
"Dimana yang lainnya? kenapa hanya kita berdua?" tanyaku seraya menjatuhkan diri di kursi kayu di sebelah Alan.
"Siapa yang kau maksud?"
"Keluargamu, apa mereka tidak ikut makan?" Aku mengambil piringnya. Mengisinya dengan dua centong nasi.
"Kakek dan nenekku sedang berlibur ke luar negeri." Alan menunjuk semur daging sapi yang dipotong dadu dengan tangannya. "Sayang, aku mau itu."
Aku mengambil tiga potong dan meletakan di piringnya. "Apa lagi?" tanyaku.
"Opor ayam sama telur ceplok juga."
Aku menambahkan dua lauk tersebut ke piringnya. Setelah itu barulah mengambil nasi dan lauk untuk diriku sendiri.
"Bagaimana dengan ayahmu?" aku bertanya lagi.
"Bajingan itu tidak akan pernah menginjakan kaki di rumah ini lagi," ucapnya penuh kebencian.
Seolah tahu apa yang akan kukatakan, Alan sudah menjawabnya terlebih dulu sebelum aku bertanya. "Jangan bertanya kenapa dan jangan bertanya apapun tentangnya, aku tak mau membahasnya."
Suasana hatinya tampak sangat buruk sekarang. Dengan begitu aku tetap diam, tak berani mengatakan apapun lagi. Makan malam kali ini berlangsung hening. Alan menghabiskan makanannya lebih cepat dari biasanya. Setelah itu berlalu pergi. Meninggalkan aku dalam keadaan bingung.
Apa aku salah? Mengapa dia tiba-tiba marah?
Selepas makan, aku bergegas menyusulnya ke atas. Namun, aku tak bisa masuk ke kamarnya. Ia menguncinya dari dalam. Aku mengetuk dan memanggilnya beberapa kali, tapi Alan tak menyahut dan tak ada tanda-tanda akan membuka pintu.
Aku berbalik dan menuruni anak tangga. Seperti anak kecil yang tersesat, aku tidak tahu harus kemana dan melakukan apa di tempat asing ini. Aku duduk sendirian di ruang tamu, seperti orang hilang.
Haruskah aku pulang saja? Ya, kurasa sebaiknya aku pulang dan beristirahat di rumah.
Aku baru saja memegang handle pintu dan bersiap pergi saat suara paman Sam menggema diruang tamu itu.
"Nona Alea..."
Aku berbalik menghadapnya. "Ya."
"Apa Anda ingin pergi?"
"Hah? Hmm." Aku menunduk, merasa malu dengan jawabanku sendiri yang seperti orang idiot.
"Kemana?"
Paman Sam menahan senyum melihat kebingunganku. "Sudah malam, tidak baik seorang wanita pergi sendirian. Sebaiknya Nona Alea menginap di sini saja--aku sudah menyiapkan kamar tamu."
"Apa tidak apa-apa?" tanyaku, ragu. Meski aku tidak tahu kenapa, tapi Alan tampaknya sangat marah. Sepertinya ia sudah tak menginginkanku lagi.
"Tentu, Nona," sahut paman Sam, meyakinkan.
"Baiklah," kataku, setuju. Hanya malam ini saja. Besok baru aku pulang. Aku akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum Alan bangun.
"Mari... Biar kutunjukan kamarnya."
Aku mengekor di belakang paman Sam tanpa suara. Ikut berhenti saat Paman sam berhenti di depan sebuah kamar, dekat tangga.
"Silahkan, Nona, kamarmu di sebelah sini," ucap paman Sam seraya menunjuk kamar di belakangnya.
"Terima kasih, Paman."
"Sama-sama, Nona."
"Kalau begitu aku masuk dulu," pamitku.
"Silahkan, Nona. Selamat beristirahat. Jika membutuhkan sesuatu telepon aku saja. Nomornya tertera di buku, di sebelah telepon yang di meja."
"Baik, Paman. Sekali lagi terima kasih." Setelah mengatakan itu, aku lekas masuk ke dalam kamar tersebut.
Kamar tamunya tak sebesar kamar Alan. Mereka tak memiliki ruang ganti tersendiri. Hanya ada kasur berukuran besar, meja kerja yang di lengkapi kursi dan juga lemari pakaian. Namun, tetap ada kamar mandi di dalamnya yang cukup luas.
Aku menanggalkan pakaianku dan bergegas ke kamar mandi. Mengguyur tubuhku dengan air hangat.
Untungnya di dalam lemari ada beberapa setel piyama, jadi tidak perlu mengenakan baju yang sudah kupakai sepanjang hari.
Sebelum tidur aku mengucek pakaianku. Memerasnya dengan kuat dan mengibasnya berkali-kali agar cepat kering. Setelah itu menggantungnya di kamar mandi.
Malam semakin larut. Tempat ini sangat asing bagiku dan suasananya begitu hening, membuatku sedikit takut. Aku menarik selimut hingga ke atas kepala dan memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Akan tetapi tidak bisa.
Aku berguling ke kanan dan kiri, mencari posisi yang tepat. Saat aku hampir tertidur, tiba-tiba muncul sebuah tangan putih yang menyingkap selimutku dengan sangat pelan. Dengan mata terbelalak dan jantung berdebar kencang aku menyaksikan jari-jari panjang dan pucat itu merayap di pinggangku.
"Aaaaakkkkkk..." Dengan mata tertutup, aku menjerit sekuat tenaga. "Pergi! jangan ganggu aku, kumohon..."
Bersambung...