari orang lain?


"Ngomong-ngomong apa yang kau sukai darinya?" tanya Alan. Ia kembali menatapku. Wajahnya kembali ceria.


"Karena dia baik," jawabku.


"Aku juga baik. apa kau juga menyukaiku?"


"Apa aku begitu buruk di matamu?" tanya Alan.


Aku mengangguk. "Benar. Kau buruk sekali, sangat buruk." Aku mematikan laptop. Kemudian melipat dan meletakan kembali di atas nakas.


"Kau sudah selesai makan 'kan? Kalau sudah selesai cepat pergi. Aku mau tidur," kataku, mengusirnya.


"Mau kutemani?" tanya Alan. Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan ke arahku.


"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya. Cepat pergi sana." Aku melempar bantal ke wajahnya.


Dengan sigap Alan menangkap bantal yang kulempar padanya tadi. "Tidak kena," ledeknya seraya menjulurkan lidah.


"Cepat pergilah," usirku, lagi.


"Oke-oke. Aku akan pergi sekarang," kata Alan, menyerah. Ia memberikan bantal yang kulempar tadi. Meletakannya di sampingku dengan lembut.


"Selamat malam, Alea," ucapnya seraya membelai kepalaku dengan lembut.


Aku mengangkat alis, heran. Laki-laki ini menyebalkan tapi terkadang bersikap sangat baik dan sangat lembut. Ia juga sangat perhatian ketika aku sakit dan juga begitu panik jika mendengar sesuatu terjadi padaku.


Eh, kenapa aku jadi memikirkannya. Buang-buang waktu saja memikirkan Cecunguk menyebalkan itu.


"Oh iya terima kasih makananya, Alea,"


Ucap Alan saat berada di ambang pintu.


"Sama-sama."


Setelah kepergian Alan aku mengunci pintu. Kemudian kembali ke ranjangku dan bersiap tidur.


.


.


.


.