Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 66



"Ada yang bisa kubantu?" tanya Alan saat aku sedang membersihkan meja, usai sarapan.


"Tidak ada. Kau pergi mandi saja," kataku seraya menumpuk piring dan gelas bekas pakai, lalu membawanya ke dapur.


Alan tak mengindahkan perintahku. Ia justru membuntutiku di belakang. Bagai anak kecil yang tak ingin di tinggal oleh ibunya. Kemanapun pergi ia terus menempel padaku, seperti permen karet.


"Kau terlalu banyak bekerja, apa tidak lelah?" tanyanya.


Aku meletakan piring dan gelas di wastafel. Mengambil spons dan menuangkan sedikit sabun pencuci piring di atasnya.


"Tentu saja lelah." Aku mulai menggosok grill pan yang tadi ku gunakan untuk memanggang roti dan berhenti saat sepasang tangan yang ramping dan sedikit berotot itu terulur.


"Biar aku saja," ucap Alan seraya merebut spons di tanganku. Ia mengambil alih tugas itu secara paksa.


Aku bergeser sedikit, memberikan ruang untuknya agar lebih leluasa menggunakan wastafel.


Alan mulai menggosok cangkir bekas kopinya. Sementara aku mengelap area kompor dan sekitarnya. Sesekali aku melirik Alan yang masih mencuci piring. Kurasa ini pertama kalinya laki-laki itu melakukan pekerjaan tersebut. Gerakannya sangat kaku sekaligus menghawatirkan. Piring di tangannya hampir saja tergelincir. Selain itu ia terus menuangkan sabun. Lagi dan lagi hingga menghasilkan busa yang sangat banyak. Wastafel di bawahnya sampai tak terlihat karena di penuhi busa.


Aku terkekeh saat Alan menyalakan keran. Entah bagaimana airnya menyembur kemana-mana. Membasahi piyamanya dan juga area sekitar.


Alan menoleh ke arahku. "Ada apa? Kenapa tertawa?" Dahinya mengernyit saat memandangku.


Aku menahan tawa. Melihat busa-busa yang menempel di wajahnya. "Tidak ada, hanya ingin tertawa saja," kataku seraya berpaling. Meletakan pisau dan talenan ke tempat semula.


"Apa kau gila?"


"Hm, kurasa begitu," kataku, mengakui.


Aku tersentak kaget ketika terdengar suara yang memekakkan telinga. Saat aku berbalik gelas dan piring sudah bercecer di lantai. Tak berbentuk, pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. "Kenapa kau menjatuhkannya?" Aku menatap Alan yang juga tampak kaget. Ekspresinya sangat imut. Seperti bocah yang tak sengaja memecahkan barang saat di toko perabotan. Merasa bersalah sekaligus takut. "Aku tidak menjatuhkannya," bantah Alan.


"Jika bukan kau siapa lagi? Hantu?" Aku duduk berjongkok, mengumpulkan dan memungut serpihan-serpihan kaca itu.


"Sungguh, aku tidak mela ...."


Pyarrrr


Sebuah gelas terjatuh lagi, tepat di tengah-tengah kami. Aku mendongak, menatap wajahnya yang menjulang tinggi di atasku. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa terus menatap wajahnya.


"Kau lihat? Dia melompat sendiri," ucap Alan dengan polosnya.


Apa kau pikir aku idiot? Kau kira itu katak? benda itu bahkan tidak punya kaki, bagaimana caranya ia melompat?


"Kau tidak percaya padaku? Sungguh, bukan aku yang menjatuhkannya, Alea," ucapnya lagi.


"Ya, bukan kau yang menjatuhkannya, mereka melompat sendiri," sahutku, mengalah. Ya, lebih baik mengalah saja dari pada terus berdebat dengannya. Aku memasukan pecahan pring dan gelas itu ke dalam kresek. Kemudian membuangnya ke tong sampah. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan Alan.


Sama seperti yang kulakukan di kamarku sebelumnya. Aku membuka tirai dan jendela. Memungut kaos dan celananya yang tercecer di lantai. Dan yang terakhir merapikan tempat tidurnya yang berantakan. Aku menoleh ke belakang sebentar saat terdengar langkah kaki yang mendekat. Kemudian kembali berpaling setelah melihat wajahnya.


Alan melempar tubuhnya ke kasur. Menarik selimut di tanganku, lalu berguling ke kanan dan kiri. Begitu terus selama beberapa kali hingga membuat seprai yang sudah kurapikan itu kembali berantakan.


Aku mengelus dada, menghadapi tingkahnya yang terkadang kekanakan dan juga menyebalkan.


"Berhentilah, kau bukan anak-anak," kataku, mengingatkan.


Alan pun berhenti. Ia mengulurkan tangan padaku. "Bantu aku," pintanya.


Aku meraih telapak tangannya, berniat membantunya bangun. Namun Alan justru menarikku hingga akhirnya aku ikut terbaring di sebelahnya. Kedua tangannya melingkar di pinggang, mendekap tubuhku dengan erat.


Kali ini aku memilih diam. Sama sekali tak berusaha memberontak. Kupikir itu tidak ada gunanya juga. Jika aku memberontak Alan justru akan semakin mempererat cengkeramannya. "Aku belum selesai beres-beres," kataku, pelan.


"Kau marah padaku?" Alan menyurukkan kepalanya di dadaku. Ndusel-ndusel seperti anak kucing.


"Aku tidak marah."


"Setelah membersihkan dapur, kau pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku. Saat aku datang kemari kau juga hanya melirikku sebentar. Kau cuek padaku. Bukankah itu karena kau marah?"


Aku terkekeh. Merasa lucu dengan Alan. Ia mengira aku marah hanya karena tak mengatakan apapun saat aku pergi tadi.


Alan mendongak, menatapku. "Kenapa tertawa?"


"Karena kau lucu." Alan mengangkat alis, heran.


"Bagaimana bisa kau menyimpulkan begitu hanya karena aku tak berbicara padamu? Selain itu kau tidak melakukan kesalahan, jadi mengapa aku marah?"


"Aku memecahkan gelas dan piring kesayanganmu. Kau menghabiskan banyak waktu saat memilihnya. Ku kira kau marah karena kehilangan mereka?"


Aku tersenyum. Merasa kagum dengan ingatannya. Hal-hal sekecil dan sesepele itu Alan mengingatnya. Aku sendiri bahkan sudah lupa kapan membeli barang-barang itu. Aku mengulurkan tangan, membelai rambut hitamnya yang tebal. "Itu hanya piring dan gelas. Aku tidak akan marah padamu hanya karena suatu barang yang seperti itu," kataku sambil menatap manik matanya yang indah. "Selain itu aku masih bisa membelinya lagi lain kali."


"Apa kau sengaja?" tanya Alan. Menghentikan gerakan tanganku yang saat itu sedang membelai rambut di tengkuknya. Menyusupkan jemariku di sela-sela rambutnya.


"Apa?" tanyaku, tak mengerti.


Alan kembali menggeser pinggulnya. Lebih dekat lagi ke arahku. Merapatkan tubuh bagian bawah kami.


"Dia bangun, apa kau merasakannya?" ucapnya dengan senyum menyeringai.


Aku menatapnya dengan bingung. Tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan barusan. Siapa yang bangun? merasakan apa?


bersambung ....