
Aku yakin tubuhku lumayan berat. Tapi melihat bagaimana Alan membopongku sepertinya tubuhku seringan kapas. Nafasnya pun terdengar teratur, sama sekali tak seperti sedang membawa beban saat berjalan. Mungkinkah laki-laki ini memiliki memiliki kekuatan super?
Tak lama kemudian Alan menurunkanku tepat di sebuah bangunan yang di dominasi oleh kaca. Mataku menyapu ke sekeliling. Apa ini surga? tempat ini sangat indah, seperti dalam dongeng.
Alan menuntunku menyusuri jalan beraspal yang mengarah ke pintu bangunan tersebut. Di sisi kanan kiri jalan itu di apit oleh hamparan rumput hijau yang begitu subur dan terawat. Ada kolam ikan di sisi kanan. Bunga-bunga beraneka ragam dan juga warna tampak menghiasai halaman rumah yang lebih terlihat seperti taman bunga. Aku begitu terhipnotis dengan pemandangan yang ada, sampai tak sadar kalau kami sudah berada di depan pintu.
Kedatangan kami di sambut oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Entah siapa identitas pria yang tak lagi muda itu. Mungkinkah ia pemilik bangunan tersebut? Tapi seorang pemilik mana mungkin mau menyambut tamu bukan? Biasanya yang menyambut tamu adalah seorang pelayan. Namun jika di lihat dari penampilannya yang begitu rapi jelas ia juga bukan seorang pelayan.
"Selamat datang di vila kami Tuan muda dan Nona," ucap pria itu. Ia membungkukkan badan, memberi hormat.
Aku membalasnya dengan anggukan kepala. Sementara lelaki di sebelahku tampak tak bereaksi apapun. Ya, Cecunguk itu justru mengangkat dagunya, sombong sekali.
Aku terpaksa menendang kakinya agar laki-laki itu tersadar.
"Akh," pekik Alan kesakitan. "Mengapa kau menendang ku?" tanyanya. Memandang ke arahku.
"Cepat beri hormat padanya," kataku dengan suara setengah berbisik.
"Mengapa aku harus hormat padanya? Memangnya dia persiden?" jawab Alan dengan suara lantang.
Aku melirik ke arah pria berjas itu. Laki-laki itu tampak mengulum bibirnya, menahan tawa.
Aku menarik lengan Alan, memaksanya agar mendekat ke arahku. "Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun?" bisikku di telinganya. "Meskipun bukan presiden tapi beliau lebih tua dari kita, kau harus menghormatinya. Sekarang cepat tundukan kepalamu," titahku, lagi.
"Aku tidak mau. Kalau kau mau, lakukan saja sendiri," tolak Alan sambil berlalu pergi. Ia menyelonong masuk ke rumah itu begitu saja.
Dasar Cecunguk tak punya sopan santun! Makiku dalam hati.
Aku tersenyum, menatap ke arah pria berjas itu. "Maafkan teman saya yang kurang ajar itu ya, Pak," kataku padanya.
"Tidak apa-apa, Nona," sahutnya dengan senyum ramah. "Silahkan masuk, Nona," ucapnya kemudian.
"Oh iya, terimakasih, Pak." Aku pun kembali melangkah maju menyusul Alan yang pergi lebih dulu.
Begitu masuk aku kembali di kejutkan dengan desain interior rumah itu yang begitu mewah. Namun tidak norak. Tidak ada warna emas sama sekali, semuanya di dominasi warna putih dan juga abu muda. Ada juga warna coklat muda tapi tak sebanyak dua warna tadi.
Aku menghampiri Alan yang duduk di sofa dengan santainya. Mengangkat kaki dan meletakkannya di atas meja. Sungguh sangat tidak sopan. Padahal saat itu masih ada orang lain yang entah apa statusnya. Entah pemilik atau pelayann. Yang pasti ia memandu kami berdua. Atau lebih tepatnya memanduku. Karena kalau Alan tak perlu di pandu sudah main nyelonong sendiri.
"Kenapa kau mengajakku ke sini, Al?" tanyaku begitu sampai disisi Alan. Aku ikut duduk di sofa, bersebelahan dengannya
"Bukankah kau ingin berendam? Di belakang ada pemandian air panas juga. Tempatnya lebih bersih dan juga privat. Tak ada orang lain lagi selain kita berdua," sahut Alan menjelaskan.
Aku melirik pria berjas hitam yang berdiri tak jauh dari kami. Laki-laki itu berdiri tegak dan sama sekali tak bergerak. Jika bahunya tak bergerak naik turun, mungkin orang akan mengiranya patung.
Memangnya orang tua itu bukan orang? ucapku dalam hati.
"Dia akan segera pergi," ucap Alan.
Aku terkejut mendengar penuturan Alan barusan. Apa dia bisa mendengar isi hati orang lain? ucapannya seperti jawaban dari pertanyaan yang kuucapkan dalam hati.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan muda," ucap Pria berjas hitam itu. Ia kembali membungkukkan badan di hadapan Alan. Kemudian berlalu pergi dan menutup pintu depan.
"Kenapa dia memanggilmu Tuan muda, Al?" tanyaku bingung. Pria itu juga tampak sangat menghormatinya. Padahal usia Alan pasti jauh di bawahnya. Aku mulai bertanya-tanya Sebenarnya Alan ini siapa? Apa dia sebenarnya seorang konglomerat?
"Tapi orang itu juga sangat menghormatimu, ia selalu membungkukkan badan di depanmu," kataku masih penasaran.
"Bukankah seorang pelayan harusnya bersikap seperti itu pada tamunya? Aku menyewa tempat ini tidak murah sudah pasti pelayanannya harus istimewa."
Huh. Kukira dugaanku benar kalau dia anak konglomerat. Tapi seharusnya aku sudah sadar sejak awal. Mana ada seorang anak konglomerat berpenampilan seperti Alan. Memakai anting dan juga kalung rantai. Jika seorang konglomerat pasti memakai setelan jas dan tampak berwibawa. Kalau Alan tak memiliki aura wibawa sama sekali. Ia justru lebih terlihat seperti preman.
"Eh, kau mau apa, Al?" Aku lekas memalingkan wajah saat Alan berdiri dan melepas bajunya.
"Aku mau berendam, kau tidak mau ikut?" ucap Alan. Ia melempar jaket dan kaosnya di atas meja, tepat di depanku.
Apa dia tak punya malu? Kenapa selalu telanjang di depan mataku.
"Tak bisakah kau melepas bajumu di tempat lain? Aku masih ada di sini," kataku. Meskipun tak melihat tapi bisa ku dengar ia mulai melepas ikat pinggangnya. Benar saja, tak lama kemudian ia melempar celana panjangnya di atas meja, bercampur dengan kaos dan juga jaketnya.
"Mengapa kau selalu berpaling saat aku membuka baju? Apa tubuhku begitu menggoda sampai kau tidak tahan kalau melihatnya," ucapnya dengan tawa mengejek.
Cih, benar-benar cowok narsis.
"Yang benar saja. Mana mungkin aku tergoda dengan badan jelekmu itu. Perutmu saja rata begitu, sama sekali tak menarik," ledekku.
"Kalau begitu kenapa kau tak berani melihatku?" tanyanya.
"Kau telanjang, jadi mana mungkin aku mau melihatmu. Jika aku melakukan itu berarti aku sudah kehilangan akal sehat."
"Aku tidak telanjang," bantah Alan. "Lihat, aku masih pakai celana," imbuhnya.
"Bohong. Kau pasti membohongiku. Aku tak akan tertipu," kataku tak percaya. Jelas-jelas ia sudah membuka celananya.
"Otakmu sepertinya kotor sekali, Alea. Aku mana mungkin telanjang di depanmu, kecuali kau yang memintanya. Aku akan membukanya dengan senang hati."
"Terserahlah kau mau percaya atau tidak. Aku mau berendam dulu. Kalau kau mau berendam juga pergilah ke kamar di sebelah kananmu. Di sana ada baju renang yang bisa kau pakai," imbuhnya.
Aku mengintipnya sebentar. Ketika mendengar langkah kakinya yang menjauh. Ternyata Alan tidak berbohong. Laki-laki itu memang tak sepenuhnya telanjang. Ia masih mengenakan celana pendek.
Aku bergegas menuju kamar yang di tunjukan Alan. Di sana memang ada dua potong pakaian renang. Aku memilih salah satunya yang tak terlalu terbuka. Setelah berganti pakaian aku segera keluar dan menyusul Alan.
Aku ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang itu. Airnya hangat, saat nyaman berendam di suhu seperti itu.
"Jangan ganggu aku," kataku dengan mata terpejam. Meskipun tak melihat tapi bisa kurasakan kalau Alan mendekatiku.
"Tenang saja, aku tak akan menganggu. Aku hanya ingin melihat tubuh seksimu saja," ucap Alan terus terang.
Aku lekas membuka mata. "Dasar laki-laki kurang ajar!" kataku seraya mengejarnya yang berenang ke tengah kolam.
.
.
.
.