Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 73



Aku masih terdiam saat Kevin menyandarkan dagunya di bahuku. Nafasnya yang hangat terciprat ke leher dan sebagian pipiku, membawa aroma tembakau yang familiar saat ia berkata dengan lirih. "Aku merindukanmu, Ly."


Suaranya masih sama seperti dulu, lembut dan sedikit serak. Kali ini terdengar lebih dalam seolah ia benar-benar merindukanku.


"Tidakkah kau merindukan aku, Ly?" ucapnya lagi. Pelukannya semakin erat.


Bohong jika aku berkata tidak. Suaranya, aromanya yang khas, serta kehangatan tubuhnya saat ia memelukku, aku belum bisa melupakan semua itu.


Orang lain pasti akan mengataiku bodoh atau tolol lagi. Mereka-mereka yang menyebutku seperti itu bukan berarti bermulut jahat, mereka hanya tidak mengerti karena tidak mengalaminya.


Andai saja mereka mengalami apa yang kurasakan, mungkin tidak akan berkata seperti itu.


Melupakan seseorang yang sangat kita cintai itu sulit. Terlebih orang tersebut sudah bersama dengan kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Meskipun terakhir kali orang itu menorehkan luka yang begitu mendalam, tapi jauh sebelum itu, selama bertahun-tahun orang tersebut telah memberikan banyak sekali kebahagiaan untukku.


Aku berada di tengah persimpangan antara benci dan rindu, ketika Kevin kembali membuka mulutnya. "Aku masih mencintaimu, Ly. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"


Ucapannya berhasil menyadarkanku. Pelukannya terlepas saat aku berbalik menghadapnya dan bertanya dengan senyum getir. "Apa katamu? Kembali seperti dulu?"


Kevin mengangguk. "Ya, Kau mau kan, Ly?" tangannya terulur, meraih telapak tanganku dan membelai punggungnya dengan ibu jari. "Kita bisa memulainya dari awal lagi," lanjutnya.


Aku menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa aku mencintai laki-laki yang tak punya perasaan seperti dirinya?


Dulu, saat aku tak berdaya dan benar-benar membutuhkanmu, kau justru pergi meninggalkanku. Sekarang saat keadaan sudah membaik, kau baru datang dan memintaku kembali?


Kau anggap aku ini apa Mas? Mainanmu! Yang bisa kau buang dan pungut sesuka hatimu?!


Ingin sekali aku meneriakinya dengan kalimat-kalimat seperti itu. Namun, mengingat lokasinya aku mengurungkan niat itu. Saat ini kami berada di tempat umum. Aku tidak ingin menarik perhatian dan menjadi tontonan orang lain, lagi.


"Maaf, aku tidak bisa!" kataku seraya menepis tangannya. Aku membungkuk, memungut belanjaanku yang tergeletak di lantai dan bergegas pergi.


Namun, sesaat sebelum aku melangkahkan kaki, Kevin lebih dulu meraih pergelangan tanganku, menahannya agar aku tetap tinggal. "Kenapa?" tanyanya dengan suara rendah. Ia terlihat goyah, tak sepercaya diri sebelumnya dan tatapannya meredup.


Dia masih tanya kenapa? tidakkah ia ingat bagaimana perlakuannya padaku sebelumnya?!


Seketika darahku seakan mendidih. Untuk pertama kalinya aku merasa begitu muak dengan seseorang. Selain itu kenangan menyakitkan itu kembali berkelebat dalam pikiranku. Kali ini bukan hanya saat ia meninggalkan aku dalam kondisi menyedihkan, tapi juga saat ia mengkhianati cinta kami dengan tidur bersama adikku.


Aku memegangi dada, saat rasa sakit itu kembali menyerang. Perih dan berdenyut, seperti luka terbuka yang tak sengaja tersiram cuka.


Kevin maju selangkah, mendekat ke arahku lagi. "Kembalilah padaku, Ly, aku tak bisa hidup tanpamu." pintanya dengan suara memohon.


"Jika kau tak bisa hidup tanpanya maka mati saja!" seru seseorang dengan suara lantang.


Suara itu berhasil membuatku terkesiap sekali lagi. Alan, apakah itu dia?


Dengan satu tarikan aku sudah berada dalam pelukannya. Meski begitu ia sama sekali tak melirik ke arahku. Sejak tadi sorot matanya tak lepas dari wajah Kevin. "Sampai kapan kau akan terus menyentuh pacarku?" ucap Alan.


Seketika aku tersadar kalau Kevin masih menggenggam pergelangan tanganku. "Lepaskan aku, Mas," pintaku seraya berusaha menghempaskan tangannya.


Kevin menggeleng. Cengkeramannya semakin kuat. "Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi, Ly."


Alan melepas pelukannya. Ia maju selangkah dan melayangkan tinjunya ke wajah Kevin. Gerakannya begitu tiba-tiba dan juga sangat cepat. Kevin pun tumbang ke lantai.


Alan membungkuk, mencengkram kerah kemeja Kevin dan memukulnya sekali lagi. "Berhentilah mengganggu wanitaku, Brengsek!"


Tinjunya kembali mengarah ke wajah Kevin. Namun, kali ini Kevin berhasil menangkisnya. Ia mendorong Alan dengan keras dan lekas bangun.


Posisi keduanya berbalik. Kini Kevin yang berada di atas. Tangan kirinya menekan tubuh Alan yang terbaring dengan punggung menyentuh lantai. Sementara satu tangannya yang lain ia gunakan untuk meninju orang yang ada di bawahnya. Dua pukulannya tepat mengenai wajah Alan. Yang pertama mengenai di tulang pipi. Sementara yang satunya lagi mendarat di sudut mulutnya.


Aku terlalu syok hingga mulutku tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menyaksikannya dengan mata terbelalak. "Berhenti! Apa yang kalian lakukan!" jeritku setelah tersadar dari keterkejutan.


Tak peduli dengan risiko yang bisa saja terjadi, seperti terkena pukulan yang tak sengaja mengenaiku, aku melompat di tengah-tengah mereka. Melepas cengkraman tangan keduanya dengan paksa dan mendorongnya dengan kuat.


Nafas keduanya sama-sama memburu setelah perkelahian itu. Detak jantungnya pun terdengar sangat cepat. Meski sudah berhenti memukul, tapi tatapan keduanya masih memancarkan permusuhan.


"Berhenti! Jangan berkelahi lagi," pintaku saat Alan hendak menyerang lagi. Aku memeluk tubuhnya dengan erat, mencoba menenangkannya. Itu cukup berhasil. Perlahan detak jantungnya mulai melambat. Nafasnya kembali teratur dan tubuhnya berhenti bergetar.


Aku mendongak untuk melihat wajahnya. "Ayo kita pulang."


Alan menarik pandangannya dari wajah Kevin, beralih menatapku. "Baiklah, ayo pulang," sahutnya setuju.


Aku melepas pelukan dan bersiap pergi. Namun, saat aku maju selangkah, Alan justru menarik tubuhku sehingga aku jatuh ke dalam pelukannya lagi. Detik berikutnya bibirnya sudah mendarat bibirku, mamatuknya.


Aku melupakan satu hal. Alan tak menyukai penolakan. Namun, sejak tadi aku justru terus berusaha melepaskan diri. Itu membuat Alan menekan pinggang dan tengkukku semakin keras. Setelah menyadari itu aku berhenti bergerak dan memejamkan mata. Berharap ia segera menghentikan tindakannya.


Ciuman itu berlangsung selama beberapa saat. Cukup lama bagi beberapa orang yang mengecam tindakan kami. Tidak tahu malu! tak bermoral! Dua kalimat itu diucapkan oleh seseorang sambil lalu. Tidak terlalu lantang tapi cukup keras untuk di tangkap oleh pendengaranku.


Tekanan di tengkuk dan di pinggangku perlahan mulai mengendur dan tak lama kemudian Alan melepas ciumannya.


"Milikku," ucap Alan dengan seringai di wajahnya. Ia mengucapkannya dengan suara lantang, seolah ingin memberitahu semua orang bahwa aku miliknya.


Aku menoleh ke belakang, menatap Kevin yang berdiri satu setengah meter jauhnya dariku. Matanya memerah dan tinjunya mengepal sangat erat sampai buku-bukunya memutih.


Padahal kami sudah lama putus, tapi aku tetap merasa bersalah padanya karena ia harus menyaksikan ciuman kami tadi. Aku merasa seperti sedang mengkhianatinya.


Maafkan aku, batinku saat Alan membawaku pergi.