
Alan masih berdiri di tempat. Menatap kepergian Alea yang nyelonong begitu saja, tanpa pamit. Ia merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya yang berdering.
Ia menatap layarnya sebentar, melihat id caller. "Kakek," gumamnya dengan alis berkerut. Ia lekas menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas. Kemudian meletakan benda pipih itu di telinganya.
"Ada apa pak tua?" tanyanya.
"Kau dimana?" tanya Kakek Alan di seberang sana.
"Di permukaan bumi di bawah langit," sahut Alan.
"Apa kau tidak bisa serius sedikit?" ucap Kakek dengan nada kesal.
"Maaf, sepertinya tidak bisa," ucap Alan, meledek.
"Dasar cucu durhaka!" Teriak sang Kakek.
"Ada perlu apa, Kek? Cepat katakan saja, aku sedang sibuk," ucap Alan.
"Hari ini kakek dapat undangan pesta di kota B."
"Haruskah kuucapkan selamat karena kakek dapat undangan?" sela Alan.
"Jangan di potong, kakek belum selesai bicara, kau diam dulu."
Alan pun diam. "Karena kakek ada urusan lain, tolong kau wakili kakek menghadiri undangan itu, ya?"
Hening. "Hallo, Ars kau masih di sana? Kenapa diam saja?"
"Bukankah tadi kakek menyuruhku diam?"
"Sekarang kakek memperbolehkan mu bicara. Bagaimana? Kau mau kan? Menghadiri acara itu?"
Alan pura-pura berfikir sejenak. Kebetulan saat ini ia juga berada di kota B. Ia bisa saja langsung menyetujuinya. Namun otak bisnisnya tak mau menyiakan peluang begitu saja. Harus ada kesepakatan yang menguntungkan, pikirnya. "Kakek ... Sebenarnya saat ini aku sangat sibuk. Pekerjaanku sedang banyak sekali," ucapnya. Ia menghela nafas berat. Akting yang maksimal.
"Memangnya apa yang sedang kau kerjakan?apa ada proyek baru?" tanya kakek.
"Hm. Proyek yang sangat besar," sahutnya.
"Jadi kau tak bisa menggantikan kakek menghadiri acara itu?"
"Bisa saja, Kek. Tapi ada syaratnya," ucap Alan.
"Apa itu?"
"Kakek tahu sendiri jika aku menghadiri acara itu berarti aku membuang waktuku yang berharga. Jadi aku minta kompensasi."
"Heh, dengan kakekmu sendiri kau masih perhitungan? Beraninya kau meminta imbalan. Benar-benar cucu kurang ajar!" ucap kakek, mengomel.
"Kalau tidak mau ya sudah. Aku tidak rugi juga," ucap Alan. Pura-pura tak peduli.
"Baiklah, kau minta apa?" Pada Akhirnya sang kakek menyerah juga.
Alan terkekeh. Kakeknya itu tak pernah berubah. Di usianya yang sudah tak lagi muda masih saja sering memaki dan juga banyak protes. Tapi ujung-ujungnya akan mengalah jika berurusan dengan cucunya.
"Aku akan memintanya nanti. Sekarang kirimkan saja alamat dan profil orang yang harus kutemui," ucapnya.
"Baiklah, Kakek kirim sekarang. Kap ...." Belum selesai sang kakek bicara Alan sudah memutus sambungan teleponnya.
Ia kemudian menghubungi asistennya. Memintanya agar datang ke kota B dengan membawa beberapa set jas serta beberapa pasang sepatu dan jam tangannya.
Satu jam kemudian Alan sudah berada sebuah kamar suite salah satu hotel bintang lima di kota B. Ia duduk di sofa. Meletakan kakinya di atas meja dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa berwarna krem itu. Matanya sibuk menatap layar ponselnya. Memeriksa pesan yang di kirim kakeknya. Alisnya mengernyit saat membaca sebuah alamat yang di kirimkan oleh kakeknya itu.
Alan tersenyum lebar. "Kebetulan yang menggembirakan," gumamnya. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu baru menunjukan pukul sebelas siang. Acara yang harus ia hadiri itu berlangsung malam hari. Namun laki-laki itu sudah tak sabar ingin menghadiri acara tersebut.
Waktu terus berjalan, malam pun akhirnya tiba. Usai membersihkan diri Alan bergegas memakai pakaiannya. Kemeja putih di padukan celana panjang berwarna biru dongker membalut sempurna tubuh ramping Alan. Ia melepas antingnya dan mengubah gaya rambutnya. Penampilannya saat ini terlihat sangat berbeda dengan biasanya yang kadang terlihat seperti preman atau anak jalanan.
Sebelum keluar ia menyambar tuksedo nya terlebih dulu. Kemudian memakainya sambil bercermin. Tak lupa ia menambah dasi kupu-kupu sebagai pemanis. Setelah itu bergegas keluar. Menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Begitu keluar ia sudah di sambut oleh asistennya yang kadang juga bertugas sebagai supir pribadi jika di perlukan.
"Pergi ke kediaman Ibrahim Sanjaya," perintahnya.
"Baik, Tuan muda," sahut Arman. Asisten pribadi Alan yang kali ini merangkap sebagai supir.
Mobil suv itu mulai melaju, meninggalkan hotel menuju ke alamat yang sudah di tentukan. Siapa sangka acara yang harus Alan kunjungi adalah kediaman Ibrahim Sanjaya. Sebuah rumah yang pagi tadi Alan sambangi saat mengantar Alea. Rupanya selain acara tujuh bulanan Alia, malamnya di rumah itu mengadakan pesta ulang tahun pengusaha ternama itu.
Hanya butuh waktu lima belas menit berkendara. Kini mobil yang Alan tumpangi sudah memasuki halaman rumah keluarga Sanjaya yang sangat luas itu.
Alan turun dari mobilnya. Kemudian berjalan di atas karpet merah yang di gelar hingga di depan pintu mansion itu. Alan datang seorang diri. Ia melangkah memasuki ruangan yang di penuhi oleh para tamu undangan. Ia lekas menghampiri sang pemilik hajat yang sedang berdiri bersama para kerabat serta koleganya.
"Arsalan, kau datang, Nak." sapa Ibrahim Sanjaya, ramah.
"Ya, Om," sahut Alan. Ia mengulurkan tangan, menyalami pria paruh baya yang sedang berulang tahun itu. Keduanya memang sudah saling kenal meskipun hanya beberapa kali bertemu.
"Selamat ulang tahun, Om Sanjaya. Saya mewakili kakek meminta maaf karena beliau tak bisa hadir di acara yang luar biasa ini. " ucap Alan. Menyampaikan tujuan kedatangannya.
"Tidak apa-apa, Ars," sahut pria yang kerap di sapa tuan Ibra itu.
Keduanya pun lanjut berbasa-basi. Tuan Ibra mengenalkan Alan pada tamu undangan yang lain yang berada di sisi mereka. Dan yang terakhi Ibra mengenalkan Alan pada Kevin, putranya.
Kevin tampak sangat terkejut begitu mengetahui siapa Alan yang sebenarnya. Dulu ia mengira Alan hanyalah seorang preman yang suka mengganggu. Tak di sangka ternyata Alan merupakan tuan muda Arkana grup.
Kedua anak muda itu saling berjabat tangan.
"Kupikir namamu Alan, apa baru-baru ini Anda mengubah nama, tuan Ars?" tanya Kevin, tenang.
Alan tersenyum. "Sama sekali tidak, tuan Kevin. Anda mungkin belum tahu nama lengkapku. Perkenalkan, namaku Arsalan thufail. Orang-orang biasa memanggilku Ars. Sementara panggilan Alan hanya di peruntukan untuk orang-orang terdekat saja. Seperti pacar atau calon istri misalnya," jelas Alan. Ia sengaja memberikan penekanan pada kalimat terakhir.
Wajah Kevin yang semula tenang kini berubah tak bersahabat. Kalimat terakhir Alan seolah menabuh genderang perang padanya. Mengingat Alea selalu memanggil nama pria di hadapannya itu dengan sebutan Al atau Alan.
Ketika keduanya saling memandang dengan tatapan sengit. Tiba-tiba terdengar suara keributan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seorang wanita tergopoh-gopoh menghampiri Kevin. "Kak Kevin," ucapnya dengan nafas terengah.
"Ada apa, Sania?" tanya Kevin pada adik sepupunya itu.
"Itu, Kak Alia mengamuk. Dia menampar dan memukul Kak Alea," sahut Sania.
Kevin dan Alan sama-sama berlari. Menuju tempat kejadian.
Begitu tiba di sana, keduanya sama-sama terkejut melihat Alea yang tersungkur di lantai.
"Alea ...." "Lily ...." ucap Alan dan Kevin bersamaan.
.
.
.