
"Kemari, duduk di sini," ucap Alan seraya membuka kakinya lebar-lebar. Ia memintaku duduk di depannya, diantara kedua pahanya itu.
Aku berhenti sejenak, mengamatinya. Duduk berdua dengan posisi seperti itu, apa dia ingin mandi lagi?
"Sempit," kataku kemudian. Aku kembali melangkah, menuju ke ujung sofa lainnya.
"Benar-benar pembangkang," gumam Alan saat aku melewatinya. Matanya terus mengawasiku.
Aku tersenyum, merasa tidak asing dengan sebutan itu. Aku sudah terbiasa mendengarnya, jadi sama sekali tidak merasa kesal ataupun marah. Selain pembangkang, sebutan lain yang sering kudengar adalah batu atau wanita keras kepala.
Aku menjatuhkan diri ke sofa. Melipat satu kaki dan menumpangkan ke kaki lainnya.
"Apa kau menyesal? Memiliki pacar pembangkang sepertiku?" kataku seraya kembali menatapnya. "Masih belum terlambat untuk putus."
Aku terkesiap saat Alan melesat ke arahku dan mendorongku ke belakang. Ia membungkuk, menyambar bibirku dan di akhiri dengan gigitan keras di ujungnya.
"Itu hukuman karena kau berani berkata putus lagi," ucapnya seraya menarik tubuhnya ke belakang. Ia kembali duduk dengan tegak.
Aku menatapnya dengan kesal. Setelah itu memalingkan wajah dan meraba sudut mulutku yang bengkak. Aw, sakit sekali...
"Dengar... Kau itu milikku dan selamanya akan tetap jadi milikku. Jadi jangan pernah berkata putus lagi dan jangan pernah berharap bisa lari dariku karena aku tidak akan pernah melepasmu, apa kau mengerti!"
Aku masih kesal, jadi dengan sengaja mengabaikannya. Namun, itu justru membuat Alan makin kesal.
"Apa kau mendengarku, Alea!" teriaknya lagi.
Aku mengusap telinga kiriku yang berdenging. "Berhenti berteriak, telingaku sakit," kataku seraya menoleh ke arahnya, menatap wajahnya lagi.
"Kau tidak mendengarkan aku," balasnya dengan suara normal. Jauh lebih rendah dari sebelumnya saat ia berteriak tadi.
"Aku dengar," bantahku. Mana mungkin aku tidak dengar dengan suaranya yang sekeras itu. Telingaku masih berfungsi dengan sangat baik. Langkah kaki semut saja bisa kudengar, apalagi suara Alan yang terkadang seperti halilintar itu.
"Apa yang kau dengar?" tanyanya. Tatapannya tak lepas dari wajahku.
"Aku milikmu dan selamanya akan jadi milikmu. Kau menyuruhku untuk tidak mengatakan putus lagi dan jangan berharap bisa lepas darimu karena kau tidak akan pernah melepaskan aku." Aku mengulangi kalimat yang ia ucapkan sebelumnya dengan sempurna, tanpa melewatkan satu kata pun.
Kedua sudut mulutnya terangkat tinggi, memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi. Tampak puas dengan jawabanku. "Bagus," ucapnya seraya mengangguk-anggukan kepala.
"Kemarilah..." ucapnya seraya menarikku ke dalam pelukannya.
Aku tak menolak. Sangat nyaman berada dalam pelukannya. Seolah semua bahaya atau masalah akan menyingkir dengan sendirinya jika aku di peluk seperti itu. Aku menyandarkan kepala di dadanya.
Untuk sesaat kami sama-sama terdiam. Aku memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang dengan gesit di aquarium yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang makan. Sementara Alan kembali menonton televisi yang saat itu menayangkan sebuah film tentang psikopat. Meski matanya fokus menonton film, tapi tangannya terus bergerak. Membelai rambutku dan menggulung ujungnya dengan jari telunjuk.
Aku mengalihkan pandangan dari ikan-ikan yang berwarna-warni itu dan kembali menatap Alan. "Al...."
"Hm," sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar berbentuk persegi itu.
"Ada yang ingin kutanyakan," kataku, lagi.
"Tentang apa itu?" Kali ini ia berkata sambil menoleh ke arahku. Tapi hanya sebentar, setelah itu kembali menatap lurus ke depan.
Aku menunduk, menatap jari-jariku yang sedang menarik bulu-bulu halus di lengannya yang melingkar di perutku. "Kau bilang kau menyukai dan juga mencintai aku."
"Itu benar." Alan mengakuinya tanpa ragu.
"Aku penasaran..." Aku berhenti sejenak. Mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya lagi. "Sejak kapan kau memiliki perasaan seperti itu dan hal apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
Aku terdiam, menunggu jawaban. Namun, hingga beberapa detik berlalu Alan tak kunjung membuka mulutnya. Jemarinya yang sejak tadi membelai rambutku berhenti bergerak, tapi matanya masih fokus menatap layar televisi.
Mungkinkah Alan tak mendengarku? Tapi itu tidak mungkin. Jarak kami sangat dekat dan aku mengatakannya dengan suara lantang, ia pasti mendengarnya.
"Al...." Aku memanggilnya lagi.
Kali ini ia menoleh dan langsung menjawab dengan singkat. "Ya."
"Aku bertanya padamu, apa kau tidak dengar?"
"Dengar, Sayang," ucapnya seraya membelai pipiku dengan lembut.
"Kalau dengar, kenapa diam saja? Kenapa tidak menjawab?"
Aku memandangnya dengan bingung juga. "Apa maksudmu dengan tidak tahu?"
"Aku tidak menyadari kapan aku mulai menyukaimu," jelasnya.
"Mungkinkah kau menyukaiku sejak awal? Saat pertama kali kita bertemu? Ya, mungkin kau jatuh cinta padaku pada pandangan pertama," tebakku.
"Itu konyol," ucapnya sambil tertawa. Bahunya sampai berguncang.
"Mengapa itu konyol? Itu sama sekali tidak konyol," protesku, tak setuju.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, Sayang. Orang-orang yang berkata seperti itu sebenarnya keliru dengan perasaannya. Mereka menganggap itu cinta, padahal sebenarnya itu nafsu."
Aku tidak mengalaminya, jadi tidak bisa menilai apakah perkataan Alan benar atau salah. Tapi, menurutku perkataannya ada benarnya juga. Rasanya tidak masuk akal kalau seseorang bisa langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu, kalau kagum mungkin iya. Aku lebih percaya dengan pepatah jawa yang pernah kubaca. Pepatah itu berbunyi 'witing tresno jalaran soko kulino' yang artinya cinta datang karena sering bertemu atau timbulnya cinta karena terbiasa. Aku tidak tahu mana arti yang lebih tepat dari pepatah itu, apakah kalimat yang pertama atau yang kedua? tapi kurang lebih artinya seperti itu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan pertanyaan kedua? Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?" tanyaku lagi.
Alan menggeleng. "Yang itu aku juga tidak tahu."
Aku melepas pelukannya. Duduk dengan tegak dan memutar tubuh menghadapnya. "Semuanya tidak tahu, apa kau yakin kalau kau benar-benar mencintaiku?"
"Tentu saja."
Aku masih menatapnya. Mengawasi setiap gerak tubuh serta sorot matanya. Berharap menemukan sesuatu. Tapi reaksinya tak berubah. Ia tetap tenang, sama sekali tak menghindari kontak mata denganku. Bahkan suaranya terdengar stabil. Itu menandakan kalau ia tak berbohong, ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Meski begitu aku masih belum bisa mempercayainya.
"Apa yang membuatmu begitu yakin? sedangkan kau tidak punya alasan," tanyaku.
"Apa cinta butuh alasan?" Alan bertanya balik.
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak memikirkan alasan apapun ketika mencintai seseorang. Aku hanya tau kalau aku menyukainya.
"Tidak ada alasan apapun untuk menyukaimu, Alea. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang mengatakan bahwa aku mencintai dan juga menginginkanmu."
"Tapi aku butuh alasan untuk memastikan seperti apa perasaanmu padaku yang sebenarnya. Apakah kau benar-benar mencintaiku atau tidak."
"Jadi... kau meragukan cintaku?" tanya Alan. Sorot matanya memancarkan kekecewaan.
Aku memalingkan muka, menghindari tatapan matanya yang tajam itu.
"Inikah alasanmu tidak segera menerima pinanganku? Kau pikir aku hanya main-main denganmu?" tanyanya lagi. Kali ini terdengar marah.
Aku menunduk, tak berani menatapnya. Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Kami sama-sama terdiam.
Alan meraih kedua telapak tanganku yang terkulai. Menggenggam dan mengusap punggungnya dengan ibu jari. "Percayalah padaku, Alea. Aku serius dengan semua yang pernah kukatakan padamu."
"Aku takut, Al...," kataku, masih menunduk. Menatap telapak tangan kami yang saling bertaut.
Genggamannya terlepas, ia memindahkan tangannya ke dagu dan mengangkatnya, memaksaku agar kembali yang memandangnya. Saat itu ia menatapku dengan lekat. "Apa yang kau takutkan? Tidak ada yang perlu ditakutkan, Alea."
"Aku khawatir kau keliru dengan perasaanmu, Al. Bagaimana jika kau tidak benar-benar mencintaiku? Aku takut kau akan pergi setelah menyadari perasaanmu yang sebenarnya."
"Aku tidak akan pergi," ucapnya seraya menggelengkan kepala. "Aku sangat yakin dengan perasaanku padamu, itu tidak keliru. Aku benar-benar menyukaimu, aku menginginkanmu, Alea."
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Penghianatan dan janji-janji palsu yang pernah kuterima membuatku sulit mempercayai kata-kata orang lain lagi. Aku takut Alan sama mengecewakannya seperti Kevin. Disaat aku sudah mencintainya, ia tiba-tiba pergi.
"Tidak apa-apa meskipun saat ini kau masih meragukan cintaku. Bahkan jika kau belum memiliki perasaan apapun padaku, itu tidak masalah."
Aku terhenyak dengan kalimat terakhirnya. Itu tidak benar. Kurasa aku mulai menyukainya, sedikit. Aku tetap diam dan terus mendengarkan.
"Masih banyak waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Akan kubuktikan betapa seriusnya aku padamu. Jadi, tunggu saja, Alea. Akan kurebut semua yang kau punya. Jiwa, raga dan juga hatimu. Semua itu akan menjadi milikku suatu saat nanti. Tidak, bukan suatu saat nanti, tapi secepatnya.
.
.
.
.