Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 94



Aku memutar kepala sedikit. Menatap Alan yang berada di belakangku. Saat itu ekspresinya tampak biasa saja. Tatapan matanya lurus ke depan, memperhatikan layar laptopnya dan mendengarkan penjelasan Arman.


Dia sama sekali tidak terlihat sedang bergairah, Apa aku yang terlalu banyak berpikir?


Aku lekas berpaling darinya dan kembali menatap ke depan. Mengikuti rapat tersebut dengan serius. Akan tetapi konsentrasiku terpecah saat kembali merasakan sesuatu yang membuat posisi dudukku tidak nyaman. Sesuatu yang aku duduki itu bergerak lebih aktif dari sebelumnya. Tubuhku membeku seketika. Kali ini aku yakin, itu pasti itunya.


"Ada apa? Mengapa kau tegang sekali?" bisik Alan di telingaku. Wajahnya sangat dekat, hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menerpa sebagian wajahku.


"Kurasa kau jauh lebih tegang dari pada aku," sindirku tanpa menatapnya.


Alan tertawa kecil. "Kau merasakannya?"


'Dia' terus menendang-nendang, mana mungkin aku tidak merasakannya?


Aku diam tak bergerak, bagai patung. Bahkan untuk mengambil nafas saja, aku tidak berani. Takut gerakanku semakin memicu gairahnya.


"Apa kau mau mati? sampai kapan kau akan menahan nafas?" kata Alan, lirih.


"Biarkan aku turun, Al. Ini... tidak nyaman." Aku mencengkram ujung meja. Seluruh wajahku terasa memanas.


"Dimana yang tidak nyaman? di sini?" tanyanya seraya meraba pahaku.


Aku menghentikan tangan nakalnya itu. "Jangan macam-macam, Al. Kita sedang rapat sekarang--banyak yang melihat," kataku sambil menggertakkan gigi.


"Kalau begitu, apa aku boleh berbuat macam-macam setelah rapat? kita hanya berdua sekarang," ucapnya dengan senyum menggoda.


Aku mengulurkan satu tangan ke belakang, meraih pinggangnya dan mencubitnya dengan keras.


"Aaakkkk...." Alan mengerang kesakitan. Teriakannya sangat kencang hingga mengejutkan semua orang yang mengikuti rapat itu.


Ada apa? Mengapa bos tiba-tiba berteriak?


kira-kira begitulah yang terlukis di wajah mereka saat memandangi Alan. Mereka tidak tahu, akulah pelaku utama dibalik teriakan bosnya.


Berbeda dengan yang lain, yang menatap Alan dengan bingung sekaligus penasaran, Arman justru menatapku dengan curiga. Raut wajahnya seolah mengatakan 'apa yang baru saja anda lakukan, Nona? Mengapa tuan muda kami tampak begitu kesakitan?'


Aku berpaling darinya dan berbalik menghadap Alan yang sedang mengusap-usap pinggangnya. Orang lain tidak tahu aku telah mencubitnya karena yang tertangkap kamera hanya setengah badan.


"Ada apa, Tuan? Apa aku tidak sengaja menginjak kakimu?" tanyaku, pura-pura panik.


"Maaf, aku tidak sengaja," lanjutku sambil tersenyum mengejek.


"Tunggu saja, Alea. Aku akan menghukummu usai rapat nanti," ancamnya.


Aku kembali tersenyum. "Ampuni aku, Tuan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Hmph." Alan mendengus kesal.


"Apa Anda baik-baik saja, Tuan Muda?" tanya Arman.


Alan kembali menegakkan tubuhnya dan menjawab, "Ya. Kau bisa lanjutkan."


"Baik, Tuan Muda."


Dengan begitu rapat kembali berlanjut dan selesai setengah jam kemudian.


Begitu konferensi itu berakhir, aku melompat turun dari pangkuannya dan berlari keluar. Alan mengejar di belakangku.


"Mau kemana kau? Kemari--Jangan lari, Alea!"


Kakinya sangat panjang, jadi ia dapat mengejarku dengan mudah. Dengan satu tarikan aku sudah berada dalam pelukannya dengan nafas terengah. Jantungku berdegup kencang karena berlari.


"Kena kau... Kau pikir bisa lari dariku, hah!" ucapnya saat ia berhasil menangkapku. Ia mengangkat tubuhku. Membawaku ke ruang tamu dan melemparnya ke sofa.


"Rasakan! Ini pembalasan dariku karena kau mencubitku tadi."


"Ampun... Hentikan, Al. Geli sekali."


"Tidak. Belum saatnya," sahutnya. Jari-jarinya masih terus menggelitiki tubuhku sambil tertawa puas. Lima menit kemudian barulah berhenti. Kedua tangannya masih berada di pinggangku.


"Masih berani mencubitku lagi?"


Aku menggeleng. "Tidak. Tidak akan lagi."


"Bagus. Lain kali jika kau melakukannya lagi, aku jamin kau tidak bisa turun dari tempat tidur," ancamnya lagi. Ia membungkuk, mengecup pipiku dua kali. Setelah itu menarik diri dan duduk dengan tegak.


"Aku lapar--ayo makan," ajaknya seraya membantuku bangun.


Aku bangkit berdiri. Merapikan baju dan rambutku yang berantakan. Kemudian menggandeng tangannya dan berjalan bersamanya menuju meja makan.


"Pinggangmu... apa masih sakit?" tanyaku.


"Kau mengkhawatirkan aku sekarang?" sahutnya tanpa melirikku.


"Hmm," gumamku seraya mengangguk.


"Sedikit," akunya. Ia menoleh ke arahku dan mengeluh. "Kurasa itu memar. Kau mencubitnya terlalu keras."


"Maaf," kataku dengan tulus. "Berhenti sebentar, biar kulihat," kataku seraya berhenti melangkah.


Alan mengikuti instrusiku. Ia berhenti melangkah dan membiarkan aku memeriksanya.


Aku melepas jasnya. Meletakkannya di sandaran kursi dan mulai membuka kancing kemejanya, satu-persatu.


"Alea... Kau ingin memeriksa atau memperkosaku? Mengapa pakaianku di lepas?"


Aku menghentikan gerakan tanganku. Sedikit mendongak saat menatap wajahnya.


"Kau pikir mataku bisa tembus pandang?" tanyaku. Aku kembali menunduk dan melanjutkan membuka kancing kemejanya. "Bagaimana aku bisa tahu jika tidak melepasnya?"


"Dasar bodoh. Mengapa repot-repot melepasnya? Kau hanya perlu menariknya ke atas, seperti ini." Alan menarik ujung kemejanya dan memperlihatkan pinggangnya padaku.


Hah? Iya juga ya. mengapa aku jadi sebodoh ini?


Benar kata Alan, itu memang memar. Alan meringis saat aku membelai pinggangnya yang agak kebiruan itu. Pantas saja ia tampak sangat kesakitan tadi. Aku tidak menyangka akan separah ini.


"Sakit sekali, ya? Maaf... Aku tidak bermaksud menyakitimu," kataku, merasa bersalah.


Alan tersenyum. Tangannya membelai kepalaku dengan lembut. "Tidak apa-apa, kau tidak sengaja."


"Tunggu di sini sebentar--aku ambil es batu untuk mengompresnya."


"Nanti saja. Makan dulu--kau belum makan apapun sejak tadi," ucapnya seraya menarikku yang saat itu hendak pergi.


"Tapi..."


"Aku akan menghukummu jika kau tidak menurut!" selanya. "Duduk!" titahnya kemudian.


Aku tak berani membantahnya. Hanya bisa menuruti kemauannya. Duduk di kursi sebelahnya dengan tenang dan menikmati makan siang bersamanya.


Pada awalnya, makan siang itu berjalan seperti biasa. Alan memakan apapun yang ada di piringnya dengan tenang. Akan tetapi ia tiba-tiba membanting alat makannya. Sendok dan garpu itu membentur piring keramik dengan keras. Mengejutkan siapa saja yang ada di sekitarnya, termasuk aku.


"Apa kau tidak bisa diam?! Mengapa kau terus saja mengoceh seperti beo?! Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak membutuhkan apapun. Mengapa kau terus menawariku ini dan itu? Apa kau tuli!" Teriak Alan.


Bersambung...