
Kevin duduk di kursi sebelahku. Kami sangat dekat hingga aku bisa mencium bau tubuhnya yang sangat ku rindukan. Namun, aku tak bisa melakukan apapun sekain menatapnya diam-diam. Kami tak hanya duduk berdua. Melainkan ada kedua orang tuaku dan juga Alia.
Jika saja aku bisa sihir, akan kuhilangkan ketiga orang itu agar aku bisa berduaan dengan Kevin dan bisa langsung menghambur ke dalam pelukannya.
Kami berlima sedang berada di meja makan, menikmati makan malam dengan tenang. Tak ada yang bicara, karena ayahku memang melarang mengobrol saat sedang makan.
Usai makan, ayah mengajakku mengobrol empat mata. Aku berjalan membuntutinya menuju ruang kerjanya. "Ada apa, Yah?" tanyaku saat kami sudah duduk. Ayah duduk di kursi kerjanya. Sementara aku duduk di sofa tak jauh darinya.
"Sekarang usiamu sudah dua puluh delapan tahun 'kan?" tanya Ayah tanpa menatapku. Tangannya sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam laci. Aku mengangguk, mengiyakan.
"Ayah rasa sudah waktunya kau menikah."
Aku menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum. "Ayah tenang saja, jika sudah punya calon, Alea pasti akan menikah. Tapi untuk saat ini belum," kataku.
"Sebenarnya Ayah sudah punya calon untukmu." Ayah mengangkat wajahnya, menatapku. "Dia anak dari teman Ayah. Sudah mapan, punya rumah dan kendaraan sendiri. Jabatan di kantornya juga cukup bagus. Anak itu seorang manager di perusahan x," imbuhnya.
"Maaf Ayah, Alea tidak tertarik."
"Ayah tidak memintamu langsung menikah dengannya. Tapi Ayah ingin kau menemuinya lebih dulu. Ayah sudah berjanji padanya kalau kau mau bertemu dengannya."
Aku menatapnya jengkel. Namun sebisa mungkin aku menahan amarahku agar tak meledak. Bagaimana pun beliau orang tuaku, harus di hormati. "Seharusnya Ayah meminta pendapat Lea dulu, sebelum berjanji dengan orang lain. Alea tidak suka dengan cara Ayah yang seperti ini."
"Ini bukan hal yang sulit, Alea. Kau hanya perlu menemuinya saja. Jika kau tidak cocok dengannya kau bisa menolak. Semua keputusan ada di tanganmu," jelasnya.
"Kalau begitu Alea dengan tegas menolaknya, Yah. Alea tak mau dengan laki-laki itu," kataku.
"Kau bahkan belum menemuinya, Lea. Bagaimana mungkin kau langsung menolaknya. Ayah jamin kau tidak akan menyesal jika menikah dengannya dia laki-laki yang baik, keluarganya ..."
"Cukup Ayah!" selaku, tak tahan. Ayah mendelik padaku. Laki-laki paruh baya itu memang tak suka di potong saat sedang bicara. Terlebih aku mengatakannya dengan nada tinggi. Sama saja seperti membentaknya. Mungkin sebentar lagi Ayah akan membenciku. Tapi aku tak peduli.
"Tidakkah Ayah mengerti maksud, Lea?" tanyaku dengan suara lebih lembut. "Alea tak mau di jodohkan. Tolong biarkan Alea memilih pasangan hidup sendiri," pintaku, memohon.
"Kau gadis bodoh, Lea. Ayah tak mengerti jalan pikiranmu. Apa yang Ayah lakukan semua demi kebaikanmu sendiri tapi kau bahkan tak mau mempertimbangkan terlebih dulu. Sekarang terserah padamu kau mau menikah ataupun tidak Ayah tidak akan peduli lagi. Kau lakukan saja apa yang kau inginkan, lakukan sesukamu," ucapnya, marah. Ayah bangkit dari duduknya. Kemudian berlalu pergi. Meninggalkan aku yang terduduk lemas.
Air mataku meluncur begitu saja, membasahi pipi. Sungguh, perkataan terakhir ayah begitu menusuk hati. Sangat menyakitkan. Aku terisak di dalam ruangan itu, seorang diri. Aku menyeka air mata. Kemudian bangkit berdiri dan melangkah pergi. Saat keluar dari ruangan itu, suasana sepi. Mungkin semuanya sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Aku terus melangkah, menaiki anak tangga, menuju kamarku yang ada di lantai dua.
Sesampainya di kamar. Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas kemudian mengirim pesan pada Kevin, memintanya untuk bertemu.
Sepuluh menit telah berlalu, masih belum ada jawaban. Aku terus menunggunya dengan gelisah. Mungkin sudah puluhan kali aku mengecek pesan masuk. Menonaktifkan dan menghidupkan ulang data, barangkali sinyalnya tersendat atau ada yang tidak beres dengan benda pipih itu sehingga belum ada balasan dari Kevin.
Namun, hingga satu jam berlalu tak kunjung mendapat balasan. Mungkinkah dia sudah tidur? Aku sangat merindukannya tapi tak bisa menemuinya meskipun kami sangat dekat.
Hingga tengah malam aku tak bisa tidur. Lampu sudah kupadamkan. Namun mata ini tak kunjung terpejam. Sejak tadi aku hanya berguling ke kanan dan kiri sambil memikirkan Kevin.
Ting! Notifikasi pesan masuk.
Aku segera meraih ponselku dan memeriksanya. Mataku berbinar ketika membuka pesan yang di kirim oleh Kevin.
[Buka. Aku di depan kamar] tulisnya.
Kevin diam saja. Aku melepas pelukan, menjauhkan wajahku dari dadanya. Kemudian menatap wajahnya.
"Kau tak merindukanku?" tanyaku. Lagi-lagi Kevin tak menjawab. Ia hanya menatapku lekat.
"Ada apa denganmu, Mas? Kau marah padaku?" tanyaku, lagi. Aku tak mengerti dengan perubahan sikapnya. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Sejak aku datang ia bahkan bersikap dingin padaku. Ia bahkan tak membalas pelukanku. Sungguh, kali ini ia sangat berbeda.
Kevin masih tak menjawab. Namun tangannya bergerak menangkup wajahku. Kemudian mendaratkan kecupan di bibirku. Aku membalasnya, melepas kerinduan. Ia menggiringku ke ranjang dan mendorong tubuhku dengan kasar. Aku terhempas di atas kasur. Kevin ikut naik ke ranjang, mengunci tubuhku di bawah kungkungannya. Ia kembali mencium bibirku. Nafas kami saling memburu. Ciumannya kali ini tak selembut biasanya. Kali ini terasa sangat kasar dan menyakitkan. Menyesap dengan keras dan juga menggigitku. Seolah tak puas di bagian itu ia bergerak turun ke leher, meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Aku berusaha memberontak karena kelakuannya sudah di luar batas. Entah apa yang merasukinya hingga membuatnya begitu brutal. "Apa yang kau lakukan, Mas. Berhenti! kau sudah kelewatan, kau menyakitiku," kataku, mengingatkan.
Kevin tak peduli ia mengangkat kedua tanganku ke atas dan mengunci dengan satu tangannya. Sementara satu tangannya yang lain menggerayangi tubuhku.
"Hentikan, Mas! Kau sudah di luar batas," kataku, lagi. Aku mengerang ketika Kevin kembali menggigit dan mencengkram pinggangku. Sangat sakit, hingga membuatku ingin menangis.
Semakin lama Kevin semakin tak terkendali. Ia bahkan merobek piayamaku dan melemparnya ke lantai. Kini hanya pakaian dalamku yang tersisa.
Aku tak bisa menahan tangis. Air mata meluncur dari kedua sudut mata. Tubuhku sakit luar biasa. Bukan hanya ciumannya yang kasar tapi juga gigitan dan remasan tangannya yang terasa menyiksa.
"Kumohon hentikan, Mas. Kau sudah berjanji tak akan melakukannya sebelum kita menikah," kataku, mengingatkan.
Akhirnya Kevin berhenti. Namun tangannya masih mencengkram tubuhku. Ia menatapku tajam.
"Kenapa aku tak boleh melakukannya, Ly? Sedangkan laki-laki lain boleh melakukannya."
"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu."
"Berhentilah pura-pura, Ly," Kevin kembali ******* bibirku dengan rakus.
"Aku tahu kau sudah tidur dengan laki-laki lain. Jadi kenapa aku tak boleh melakukannya? Kau milikku, Ly. Sudah sepantasnya aku mendapatkan tubuhmu."
"Omong kosong apa yang kau katakan, Mas! Aku tak pernah tidur dengan laki-laki manapun," bantahku.
"Kalau begitu biarkan aku membuktikannya padamu, Ly. Wanita macam apa kau sebenarnya," ucapnya, marah.
Aku semakin terisak. Hilang sudah kehormatanku ketika Kevin melucuti semua pakaianku. Aku meringis kesakitan kala ia menggigit dan meremas sesuatu yang selalu kujaga sebelumnya.
Dan sebentar lagi mungkin mahkota kesucianku akan di renggut olehnya, secara paksa.
"Kumohon, Mas. Jangan ambil kesucianku," kataku, memohon untuk yang terakhir kali. Aku bahkan sudah tak memiliki tenaga untuk memberontak. Aku terlalu lemah untuk menandingi kekuatannya yang besar.
.
.
.
.