Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 59



"Model rambut seperti apa yang kau inginkan, Lea?" tanya Hanna, salah satu pegawai salon langgananku. Kedua tangannya bertengger di bahuku.


Hanna sudah tak muda lagi. Usianya hampir menginjak kepala lima. Meski demikian penampilannya tak sama seperti wanita-wanita lain yang seumuran dengannya. Kebanyakan wanita saat menginjak usia tersebut wajahnya mulai terlihat keriput serta banyak mengeluh sakit di beberapa bagian tubuhnya. Seperti sakit pinggang ataupun lutut. Akan tetapi tidak dengan Hanna. Ia justru masih terlihat cantik dan juga bugar. Bentuk tubuhnya juga masih bagus, tak kalah dengan anak muda yang usianya jauh di bawahnya.


Aku terdiam sejenak. Memandang pantulan diriku dan juga Hanna di cermin. Sejujurnya aku tidak tahu model rambut seperti apa yang kuinginkan. Selain itu aku tidak begitu mengerti dengan jenis model rambut wanita.


"Menurut Kak Hanna model seperti apa yang cocok untukku?" tanyaku, kemudian.


"Semua model cocok untukmu, Lea. Tergantung dirimu ingin terlihat seperti apa," ucapnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu ... terserah Kak Hanna saja mau memotongnya seperti apa."


Hanna tampak berdecak dan menggelengkan kepalanya. "Kau tak pernah berubah, Alea," ucapnya, menyerah.


"Baiklah ... Bagaimana dengan yang ini?" ucap Hanna seraya menunjukan sebuah foto padaku. Aku mengamati foto tersebut.


"Kau akan terlihat lebih muda dengan rambut pendek," imbuh Hanna.


"Apa aku terlihat tua?" tanyaku. Sedikit mendongakkan kepala untuk menatap wajahnya.


"Bukan seperti itu maksudku, Lea," sahut Hanna sambil terkekeh. "Tentu saja kau masih muda. Kau bahkan terlihat seperti bayi. Imut dan menggemaskan," imbuhnya.


Aku hanya berdecih mendengar penuturannya. Meskipun kata-katanya berisi fitnah tapi aku tetap senang mendengarnya. Aku tertawa sekali lagi. 'Seperti bayi, imut dan menggemaskan' benar-benar menggelikan.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Hanna, memastikan.


"Ya," kataku seraya mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan mulai," ucap Hanna. Ia mengambil peralatan perangnya dan mulai memangkas rambutku sedikit demi sedikit. Entah sudah berapa jam berlalu, aku tidak menyadarinya. Tahu-tahu Hanna sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Hanna.


Kupandangi pantulan wajahku di cermin. Apa itu benar-benar diriku?


Sebelumnya aku tidak pernah berambut pendek karena Kevin tak menyukainya. Jadi aku selalu membiarkannya panjang. Tak di sangka ternyata gaya ini juga cocok untukku. Selain itu warna pirang ini membuatku terlihat sedikit berbeda.


"Aku menyukainya. Terima kasih, Kak Hanna," kataku seraya melayangkan senyum tipis padanya.


"Sama-sama, Alea. Aku senang kau menyukainya."


Usai membayar tagihan dan berpamitan dengan Hanna aku bergegas pulang. Waktu itu langit sudah gelap ketika aku sampai rumah. Lampu di teras sudah menyala. Itu berarti Alan sudah pulang.


Begitu aku masuk kulihat Alan sedang duduk di sofa. Kakinya tampak berselonjor dengan posisi punggung membelakangi pintu. Sepertinya ia tidak menyadari saat aku masuk.


"Sedang apa?" Aku berdiri tepat di belakangnya.


Alan tampak sangat terkejut. Sampai-sampai ponselnya yang sedang ia pegang tergelincir dan jatuh ke lantai. Aku tertawa karenanya.


"Kapan kau sampai?" tanya Alan tanpa memandangku. Ia menunduk, memungut ponselnya.


"Barusan," jawabku seraya menjatuhkan diri di sofa, berseberangan dengannya.


"Dari mana saja? Mengapa kau tak meng ...."


Alan tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru mematung begitu melihat ke arahku dengan mulut sedikit terbuka.


Aku menatapnya dengan heran. Mengapa ia menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?


"Kau memotong rambutmu?" ucapnya, kemudian.


Aku mengangguk. "Hm. Apakah terlihat jelek?"


Alan menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak. Itu cocok untukmu. Kau terlihat sangat cantik sekarang," ucapnya.


"Sekarang? Jadi ... menurutmu kemarin-kemarin aku tidak cantik?"


"Tidak, bukan seperti itu maksudku," bantahnya.


"Jadi seperti apa maksudnya?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.


"Kemarin-kemarin kau cantik, sekarang lebih cantik lagi."


"Benarkah?"


"Ah, kau pasti berbohong," kataku seraya memalingkan wajah.


Alan bangkit berdiri. "Aku serius," ucapnya. Ia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan ke arahku dan menjatuhkan tubuhnya di sampingku.


Aku mundur ke belakang. "Kau mau apa?" tanyaku saat ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Kedua tangannya sudah berada di sisi kanan dan kiri, mengunciku.


"Kau cantik sekali, Alea. Aku jadi tidak tahan. Bolehkah aku menciummu?" Alan kembali mencondongkan tubuhnya, mendekat.Bersiap mendaratkan kecupan di wajahku.


"Dasar cabul. Menyingkir dariku," kataku seraya mendorongnya menjauh. Setelah itu berlalu pergi.


"Jangan pergi, Alea. Biarkan aku menciummu sekali saja."


"Jangan mimpi!" kataku sebelum masuk kamar. Tak lama kemudian terdengar gelak tawa Alan yang menggema di lantai bawah.


"Dasar sinting!" gumamku seraya menutup pintu.


...****************...


Keesokan paginya aku pergi ke kantor dengan terburu-buru. Ya, setelah sekian lama menjadi pengangguran, akhirnya aku kembali bekerja. Hari pertama bekerja, tentu saja aku tak boleh terlambat. Sekali lagi kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu menunjukan pukul delapan lewat lima puluh menit. Hanya tersisa sepuluh menit sebelum jam kerja di mulai.


"Sial! kenapa gedungnya besar sekali." Aku mempercepat langkah. Bahkan setengah berlari menuju lift. Berdesakan dengan beberapa pegawai lain saat menaiki elevator itu. Baru bisa bernafas lega ketika sudah sampai di lantai paling atas. Tempat dimana meja kerjaku berada. Persisnya di depan ruang kerja CEO perusahaan ini.


Baru saja aku duduk, seseorang sudah memanggilku.


"Hei, anak baru, cepat kemari." Seorang wanita berpenampilan culun itu melambaikan tangan padaku.


Dengan malas aku bangkit berdiri. Kemudian mendekat ke arahnya. "Ada apa?" tanyaku seraya memasang wajah tersenyum. Meskipun wanita berkacamata bulat itu tak begitu ramah, tapi dia satu-satunya orang yang tidak memandangku dengan tatapan sinis.


"Tuan Ars sebentar lagi datang, kita harus menyambutnya," ucap wanita itu seraya melangkahkan kakinya. Aku mengekor di belakangnya.


"Memangnya Tuan Ars itu siapa? Kenapa kita harus menyambutnya," tanyaku penasaran.


Wanita itu berhenti melangkah, lalu berbalik. "Kau ini bodoh sekali, masa bos sendiri tidak tahu," bentaknya.


Hah, kami bahkan belum mengenal satu sama lain tapi dia sudah mengataiku bodoh. Hei, gadis culun dan norak, aku tidak bodoh seperti yang kau katakan. Bagaimana aku tahu kalau si tuan Ars itu bos kita. Ini hari pertamaku bekerja. Aku bahkan tidak tahu dimana letak toiletnya. Aku tidak terima, cepat tarik kata-katamu itu.


Ingin sekali aku mengumpatnya secara langsung. Namun, mengingat posisiku yang masih baru, itu hanya bisa kuucapkan dalam hati. Aku tak ingin menambah musuh.


Aku kembali melangkahkan kaki mengikutinya. Kemudian berhenti saat ia juga berhenti. Bersama dengan pegawai lainnya, kami berdiri berjejer di sisi kanan dan kiri bersiap-siap menyambut bos kami itu.


"Selamat pagi Tuan Ars," ucap seluruh pegawai, serempak. Setelah itu mereka membungkukan badan.


Aku begitu penasaran dengan bos perusahaan ini yang terkenal jenius dan juga tampan. Hampir saja aku bisa melihatnya. Namun, si culun itu menepuk punggungku dengan sangat keras. "Kau harus membungkuk," ucapnya dengan nada berbisik.


Aku mengerang. Culun itu terlihat kurus tapi tenaganya sangat kuat. "Tak bisakah kau pelan sedikit? Tulangku bisa patah."


Masih dengan posisi membungkuk ia menoleh padaku. "Apa kau nenek-nenek?" ejeknya. "Jangan lebay, aku hanya menepuk punggungmu. Bagaimana mungkin itu bisa membuat tulangmu patah."


Menepuk apanya, jelas-jelas kau memukulku.


Aku masih menggerutu saat terdengar langkah kaki yang semakin jelas. Tak lama kemudian sepasang sepatu pantofel berwarna hitam melintas di depanku. Langkahnya lebar, sesuai dengan bentuk kakinya yang panjang. Baru kali ini aku melihat langkah kaki seorang pria yang begitu anggun.


Aku kembali menegakkan tubuh. Namun masih menundukkan kepala.bTiba-tiba pemilik sepasang sepatu pantofel itu berhenti melangkah.


"Arman, kudengar aku memiliki sekretaris baru, dimana dia?"


"Dia ada di sana, Tuan, di sebelah kanan Anda."


"Ah, ternyata di sana," gumamnya. Sepasang pantofel itu berbalik dan memutar arah. Kemudian melangkah maju mendekatiku. Jantungku berdegup kencang karena gugup. Terlebih saat ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Seketika hidungku di penuhi dengan aroma citrus yang menyegarkan.


"Selamat pagi, Sayang," bisiknya di telingaku.


Sejenak jantungku berhenti berdetak. Mataku terbelalak karena terkejut. Suara ini ... mengapa terdengar begitu familiar. Aku mengangkat wajah bersiap untuk melihat siapa yang menyapaku dengan sebutan seperti itu.


Kau ... Mengapa kau ada di sini?


Bersambung...