Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 47



Satu minggu telah berlalu. Aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Kevin setiap hari. Selama itu ia setia menemaniku kemana pun aku ingin pergi dan selalu menuruti segala keinginanku.


Tak hanya itu, Kevin juga memberiku banyak hadiah. Mulai dari tas, sepatu, hingga peralatan make up. Sebenarnya aku tak membutuhkan semua itu. Bagiku yang terpenting adalah tetap bersamanya, itu sudah cukup. Akan tetapi karena ia sudah terlanjur membelikannya jadi aku hanya perlu berpura-pura bersemangat saat menerimanya agar ia tidak kecewa.


"Terima kasih hadiahnya, Sayang," kataku sambil memeluknya.


"Sama-sama, Ly," sahutnya. Bibirnya tersenyum tapi matanya justru tampak sedih.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanyaku, penasaran. Mengapa akhir-akhir ini ia selalu terlihat sedih. Ku tatap wajahnya yang tertunduk.


Kulihat Kevin menarik nafas panjang. Lalu mengangkat wajahnya dan menatapku "Ayo kita putus, Ly."


Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku tertegun, mendengar permintaannya barusan.


Kevin mengerutkan dahi kala melihatku tertawa. "Apa yang Mas Kevin katakan? Berhenti bercanda, itu tidak lucu," kataku, menghibur diri sendiri. Meskipun mulutku tertawa tapi hatiku menangis. Kevin bukanlah orang yang suka bergurau. Ia mengatakannya dengan serius, aku tahu itu. Hanya saja, aku tak ingin mempercayainya. Aku menyangkal kenyataan kalau ia ingin berpisah denganku.


Kevin diam membisu. Sama sekali tak bergerak, seperti patung.


Pandanganku terasa buram, seiring dengan munculnya cairan bening yang menggenang di pelupuk mata. Ku pegang kedua bahunya yang terkulai lemah. "Cepat katakan padaku kalau kau hanya bercanda, Mas!" desakku seraya mengguncang tubuhnya.


"Maafkan aku, Ly. Hubungan kita sampai di sini saja. Kita tak bisa bersama lagi."


Pipiku terasa basah. Air mata yang sejak tadi ku bendung akhirnya tumpah juga. "Berhenti bicara omong kosong, Mas. Kau pasti lelah, pulanglah," kataku seraya bangkit dari sofa. Aku berdiri membelakanginya yang masih duduk di sofa abu-abu itu.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ... Sebelum itu, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali, Ly." Kevin ikut bangun. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak ku.


"Berjanjilah kau akan terus bahagia meski tanpaku, Ly. Aku berharap suatu saat kau akan menemukan lelaki lain yang bisa terus melindungi dan juga membahagiakanmu, Ly. Laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, laki-laki yang jauh lebih baik dariku," ucapnya lirih.


Dadaku terasa semakin sesak, seperti tertimpa batu besar. Seperti di sayat, hatiku terasa perih, sakit sekali. Air mataku terus bercucuran. Aku menangis tersedu-sedu. Ku tepis kedua tangannya yang melingkar di perutku, melepaskan pelukannya. Kemudian membalikan badan, menghadapnya.


Kevin menggeleng. "Bukan. Bukan karena itu Ly. Bagiku itu tidak masalah meskipun kau keras kepala."


"Lalu kenapa, mas? Katakan padaku apa masalahnya? Biarkan aku memperbaikinya."


"Hubungan kita tidak bisa di perbaiki, Ly. Kita harus berpisah."


"Kenapa, Mas? Kau sudah berjanji tak akan meninggalkanku, kenapa kau mengingkari janjimu itu Mas? Kenapa!" teriakku, frustasi. Kevin tak bereaksi apapun meskipun aku memukuli dadanya berulang kali. Tak lama kemudian ia mendekapku. Ku hentikan pukulan itu dan mulai menangis di dadanya. "Jangan pergi, Mas, jangan tinggalkan aku," pintaku, memohon. Kevin tetap bungkam, tak mengatakan apapun.


Aku melepas pelukannya. Kemudian mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya. "Bukankah Mas Kevin menginginkan tubuhku? kau ingin tidur denganku 'kan? ayo kita lakukan sekarang. Aku tidak akan menolak lagi. Akan kuserahkan semuanya padamu." Ya, selama kami berpacaran, sudah berulang kali ia mengajakku bercinta. Terakhir kali ia memintanya saat kami camping beberapa hari yang lalu. Tapi aku selalu menolaknya. Mungkin inilah alasannya ia ingin berpisah dariku. Ia pasti marah dan mulai bosan padaku karena aku tak pernah memberikan apa yang di inginkannya. Sedangkan ia selalu mengabulkan apapun keinginanku. Tidak, aku tak bisa kehilangannya, aku tidak ingin berpisah dengannya. Akan kulakukan apa saja agar bisa mempertahankan hubungan kami. Meskipun itu harus menyerahkan kehormatanku.


Di hadapan Kevin aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu. Setelah semuanya terlepas, ku menghempaskan kain yang menutupi tubuh bagian atasku itu ke lantai. Kemudian beralih ke celana panjang yang kukenakan.


Mata Kevin terbelalak saat melihatku yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Ku lihat ia menelan salivanya berulang kali. "Apa yang kau lakukan, Ly?" tanyanya. Ia menahan tanganku setelah aku berhasil melepas ikat pinggangnya dan sedang berusaha melepas pengait celananya.


"Bukankah ini yang selalu Mas Kevin inginkan? Aku sudah siap? Malam ini dan seterusnya, aku adalah milikku dan kau milikku. Kita tidak akan pernah berpisah, kita saling memiliki satu sama lain."


Tanpa aba-aba Kevin langsung menyambar bibirku, melahapnya dengan rakus dan aku membalasnya. Tanpa melepaskan ciuman kami, Kevin mengangkat tubuhku dan berjalan menuju ranjang dengan langkah terburu-buru. Lalu merebahkanku di sana. Sementara ia berada di atasku dengan bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.


Kami beradu pandang selama beberapa saat. Sebelum akhirnya aku memejamkan mata saat ia kembali mencumbuku.


.


.


.


.