Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Pernikahan Adik dan tunanganku



Entah kenapa, sore itu aku merasa sangat gelisah. Aku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak seolah ada batu besar yang menindihnya. Kecemasanku kian bertambah saat lenganku tak sengaja menyenggol foto yang sudah lama menghiasi meja kerjaku. Itu fotoku bersama Kevin, calon suamiku. Ya, aku sudah punya pacar dan kami akan segera menikah.


Pecahan kaca berserakan setelah foto tersebut membentur lantai dengan keras. Bingkainya hancur berantakan. Aku membungkuk, memungut serpihan kacanya. Namun, karena kecerobohanku, kaca itu melukaiku. Menggores jariku hingga mengeluarkan setetes darah dan menodai foto di bawahnya.


Aku tertegun, memandangi foto itu dengan jantung berdebar kencang. Entah bagaimana firasatku mengatakan terjadi sesuatu yang buruk, tapi aku tidak tahu apa itu.


Aku berhenti membersihkan pecahan kaca itu dan bangkit berdiri. Mengambil ponsel di laci dan menghubungi Kevin.


Aku menggigit jari-jariku tanpa sadar, merasa semakin gelisah karena Kevin tak kunjung mengangkat panggilanku. Hingga akhirnya terdengar suara wanita yang berkata "Maaf, nomor yang anda tuju..."


Aku mematikan dan mengulangnya sekali lagi, berharap kali ini Kevin mengangkatnya. Namun, hingga dering ketiga, hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Aku semakin gelisah, sebab tak biasanya Kevin seperti itu. Ia selalu menjawab panggilanku meski sedang rapat sekalipun. Pikiranku menjadi kacau.


Apakah Kevin baik-baik saja? Apa sesuatu yang buruk menimpanya? Mungkinkah terjadi kecelakaan atau semacamnya?


Aku menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan diri dan mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang terus melintas di benakku. Akan tetapi itu tidak berhasil.


Aku melirik jam di dinding. Masih ada sekitar satu setengah jam lagi sebelum jam kerja berakhir. Persetan dengan aturan perusahaan. Tak peduli meski gajiku dipotong atau harus kehilangan pekerjaan sekalipun, aku meninggalkan kantor saat itu juga.


Aku bergegas menuju kantornya. Berjalan dengan tegesa-gesa dan menemui sekretaris Kevin dengan nafas terengah.


"Selamat sore Nona Alea, ada yang bisa saya bantu." Shinta menyapaku dengan ramah. Sekretaris itu sudah mengenalku sejak lama. Wanita itu juga tahu kalau aku tunangan Kevin sekaligus calon menantu dari pemilik perusahaan dimana ia bekerja sekarang.


"Aku ingin bertemu Kevin, apa dia ada?"


Shinta mengernyitkan dahi. "Bukankah Pak Kevin bersamamu?" tanyanya dengan bingung.


"Bersamaku?" aku mengulangnya.


Shinta mengangguk. "Iya. Beliau pergi satu jam yang lalu, katanya mau menemuimu."


"Apa kau tahu kemana dia pergi?" tanyaku.


"Pak Kevin tidak memberitahuku mau pergi kemana, tapi aku tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan seseorang ditelepon dan beliau berkata akan segera ke apartemen."


"Baiklah, terima kasih atas infonya, Shinta. Aku pergi dulu." Aku langsung pergi. Mengabaikan teriakan Shinta yang mengucapkan sampai jumpa lagi.


Aku menyetop taksi dan meminta sang supir mengemudi dengan cepat menuju apartemen Linggarjati.


Sesampainya di sana, aku bergegas masuk ke dalam apartemen yang kami tempati bersama. Ya, meski belum menikah, tapi kami sudah tinggal dalam satu atap.


Aku tersenyum saat mendapati pantofel milik Kevin sudah ada di sana. Namun, senyumku lenyap seketika saat mataku memandang sepasang sepatu wanita di sebelahnya.


Bukan itu saja, saat aku melangkah lebih dalam, aku menemukan beberapa pakaian berserakan di lantai. Jantungku berpacu lebih cepat dan cepat. Aku melangkah dengan takut, mendekati kamar kami yang kini dipenuhi rintihan dan juga erangan yang saling bersahutan.


Dengan tangan gemetar, aku membuka pintunya yang tidak di kunci. Pintu itu membentur dinding dengan keras. Mengejutkan dua manusia yang sedang bermain kuda-kudaan di atas kasur tanpa sehelai benangpun.


Dua orang itu menatapku dengan mata terbelakak.


"Lily..."


"Kakak..."


Seru keduanya bersamaan. Kevin menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Begitu juga dengan si wanita.


Kevin... Alia... Apa yang kalian lakukan? Bagaimana bisa kalian berbuat seperti itu?Aku ingin berkata seperti itu, tapi lidahku terasa kelu. Tak satupun kata bisa keluar dari mulutku yang bergetar. Aku mematung sambil terus memandangi mereka, seperti orang bodoh.


Hatiku seperti di remas dan di cabik-cabik. Sakit luar biasa, seolah ribuan pisau menusuknya berkali-kali. Dadaku sakit dan sesak, hingga membuatku kesulitan bernafas.


Detik berikutnya cairan bening meleleh dari sudut mataku, membasahi pipi. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mempertahankan posisiku agar tetap berdiri. Meski berulang kali hampir ambruk, seolah semua tulangku terlepas. Aku berbalik dan menyeret kakiku yang terasa berat. Aku meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun. Keluar dari apartemen dan berjalan dengan wajah tertunduk.


Aku hampir saja tertabrak sepeda motor saat menyebrang jalan. Karena terkejut oleh klaksonnya yang memekakkan telinga, aku jatuh dan terduduk di aspal.


"Apa kau buta?! Bisa-bisanya menyebrang tanpa melihat-lihat!" teriak pengendara sepeda motor itu.


Akan lebih baik jika aku buta, sehingga aku tidak perlu menyaksikan pemandangan yang menjijikan sekaligus menyakitkan itu.


"Apa yang kau lakukan sekarang? Tidak mau bangun? Apa kau tidak tahu dimana kau berada?" Orang itu bertanya dengan nada marah. "Hei... Wanita, bangun dan sadarlah. Lihat sekelilingmu, kau di tengah jalan sekarang. Jika mau mati, pergilah ke tempat lain, jangan menyusahkan orang lain."


Kata-katanya sangat pedas, tapi itu sama sekali tak mempengaruhiku. Hatiku sudah terlalu sakit hingga mati rasa. Aku tak akan merasakan apapun meski satu dunia memakiku.


Pria itu turun dari motornya. Berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang. Sementara aku tetap diam di tempat. Menundukkan kepala dan memandangi lututku yang berdarah.


"Selain buta, apa kau juga tuli?!" Pria itu berteriak lagi.


Seketika tangisku pecah. Aku menangis tersedu-sedu di hadapan orang asing itu.


"Aku tidak tahu kenapa dia menangis, aku tidak menabraknya, dia jatuh sendiri." Pria itu membela diri saat orang-orang disekeliling kami bertanya.


"Wanita... Berhenti menangis dan bangunlah. Orang-orang akan salah paham padaku jika kau terus begini," ucap pria itu lagi. Suaranya lebih lembut dari sebelumnya.


Pria itu menurunkan tubuhnya, berjongkok di depanku. "Apa kakimu sakit?"


Aku mendongak, menatap wajahnya yang tertutup masker. Hanya mata sipitnya yang terlihat dan juga kulitnya yang seputih salju.


Tidak. Bukan kaki, tapi hatiku yang sakit, sakit sekali.


...****************...


Dua bulan kemudian.


Seberapa keras aku menentang, pada akhirnya pernikahan ini tetap terjadi. Suka atau tidak, mau tidak mau, aku tetap harus menelan pil pahit itu.


Kevin dan Alia. Kupandangi tiga kata yang terpampang di sebuah papan berhiaskan bunga-bunga itu. Aku menarik nafas panjang, menyiapkan mental sebelum memasuki aula besar itu.


Benar, mereka pasti kasihan padaku. Seseorang yang seharusnya menjadi pengantin wanita kini justru hadir sebagai tamu undangan. Yang lebih miris lagi posisiku digantikan oleh Alia, adik kandungku yang kurang ajar itu.


Jangan menangis, kau wanita kuat, Kau pasti bisa, Alea. Aku terus mengulang mantra itu dalam hati sambil terus melangkah.


Akhirnya, aku berada di panggung ini juga. Panggung kecil yang sudah sejak lama aku impikan. Sebuah panggung yang didekorasi dengan ribuan bunga beraneka macam dan warna. Serta kursi kerajaan yang berada di tengahnya, di bawah lampu kristal berukuran besar yang menggantung di langit-langit.


Aku mengusir rasa sedih yang tiba-tiba muncul itu. Buru-buru melangkah dan menghampiri dua orang tua yang hampir saja menjadi ayah dan ibu mertuaku.


Keduanya berdiri berjajar di pelaminan, mendampingi putra kesayangannya yang mungkin sedang berbahagia.


"Kau datang, Nak." Ibrahim Sanjaya, ayah Kevin menyambut kedatanganku dengan hangat. Aku mengecup punggung telapak tangannya sebagai bentuk penghormatan.


"Tentu saja, P... Maksudku, Om." Aku lupa, sekarang aku bukanlah calon menantunya lagi. Aku tidak bisa memanggilnya papa lagi, seperti biasanya.


"Ini pernikahan adikku. Sebagai anggota keluarga, Lea harus datang," kataku, tersenyum.


"Jangan panggil papa seperti itu, Lea. Meskipun Lea tak menikah dengan Kevin, Lea akan tetap menjadi anak Papa dan Mama. Mengerti?"


Aku mengangguk. "Lea mengerti, Pa. Terima kasih."


Papa Ibra mengulurkan kedua tangannya ke atas, membelai kepala dan juga pipiku. "Berbahagialah, anakku," ucapnya sebelum aku beralih ke sisi sebelah kirinya.


Di sana, seorang wanita cantik menatapku dengan mata berkaca-kaca. Kuangkat kedua sudut mulutku ke atas. Berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.


Aku menghambur dalam pelukannya saat wanita itu membentangkan kedua tangan, menyambutku.


"Maafkan Kevin, ya, Sayang," ucapnya sambil terisak.


"Tanpa perlu diminta, Lea sudah memaafkannya, Ma," kataku.


"Terima kasih, Sayang." Nadia, ibu dari Kevin melepas pelukannya.


Aku mengulurkan tangan, menyeka air mata mama Nadia yang kian membanjir.


"Kenapa Mama menangis? Seharusnya Mama bahagia--sebentar lagi Mama punya cucu," hiburku.


"Mama akan bahagia jika cucu itu berasal darimu, Sayang."


"Jangan seperti itu, Ma. Dari wanita manapun cucu Mama dilahirkan, Mama harus bahagia. Alia dan Lea tak jauh berbeda. Dia gadis baik dan juga manis. Mama pasti akan menyukainya."


"Mama lebih menyukaimu, Lea."


Aku tersenyum. Merasa bahagia karena masih menerima banyak cinta dari kedua orang tua Kevin. "Terima kasih sudah menyayangiku, Ma."


Mama Nadia tampak terharu. Ia kembali memelukku sebentar, setelah itu mendaratkan kecupan di kedua pipi dan keningku.


Setelah selesai dengan kedua orang tua Kevin, aku bergeser ke samping. Mataku kini tertuju pada sepasang pengantin yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri. Tiba-tiba saja bayangan ketika mereka berdua beradu di atas ranjang kembali melintas di benakku. Aku memegangi dada saat kurasakan nyeri yang teramat menyakitkan dihatiku. Rasa sakit itu begitu kuat hingga membuat dadaku sesak dan aku sulit bernapas.


Kevin, yang berdiri dua meter jauhnya dariku, berlari ke arahku. Telapak tangannya yang besar menopang bagian belakangku dengan hati-hati. Seolah aku bisa jatuh kapan saja. Satu tangannya yang lain, menggenggam tanganku dengan erat. "Ada apa, Ly... Apa kau sakit?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Aku baik-baik saja," kataku seraya menepis kedua tangannya yang masih memegangiku.


"Jaga sikapmu! banyak orang yang melihat. Apa kau ingin mempermalukan keluarga kita?"


Dengan begitu Kevin melangkah kebelakang dan kembali ke tempat semula. Berdiri bersebelahan dengan Alia yang memandangku dengan tatapan benci.


Lucu bukan? Seharusnya akulah yang membencinya. Dia yang telah mencuri segalanya dariku. Bukan hanya merebut tunanganku, tapi juga merampas kebahagian dan juga masa depanku.


Seperti kata pepatah. Darah lebih kental dari pada air. Begitulah hubunganku dan juga Alia. Bagaimanapun, dia tetaplah adikku. Terlepas dari apa yang telah ia lakukan terhadapku, aku memaafkannya.


"Jadilah istri yang baik. Jangan banyak membantah dan belajarlah bersikap dewasa," pesanku pada adikku itu.


Alia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Aku mendekat, memeluknya. Alia tetap diam, tak membalas pelukanku.


"Berbahagialah, Lia. Aku doakan semoga pernikahanmu langgeng hingga maut memisahkan."


Aku melepas pelukan dan berpaling darinya. Beralih menatap Kevin yang memandangku sendu.


"Selamat atas pernikahanmu, Mas. Titip Alia. Jangan pernah sakiti dia. Lahir maupun batinnya," pesanku pada mantan tunangan yang kini telah menjadi adik ipar.


"Kita harus bicara, Ly," ucap Kevin, lirih. Ia tak peduli meski Alia memelototinya.


"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas. Kita sudah selesai."


"Aku masih mencintaimu, Ly."


Aku juga mencintaimu, Mas. Ingin rasanya ku lontarkan kalimat itu padanya. Namun, hanya bisa ku ucapkan dalam hati.


"Selamat tinggal, Mas. Berbahagialah." Aku melangkah pergi. Meninggalkan tempat itu setelah berpamitan pada kedua orang tua serta keluarga besar.


Ikhlas. Pesan ibu yang selalu terngiang di kepalaku. Satu kata yang sangat mudah diucapkan, tapi begitu sulit dijalankan. Jujur saja, sampai detik ini aku belum bisa merelakannya Kevin. Aku membencinya karena ia mengkhianatiku, mengkhianati cinta kami. Akan tetapi rasa benci itu tidak lebih besar dari rasa cinta dan sayangku padanya.


.


.


.


Jangan lupa tap ❤ agar tau update terbaru.


Likenya juga biar makin semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih 😊