Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 37



Pagi harinya aku bangun dalam keadaan buta. Dalam artian tak mengerti waktu. Entah sekarang jam berapa. Saat aku menyingkap tirai, kulihat di luar masih gelap.


"Apa ini masih tengah malam?" gumamku. Masih menatap dinding kaca. Beberapa kendaran roda empat tampak melintasi jalan bawah sana.


Sebenarnya jam berapa sekarang? Huh, kenapa tidak ada jam di sini. Aku membalikan badan. Kemudian berjalan keluar kamar. Aku menjelajahi seluruh ruangan, mencari keberadaan jam dinding atau sejenisnya. Namun sudah lima belas menit aku berkeliling sama sekali menemukannya. Aku tertegun sejenak, memperhatikan sekelilingku sekali lagi. Apa di sini benar-benar tak menyediakan jam? Sayang sekali, hotel sebagus dan semewah ini ternyata juga memiliki sedikit kekurangan. Tapi, tunggu, sepertinya aku melewatkan satu ruangan. Kamar yang di pakai Alan. Aku belum mengeceknya, aku penasaran mungkinkah di kamarnya itu ada jam?


Aku kembali melangkah dan kembali berhenti tepat di depan kamar yang di gunakan Alan.


Tok tok tok


"Al ... Kau masih tidur?" tanyaku sambil mengetuk pintunya. Aku terdiam, menunggu jawaban. Namun hingga beberapa detik berlalu sama sekali tak ada jawaban. Sepertinya dia memang masih tidur. Aku memegang kenop pintu, memutarnya ke kanan.


Klek! Pintu itu terbuka sedikit.


"Eh, ternyata tidak di kunci," gumamku, sedikit terkejut.


"Al, bolehkah aku masuk? Ya, masuk saja Alea, tidak apa-apa," ucapku saat berada di ambang pintu. Aku mendorong pelan daun pintu itu dan masuk ke dalam kamar Alan. Aku mengedarkan pandangan, memperhatikan setiap sudut ruangan ini. Tak jauh berbeda dengan kamar yang ku tempati. Sama-sama besar dan juga mewah. Hanya saja ranjang yang ada di sana tak sebesar ranjang yang kini sedang di tiduri Alan.


Aku membuang nafas kasar. "Huh, di sini juga tidak ada jam," gumamku setelah melihat sekeliling. "Eh, tapi sana ada jam tangan Alan." Aku berjalan menghampiri meja kecil di sisi tempat tidur. Kuraih jam tangan itu yang teronggok di atas nakas. Ternyata baru jam empat pagi, pantas saja masih sangat gelap. Kuletakan kembali jam tangan itu ke tempat semula. Kemudian berbalik badan dan hendak beranjak pergi. Namun melihat wajah Alan yang terlelap membuat langkahku terhenti. Aku duduk di tepi ranjang. Sedikit membungkukkan badan untuk melihat wajah Alan lebih dekat. Wajahnya begitu teduh hingga membuatku ingin berlama-lama memandangnya.


Bahkan saat tidur pun ia tetap terlihat tampan. Alan ini umur berapa ya? wajahnya masih seperti remaja SMA, imut sekali. Jangan-jangan dia memang masih sangat muda. Jika tebakanku benar berarti dia selama ini songong sekali padaku.


Aku mengulurkan tangan, menyentuh pipinya dengan telunjukku. Eh, kulitnya kenapa halus sekali. Bahkan lebih halus dari pada aku. Aku tertawa tanpa suara saat telunjukku menusuk-nusuk pipinya yang kenyal.


Aku terperanjat saat Alan tiba-tiba membuka mata dan memegangi tanganku. "Apa itu menyenangkan?"


Aku lekas memalingkan wajah. Kemudian memekik dalam hati. Aaaaakk, malu sekali tertangkap basah olehnya, rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi saat ini juga.


"Berani sekali kau memalingkan wajah setelah mempermainkanku," ucap Alan.


Aku memutar kepala dan kembali menatapnya. "Maaf," kataku, nyengir.


"Kenapa kau sudah bangun, Al? Ini masih pagi."


"Bagaimana aku tidak bangun, seseorang tiba-tiba menyelinap masuk tanpa permisi. Lalu berjalan mengendap-endap bahkan menusuk-nusuk pipiku berulang kali," sindirnya.


Aku menarik tanganku dari genggamannya. "Siapa bilang aku tidak permisi?" kataku, tak terima.


"Sebelum masuk aku sudah mengetuk pintu dan juga meminta izin padamu," jelasku, kemudian.


"Dan kau menjawabnya sendiri," balas Alan.


Aku kembali terkejut. Jadi dia sudah bangun tapi pura-pura masih tidur? Benar-benar menyebalkan. "Jika sudah bangun kenapa masih pura-pura tidur?" tanyaku.


"Aku penasaran apa yang akan kau lakukan di kamarku," sahutnya.


"Kau tidak berpikir macam-macam 'kan?" tanyaku, lagi.


"Macam-macam seperti apa maksudmu?"


"Sudahlah, lupakan saja," kataku, malas.


"Jadi ... Apa tujuanmu ke sini?" Alan bangkit dari tidurnya. Lalu duduk bersila, berhadapan denganku.


"Bukankah kau sudah tahu? Aku mencari jam."


"Hanya itu saja?" tanyanya. Alan mengangkat salah satu alisnya, seolah tak percaya dengan apa yang ku katakan.


"Tentu saja. Memangnya apa lagi," kataku, ketus.


"Jika memang begitu, setelah kau melihatnya kenapa kau tidak langsung pergi? Kau malah mendekatiku dan bermain-main dengan wajahku. Mungkinkah kau sengaja ingin menggodaku?" ucap Alan dengan senyum menyeringai.


Aku menatapnya kesal. "Untuk apa aku menggodamu, kau sama sekali tak menarik."


"Benarkah?" ucapnya tak percaya. "Aku tidak menarik tapi tadi kau memandangku lama sekali," ucapnya dengan senyum mengejek.


"Terserah kau sajalah, Al," kataku, menyerah. Aku bangkit berdiri dan berlalu pergi.


"Kau mau kemana?" tanyanya saat aku baru berjalan beberapa langkah.


"Kembali ke kamarku dan mandi," kataku tanpa memandangnya.


"Mengapa kau mandi di pagi buta begini," ucap Alan.


"Apa kau lupa aku harus kembali ke kota A? Aku harus sudah sampai di sana sebelum jam sembilan." Sebisa mungkin aku tak boleh terlambat masuk kantor.


"Apa kau mau langsung kerja? Kakimu masih terluka," ucap Alan mengingatkan. Ia setengah berteriak saat mengatakannya agar aku bisa mendengar.


"Cutiku sudah habis," balasku, ikut berteriak. Aku kembali masuk ke kamar dan mulai membersihkan diri.


Satu jam kemudian aku kembali keluar dalam keadaan sudah rapi. Memakai baju semi formal yang di bawakan Alan semalam. Saat aku keluar kulihat Alan juga sudah bersiap. Penampilannya kembali seperti biasanya. Memakai kaos dan juga celana jeans bolong-bolong. Tak lupa dengan anting dan juga kalung rantainya.


"Sarapan dulu, setelah itu kita pulang bersama," ucapnya.


Aku duduk di samping Alan dan mulai menikmati sarapan bersamanya. Usai sarapan kami pun keluar dari hotel. Alan membukakan pintu mobil untukku dan aku pun masuk ke dalam. Setelah menutup pintu, Alan mengitari mobil dan ikut masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang kemudi, bersebelahan denganku.


"Mobil siapa ini, Al?" tanyaku saat Alan menyalakan mesin.


"Mobil orang," jawabnya dengan wajah datar.


"Kau mencurinya?" Aku mendelik ke arahnya.


"Hm," sahutnya singkat. Mobil yang kami tumpangi sudah meluncur ke jalanan.


Aku menatapnya tak percaya. Dia ini memang benar-benar berandal. Berani-beraninya membawaku dengan mobil curian. "Cepat putar balik dan kembalikan mobilnya. aku tidak mau masuk penjara," kataku, memerintah.


"Kau tenang saja, kita tidak akan tertangkap. Setelah mengantarmu aku akan mengembalikannya," ucapnya santai.


Aish, dasar Cecunguk sialan!


Aku tak bisa berkutik. Hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati agar kami tak tertangkap. Perjalanan pulang memakan waktu selama dua jam. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum jam masuk kantor. Alan menghentikan mobilnya di halaman gedung dimana tempatku bekerja. Begitu aku keluar dari mobil Alan langsung membopongku dan membawaku menuju gedung tersebut.


"Apa yang kau lakukan? cepat turunkan aku!" pintaku seraya menabok bahunya.


"Kakimu belum sembuh," ucapnya santai. Ia terus berjalan dan mengabaikan ucapanku.


"Banyak yang melihat, cepat turunkan aku!" kataku, mulai memberontak.


Alan menghentikan langkahnya. Ia menatapku tajam. "Berhentilah bergerak dan patuh saja, Alea. Kalau tidak aku akan melemparmu."


"Ya sudah, lempar saja," tantangku.


Alan memutar badannya dan berjalan berlawanan arah menuju ke jalanan. Ia mengayunkan tubuhku, bersiap melempar.


"Ya!! Kau mau membunuhku!" pekikku, panik. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya, berpegangan dengan kuat.


"Kau yang minta," jawabnya santai.


Aish laki-laki ini benar-benar serius dengan ucapannya. Tidak. Aku belum mau mati sekarang, lebih baik aku menurut saja. Jika tidak Alan pasti akan melemparku. "Baiklah, aku akan patuh dan berhenti memberontak," kataku, menyerah.


"Anak pintar," ucap Alan, tersenyum. Aku menatapnya, jengkel.


Alan membalikan badan. Kemudian kembali melangkahkan kakinya, memasuki gedung. Aku menenggelamkan wajah di dadanya, menghindari tatapan orang-orang yang memperhatikan kami.


"Kantormu di lantai berapa?" tanya Alan. ia sama sekali tak menurunkanku, meskipun saat ini kami sedang menunggu di depan lift.


Bersambung...