Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 82



"Jadi... Kau mencintaiku?" tanya Alan dengan mata terbelalak. Ia terdiam, menunggu jawaban dengan tatapan menyelidik.


Aku menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Ya, aku menyukaimu, Al dan aku bersedia menjadi istrimu."


Seketika bibir tipisnya yang pucat itu merekah. "Sungguh? Kau tidak bohong?" tanyanya, seolah tak percaya.


"Hm, aku tidak bohong," kataku serius.


Dengan mata berbinar dan senyum yang kian lebar, Alan bangkit dari duduknya dan berdiri tegak. Kemudian mengangkat tubuhku dengan kedua tangan dan berputar-putar.


"Ya! Apa yang kau lakukan? Cepat, turunkan aku," kataku dengan suara pelan. Takut di dengar oleh orang-orang yang sedang membersihkan ruangan ini. Akan sangat malu jika mereka memergoki aku sedang berduaan dengan bos mereka, di ruang istirahatnya yang hanya terhalang tirai sebagai penyekat.


Aku mengalungkan kedua tangan di pundaknya, berpegangan dengan erat. Meskipun lengannya cukup berotot, tapi kelihatannya tidak terlalu kuat karena tubuhnya kurus, aku takut jatuh.


"Apa yang kulakukan?" Alan mengulangnya. Seluruh wajahnya memancarkan kebahagian saat ia menambahkan tiga kata selanjutnya "Aku sedang menggendongmu."


"Aku tahu kau sedang menggendongku," kataku dengan mata terpejam. Aku mulai merasa pusing karena ia terus berputar-putar.


"Kau sudah tahu tapi masih saja bertanya," ucapnya dengan tawa kecil.


"Itu reflek, bukan intinya."


"Kalau begitu, apa intinya?" tanyanya.


"Berhenti berputar-putar dan turunkan aku dulu, kepalaku pusing," keluhku.


"Baiklah." Alan akhirnya berhenti, tapi masih tidak mau menurunkan aku. Masih dalam gendongannya, ia membawaku ke sebuah meja di sebelah tempat tidur, lalu mendudukkan aku di sana.


"Masih pusing?" tanyanya seraya membelai wajahku.


"Sedikit," kataku seraya menurunkan tangan dari pundaknya.


"Bersandarlah," ucapnya seraya mendorong kepalaku ke dadanya. Satu tangannya membelai rambutku dengan lembut.


Rasanya sangat nyaman bersandar di dada bidangnya yang hangat. Selain itu, tubuhnya juga sangat wangi. Aku menghela nafas dalam-dalam, menghidu aroma citrus yang yang menempel di kemeja putihnya. Itu menyegarkan sekaligus menenangkan. Rasa pusing di kepalaku berangsur hilang.


"Tuan Muda, ruangannya sudah selesai di bersihkan. Mejanya juga sudah diganti dengan yang baru," kata Arman memecah kebisuan diantara kami. Ia berdiri di balik tirai, hanya sepatunya yang terlihat.


"Hm," sahut Alan singkat. Ia bahkan tidak repot-repot untuk berbalik dan menatap asistennya itu.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu yang lain, Tuan Muda?"


"Tidak ada."


"Kalau begitu saya undur diri," kata Arman, lagi.


Lagi-lagi Alan hanya menjawabnya dengan satu kata singkat. "Hm."


Arman pun bergegas pergi. Namun, saat baru beberapa langkah Alan memanggilnya. “Arman..."


"Ya, Tuan Muda," sahut Arman seraya menghentikan langkah dan berbalik. Kembali menghadap ke arah kami.


"Siapkan mobil, kita akan berkunjung ke rumah utama," titah Alan.


"Baik, Tuan Muda. Saya segera menyiapkannya. Selain mobil, perlukah saya menyiapkan sesuatu yang lainnya juga?" Arman berhenti sejenak, tampak ragu-ragu saat menambahkan kalimat berikutnya. "Seperti bingkisan untuk Tuan besar, misalnya,"


"Tidak perlu. Orang tua itu sudah punya segalanya, dia tidak membutuhkan apapun," ucap Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajahku. Aku menatapnya saat jempolnya menyusuri bibirku. Jakunnya bergerak naik turun.


Dari tatapannya, aku bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Ia pasti menginginkan 'itu' "Jangan sekarang, masih ada Arman," kataku dengan suara berbisik.


Alan kembali menelan salivanya. Setelah itu menoleh ke belakang dan kembali berbicara pada Arman "Kau bisa pergi sekarang."


"Baik, Tuan Muda." Arman pun kembali melangkahkan kakinya.


"Tutup pintunya dan jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku," teriak Alan sebelum Arman meninggalkan ruangan itu.


"Ya, Tuan Muda," jawab Arman sambil lalu.


Begitu pintu tertutup, Alan langsung menyambar bibirku dan melahapnya dengan rakus. Ia bahkan tak memberiku kesempatan untuk mengambil nafas.


Nafasku dan nafasnya bercampur menjadi satu, terciprat ke wajah satu sama lain. Kami tidak berbicara, tapi ruangan itu cukup berisik oleh suara yang tercipta akibat bibir kami yang saling beradu. Jantungku dan jantungnya berdetak semakin cepat, sangat cepat sampai hampir meledak.


Ciuman itu berlangsung cukup lama. Sekitar lima atau tujuh menit dan mungkin bisa lebih lama lagi jika ponselku tidak terus berdering.


"Siapa yang menelpon?" tanyanya dengan wajah kesal. Aku sudah tidak heran dengan kebiasaannya yang suka marah jika kesenangannya di ganggu.


"Aku tidak tahu, ini nomor baru," kataku seraya menunjukan ponselku padanya.


"Biar aku saja yang angkat." Alan merebut ponsel itu dari genggaman tanganku. Menggeser layarnya terlebih dulu sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo, siapa ini? Jangan katakan apapun dan segera akhiri panggilannya jika itu bukan sesuatu yang penting."


Aku terkekeh mendengar cerocosannya itu. Kurasa pihak lain bahkan belum mengatakan sepatah katapun tapi Alan sudah menyerbunya lagi.


"Mengapa tidak menjawab? apa kau bisu?" Alan tampak semakin kesal. "Kuberi waktu setengah detik, cepat katakan sesuatu atau aku akan menutupnya," ucapnya dengan tidak sabar.


Alan selalu menepati kata-katanya. Ia segera menutupnya setengah detik kemudian. "Kurasa dia memang bisu," ucapnya seraya menyodorkan benda pipih itu padaku.


Aku mengambil ponsel itu dari tangannya, lalu menyimpannya ke saku celana. "Bukan dia yang bisu, tapi kau yang tak memberinya kesempatan untuk bicara," kataku seraya turun dari meja.


"Aku sudah memberinya waktu, dia saja yang tidak mau menggunakan kesempatan itu," protesnya tak setuju.


"Setengah detik?" kataku seraya meliriknya. "Menurutmu apa yang bisa dikatakan dalam waktu sesingkat itu?"


Alan tak menjawab. Ia memalingkan muka, menatap sembarang arah. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya itu.


"Bukankah kau mau pergi? Arman mungkin sudah lama menunggu," kataku mengingatkan.


"Baiklah, ayo turun," ucapnya seraya meraih tanganku.


"Aku juga ikut?" tanyaku dengan bingung.


"Tentu saja," sahutnya seraya menarikku keluar.


Bersambung...