
"Apa masih perlu naik mobil?" tanyaku, heran. Padahal gedung ini dengan perusahaannya bersebelahan. Jalan kaki sebentar juga sampai. Kenapa repot-repot bawa mobil segala?
"Apa kau pernah lihat seorang CEO ke kantor jalan kaki?" Alan bertanya balik.
Baiklah, kau bosnya, kau menang. Aku memilih diam daripada harus berdebat dengannya lagi, percuma.
Alan memaksaku masuk ke dalam mobilnya. Duduk bersebelahan dengannya di kursi belakang. Sementara jok depan di isi oleh Arman. Mobil pun mulai bergerak maju. Meninggalkan parkiran dan bergegas menuju gedung Arkana group.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku saat Alan meletakan kepalanya di pangkuanku dan berbaring menyerong.
"Tidur," jawabnya seraya memejamkan mata.
"Bukankah tidak nyaman?" tanyaku. Melirik sepasang kaki panjangnya yang tertekuk. "Kenapa tidak di rumah saja kalau mau tidur," kataku seraya mengelus rambutnya.
Alan kembali membuka mata. Lalu mengubah posisi tidurnya. Kini wajahnya menghadap ke atas, menatapku. "Alea ...."
"Hm," jawabku. Masih mengelus rambut dan juga dahinya.
Alan terdiam sejenak, mengamati wajahku. "Kau cantik," ucapnya kemudian.
"Aku tahu," kataku sambil tertawa.
Alan mengangkat alis, heran. "Kenapa tertawa?"
"Lalu, apa aku harus menangis?"
Alan tersenyum melihat kebingunganku. "Seharusnya kau berterima kasih saat seseorang memujimu."
Cih, aku tahu ada maksud tersembunyi di balik pujiannya itu. Ia ingin aku berterima kasih padanya tapi bukan dengan ucapan melainkan tindakan. "Aku sudah tahu maksudmu. Lupakan saja, aku tidak akan melakukannya," balasku.
Alan menyeringai. "Kenapa? Apa karena ada Arman?" tanyanya.
Orang di jok depan tampak mengerutkan kening saat Alan menyebut namanya. Kenapa aku di bawa-bawa? kira-kira begitulah isi hati Arman jika di lihat dari ekspresinya. Lelaki itu segera berpaling begitu aku memergokinya sedang memandang kami melalui kaca spion. Aku hampir tertawa melihat kegugupannya.
"Kau tidak menjawab, apa itu berarti iya?" tanya Alan lagi. Laki-laki itu bangun dan terduduk.
"Tidak juga." Aku menunduk, menatap celana panjang yang ku kenakan.
"Kalau begitu apa sekarang aku boleh menciummu?"
Aku terkesiap saat Alan tiba menyambar bibirku. Mencucupnya beberapa kali hingga membuatku gelagapan.
"Manis," ucap Alan dengan wajah tersenyum. Ia terlihat sangat puas.
Aku kembali melirik Arman. Bahunya menegang. Kedua tangannya mencengkeram setir mobil. Serta keringat di dahinya sebesar jagung. Ia tampak tertekan di kursinya.
Dia pasti lihat kan? ugh memalukan sekali. Aku mengkeret di kursi belakang. Menutup muka dengan kedua telapak tangan.
"Kita sampai, Tuan Muda," Seru Arman.
Aku menghela nafas lega. Syukurlah, akhirnya sampai juga. Aku bisa langsung kabur.
"Jangan turun," cegah Alan. Cecunguk itu kembali menutup pintu mobil yang baru saja kubuka.
"Ada apa?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.
Alan tak menjawab. Aku menatapnya dengan bingung saat lelaki itu justru turun dari mobil. Berjalan mengitari bagian belakangnya dan berdiri di sisi pintu yang kubuka tadi.
"Silahkan turun, Nyonya," ucapnya seraya membukakan pintu.
Apa ini? Mengapa Alan jadi romantis begini.
Aku membalas uluran tangannya dan bergegas turun tanpa mengalihkan pandangan dari wajah tampannya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Alan.
"Siap? Siap untuk apa?" tanyaku, bingung.
"tidak ada," ucapnya dengan senyum tipis. Alan meraih telapak tanganku, menggenggamnya. "ayo jalan," ajaknya. Kami melangkah bersama sambil bergandengan tangan.
Aku menghentikan langkah kala melihat beberapa orang berlari tergopoh-gopoh menuju pintu masuk. Kemudian berdiri berjejer di depan pintu. 'Apa kau sudah siap' Kini aku mengerti maksud dari pertanyaan tersebut.
"Jangan berhenti, teruslah melangkah." Alan mengaitkan jari-jarinya di sela jemariku, menggenggam tanganku dengan erat.
Berbeda dengan Alan yang melangkah dengan percaya diri. Selama berjalan aku justru menunduk, menghindari tatapan orang-orang yang menatapku dengan berbagai ekspresi.
"Sampai kapan kau akan terus menunduk?" tanya Alan.
Aku kembali mengangkat kepala. Baru sadar kalau ternyata kami sudah berada di dalam lift. Bukan lift biasa, tapi lift khusus yang hanya mengangkut para petinggi perusahaan. Aku bisa masuk tentu saja karena bersama Alan.
Alan mendekat. Meraih pinggangku dan menempelkan kepalanya di kepalaku. Dahi kami saling beradu. "Alea ...."
"Hm," jawabku, masih menunduk.
"Lain kali, jangan tundukan wajahmu di depan orang lain lagi."
"Kenapa?" Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, membalas pelukannya.
"Karena aku tak menyukainya. Kau hanya boleh menundukkan wajahmu di depanku, seperti sekarang." Hembusan nafasnya yang beraroma mint itu menerpa kulitku. Aku hanya tertawa mendengar aturannya itu.
"Alea ...." Alan memanggil lagi.
"Ya," jawabku, pelan.
"Lihat aku," titahnya.
Perlahan aku mendongak, menatapnya. "Apa, Sayang ..."
Alan tersenyum lebar. "Ulangi sekali lagi," ucapnya.
"Apanya?" tanyaku.
"Yang tadi kau katakan, coba ulangi sekali lagi."
"Yang mana?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.
"Tadi kau memanggilku apa?" Alan mencoba memancingku.
"Al?"
"Bukan yang itu." Alan mulai kesal, sedikit.
"Terus yang mana?" Aku pura-pura ikut kesal. "Ars?" lanjutku.
"Sayang, tadi kau memanggilku seperti itu. Aku ingin mendengarmu mengatakan kata itu lagi." Habis sudah kesabarannya yang setipis tisu itu. Ia memilih langsung ke intinya dari pada kode-kodean.
Aku tertawa dalam hati. Ternyata mengerjainya lumayan menyenangkan. "Oh ... Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Ya sudah, sekarang cepat katakan."
"Sayang ...." Bibirnya langsung merekah ketika aku mengatakan kata itu. Siapa sangka Alan bisa sebahagia itu hanya karena sebuah kata sederhana.
Seharian Alan tak berhenti memintaku mengucapkan kata itu. Baik saat di kantor maupun saat kami sudah di rumah.
"Katakan Sayang sekali lagi," bisiknya di telingaku.
"Bisakah kau berhenti sekarang? Jangan menggangguku lagi, aku mau tidur," kataku dengan mata terpejam. Aku sudah sangat mengantuk tapi ia terus saja memintaku mengatakan kata menyebalkan itu. Mulutku hampir berbusa karena terlalu sering mengatakannya.
Alan berbaring di sebelahku. Tangan dan kakinya melingkar di atas perutku. Memeluk tubuhku seperti sedang memeluk guling. "Ini yang terakhir, setelah itu kau boleh tidur," ucapnya.
"Janji?" tanyaku.
"Iya, janji," jawabnya.
"Awas saja kalau minta lagi, aku akan menendangmu keluar," ancamku.
"Tidak akan. Aku orang yang selalu menepati janji," ucapnya, meyakinkan.
"Baiklah, selamat tidur, Sayang," kataku, setengah sadar. Setelah mengatakan itu aku benar-benar tak sadarkan diri, tidur.
.
.
.