
"Selain mengurusku dengan sangat baik, ibuku juga pandai memasak. Makanan buatannya juga tidak kalah enak darimu. Ibuku juga sangat sabar. Dia tidak pernah marah padaku meski aku sangat nakal saat kecil dulu," lanjut Alan.
Tidak hanya saat masih kecil, Al, sekarang pun kau masih nakal. Kau sangat menyebalkan.
Alan menunduk, menatap ke arahku lagi. "Ibuku sangat mirip denganmu, Alea. Bedanya kau sedikit keras kepala dan juga pembangkang. Sementara ibuku tidak."
*Sebenarnya kau mau memuji atau mengolok-olokk*u?
"Mungkinkah itu alasannya kau menyukaiku? Karena aku mirip dengan ibumu?"
Alan menggeleng. "Kurasa tidak."
Aku melepas pelukan dan menggeser tubuhku, berbaring dengan posisi terlentang dengan lengan Alan sebagai bantalan.
"Apa yang kau sukai dariku, Al? Apa karena kecantikanku?" tanyaku tanpa memandangnya.
Alan tertawa kecil. "Kau pikir dirimu cantik?" ejeknya.
Aku mendongak, menatapnya lagi. "Memangnya aku tidak?"
Alan mendekatkan wajahnya. Menekan dahinya ke keningku. Nafas hangatnya menyembur ke seluruh wajahku ketika ia berbicara. "Kau lebih dari cantik, Alea. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Aku Aku suka yang ini..."
Aku memejamkan mata saat Alan mengecup kedua kelopak mataku secara bergantian.
"Mereka sangat cantik, seperti mata boneka," pujinya dengan senyum menawan. "Selain itu, aku paling menyukai yang satu ini." Alan memindahkan bibirnya ke bibirku. Mematuk dan menyesapnya beberapa kali. Mengeksplor setiap sudut mulutku dengan lidahnya yang dingin. "Rasanya sangat enak," ucapnya dengan senyum menggoda.
Seperti biasa aku terengah-engah setiap kali selesai berciuman dengannya. Alan tertawa keras.
"Kau seperti ikan yang terlempar ke darat, Alea."
Ya, aku mungkin terlihat seperti itu. Seperti ikan yang sedang sekarat karena kehabisan oksigen, hampir mati.
"Apa kau selalu seperti ini saat tidur?" tanya Alan. Ia kembali menarikku ke dalam pelukannya. Satu kakinya terangkat, melingkari pinggulku.
"Apa?" tanyaku, bingung.
"Kau tidak mengenakan pakaian dalam kan?" bisiknya di telingaku.
Aku tersentak kaget. Bagaimana dia bisa tahu? Apa piyamanya tembus pandang?
Aku menurunkan pandangan, meriksa pakaianku sendiri. Sepertinya bahannya cukup tebal, tapi kenapa Alan bisa tahu?
"Sepertinya punyamu sangat kenyal, apa aku boleh menyentuhnya?" ucapnya dengan senyum menggoda. Tangannya mulai bergerak dengan nakal. Menyusup ke dalam piyama dan membelai perutku.
Dengan cepat aku meraih tangannya, menghentikan pergerakan tangannya. Namun, Cecunguk itu memberontak dan terus berusaha menjangkau milikku.
"Aku akan menendang milikmu jika kau berani menggerakkan tanganmu lebih jauh lagi," ancamku dengan mata mendelik.
Alan sama sekali tidak takut. Ia justru tersenyum lebar. "Jangan dong, Sayang. Dia asetku yang paling berharga. Aset yang akan menyenangkanmu setelah kita menikah nanti," ucapnya tanpa malu. "Daripada menendangnya, mengapa kau tidak menggigitnya saja? Itu lebih menyenangkan. Aku akan menerimanya dengan senang hati jika kau mau melakukannya."
"Dasar cabul! Gila!" Umpatku seraya melepaskan diri dari pelukannya. Aku berguling ke sisi tempat tidur lainnya. Membungkus rapat tubuhku dengan selimut dan berbaring memunggunginya.
"Berhenti tertawa dan kembalilah ke kamarmu. Aku ingin tidur."
Alan menggeser tubuhnya, mendekatiku. Kaki dan tangannya kembali mendarat di atas tubuhku yang tertutup selimut. "Aku akan menemanimu di sini, kau mungkin menjerit ketakutan lagi jika aku tidak ada."
Cih, Alasan. Bilang saja kau mau tidur bersamaku. Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat. Mataku sudah terpejam ketika Alan bertanya lagi.
"Alea... Kau sudah tidur?"
Alan mengangkat kepalanya dan mengintip wajahku saat aku diam saja. "Kau benar-benar sudah tidur?" tanyanya lagi.
Tadinya aku ingin terus diam dan pura-pura tidur, tapi tangannya terus mengguncang bahuku. Aku tidak tahan lagi dan akhirnya menyerah.
"Apa?" kataku dengan mata terpejam.
Alan kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal. Persis di belakang kepalaku. Nafasnya terciprat ke tengkukku. Menimbulkan sensasi geli yang menggelitik.
"Alea, tidakkah kau ingin menanyakan sesuatu padaku?"
Aku diam sebentar, berpikir. Tapi tidak ada apa-apa yang terlintas di kepalaku.
"Apa seharusnya aku bertanya sesuatu padamu?" tanyaku dengan bingung. "Apa yang harus kutanyakan?"
Alan mentertawakan kebingunganku.
"Aku sedang bertanya padamu, mengapa kau malah bertanya balik?"
"Aku tidak tahu. Aku bingung mau bertanya tentang apa," jelasku.
"Kalau begitu kau hanya perlu menjawab 'tidak' itu sudah cukup."
Iya juga ya. Kenapa aku malah bertanya seperti idiot. Huh, dasar bodoh!
"Alea..." Alan berkata lagi. Suaranya sangat rendah. Hampir seperti berbisik. Jika ia tidak berada tepat di belakangku, mungkin aku tidak mendengarnya.
"Ya," jawabku, singkat.
"Apa kau marah padaku?"
Aku mengernyit, bingung. "Bukankah kau yang marah padaku? Kau pergi begitu saja usai makan malam dan mengabaikan aku setelahnya," aku mengingatkan.
Aku berbalik menghadapnya. Menatap kedua mata hitamnya yang bersinar di bawah cahaya lampu tidur. "Katakan... Apa salahku? Apa aku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan?" Tuntutku, meminta penjelasan.
Alan menggelengkan kepalanya. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Alea."
Tangan kirinya terulur ke atas, menyingkirkan sejumput rambut yang tersesat ke wajahku dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Aku tidak marah padamu--aku marah pada orang lain," lanjutnya.
Aku membuang muka. Menatap sembarang arah sambil tertawa keras. Darahku seolah mendidih. Aku merasa sangat marah sekarang. "...Kau marah pada orang lain, tapi melampiaskannya padaku. Bagus, bagus sekali, Al," sindirku dengan kesal.