Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 95



Pelayan wanita yang mengenakan pakaian ketat itu segera membungkuk di hadapan Alan. "Ma-maaf atas kelancangan saya, Tuan," ucapnya sedikit terbata.


"Sungguh, saya tidak bermaksud mengganggu... Saya hanya ingin melayani Tuan Muda," lanjutnya.


Alan menatapnya dengan galak. "Kau pikir aku tidak punya tangan? Sampai harus dilayani olehmu!" bentaknya lagi.


"Maafkan saya, Tuan. Saya salah." Pelayan itu membungkuk sekali lagi. Lebih rendah dari sebelumnya hingga membuat belahan dadanya terlihat. Sepertinya ia memang sengaja ingin memperlihatkannya pada Alan.


Alan seorang pria dewasa dan normal. Dihadapkan dengan pemandangan seperti itu sudah pasti membuatnya tergoda bukan? Ya, dia pasti sangat senang sekarang, pikirku.


Aku mengalihkan pandangan dari pelayan wanita itu, beralih menatap Alan. Kukira saat itu Alan tengah memandangi pelayan itu dengan mata melotot sambil menelan liurnya. Namun apa yang kulihat justru membuatku sedikit terkejut.


Alan sama sekali tak memandangi buah pir kembar milik pelayan itu. Tatapannya jatuh ke bawah, menatap lantai marmer dengan senyum menyeringai, tampak jijik.


"Kemasi barangmu dan keluar dari rumah ini secepatnya," titahnya. Kelopak matanya terangkat ke atas, kembali menatap pelayan itu dan berkata dengan tegas. "Kau dipecat!"


Pelayan wanita itu membelalakkan matanya, kaget. Seketika tubuhnya ambruk ke lantai.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Tolong jangan pecat saya. Adik saya sedang menjalani perawatan di rumah sakit sekarang. Ayah saya sudah meninggal dan ibu saya tidak bisa bekerja karena harus merawat adik. Saya satu-satunya tulang punggung keluarga, Tuan. Jika saya kehilangan pekerjaan ini, bagaimana saya membayar biayanya?" ucap pelayan itu sambil terisak.


"Itu urusanmu, bukan urusanku!" kata Alan, tak peduli.


"Ampuni saya, Tuan. Tolong jangan pecat saya. Saya berjanji, lain kali tidak akan terjadi lagi. Saya tidak akan mengulanginya lagi, Tuan." Pelayan itu kembali memohon.


Sejujurnya aku sangat kasihan padanya, tapi juga tidak bisa membelanya. Bagaimana pun dia memang bersalah.


Sebelumnya Alan sudah menolaknya dengan sopan dan meminta pelayan itu untuk tidak ikut campur mengenai isi piringnya. Alan juga sudah mengatakan kalau ada aku yang siap melayaninya jika memang membutuhkan sesuatu.


Akan tetapi pelayan itu sangat bebal. Ia terus menawarkan ini dan itu dan terkesan sedikit memaksa.


Meski pelayan itu bersimpuh di kakinya, itu tak mengubah keputusan Alan. Ia tetap mengusirnya. "Enyahlah!"


Sambil menangis, pelayan itu bangkit berdiri dan melangkah pergi. Usai kepergiannya, Alan kembali melanjutkan makannya.


"Tak bisakah kau memberinya kesempatan?" kataku beberapa saat kemudian.


"Kau sedang membelanya sekarang?" Alan menoleh ke arahku. Tatapannya tidak suka.


"Apa kau tahu alasan mengapa aku memecatnya?"


"Karena dia terlalu cerewet dan tidak mendengarkanmu kan?" tebakku.


"Benar. Itu salah satunya."


"Salah satu?" Aku mengulangnya dengan terkejut. Kalau begitu masih ada alasan lain?


"Ya, masih ada beberapa alasan lainnya."


"Apa itu?" tanyaku, penasaran.


"Yang pertama, dia sering lalai dengan tanggung jawabnya. Tugasnya membersihkan setiap ruangan di lantai dua. Namun, setiap kali aku datang, dia akan menukar pekerjaannya dengan pegawai lain. Itu menyulitkan pegawai lainnya. Kadang pekerjaannya jadi terbengkalai karena dia sibuk mengurus pekerjaan lain yang tidak seharusnya dia kerjakan."


"Mengapa begitu?"


"Entahlah, mungkin ingin mendekatiku," ucapnya sambil mengangkat bahu. "Jujur, aku sangat risih saat dia berada di sekitarku. Dengan pakaiannya yang ketat seperti itu, aku merasa jijik."


"Mengapa jijik? Bukankah sebaliknya? Kalian para lelaki menyukai wanita-wanita yang berpenampilan seksi, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, apalagi belahan dadanya."


"Kebanyakan iya. Tapi tidak semuanya. Aku salah satu dari pria yang sedikit itu."


Aku memalingkan wajah sambil berdecak. Pembohong!


"Mengapa reaksimu seperti itu? Kau tidak percaya padaku?"


"Benar. Aku tidak percaya," kataku seraya menatapnya lagi. "Matamu bahkan selalu melotot saat tak sengaja melihat area dadaku. Kau sering memaksaku mengenakan baju tidur transparan dan juga baju rumahan yang kekurangan bahan. Apakah itu yang kau maksud tidak menyukai wanita yang berpakaian seksi?" sindirku.


"Kau itu pengecualian, Alea," sahutnya dengan tawa kecil. Tangannya sibuk menyendok makanan di piringnya. Iakembali melirikku dan berkata, "Satu lagi, aku lebih suka kau tidak mengenakan apapun dibanding memakai baju seksi."


Alan hanya tertawa mendengar umpatanku itu.


"Masih ingin tahu alasan lainnya tidak?" Alan menawarkan.


Aku mengangguk. "Apa lagi?"


"Ini yang paling tidak aku suka. Dia tidak menghormatimu. Kau istriku, yang berarti juga nyonya di rumah ini, tapi dia memperlakukanmu dengan tidak sopan."


Aku menatapnya dengan bingung. "Apakah begitu? Kapan dia memperlakukan aku dengan tidak sopan?"


"Dia tidak membalas saat kau melempar senyum padanya. Sebaliknya, dia selalu memasang wajah masam setiap kali berpapasan denganmu dan menjawabmu dengan ketus."


Apa itu termasuk dianggap tidak sopan?


Kupikir itu masih wajar karena kami tidak saling mengenal. Selain itu aku masih belum menjadi istri Alan, baru calon. Jadi belum bisa di katakan sebagai nyonya di rumah ini.


"Dan yang terakhir... dia sangat cerewet dan juga keras kepala. Aku benci dengan wanita yang memiliki kepribadian seperti itu."


Bukankah aku juga keras kepala dan sedikit cerewet? Apa dia sedang menyindirku?


"Jadi... Kau sangat membenciku?"


Alan yang saat itu sedang minum langsung menoleh dan membantah dengan cepat. "Mana mungkin," ucapnya seraya meletakkan gelasnya ke tempat semula. "Kau satu-satunya wanita yang sangat kucintai," imbuhnya.


"Bukankah katamu aku ini juga cerewet dan keras kepala?" Aku mengingatkan.


"Selalu ada pengecualian untukmu," jawabnya dengan wajah tersenyum. "Sudah selesai makannya?" tanyanya kemudian.


Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau begitu, ayo keluar," ajaknya seraya bangkit dari duduknya.


Aku ikut berdiri dan berjalan di sisinya. "Mau kemana?"


"Mall--beli baju untukmu."


"Tunggu..." kataku seraya menghentikan langkah.


Alan ikut berhenti. "Ada apa?" tanyanya dengan dahi mengernyit.


"Aku belum mandi. Aku mandi dulu sebentar, ya?" Aku melepas gandengan tangannya dan bersiap kembali ke kamar. Namun, Alan menahannya.


"Tidak perlu, kau tetap terlihat cantik meskipun tidak mandi."


"Tapi aku bau," kataku lagi.


Alan mencondongkan tubuhnya padaku dan mulai mengendus. "Wangi kok," ucapnya. Setelah itu ia kembali menarik diri.


"Benarkah?" tanyaku, tak percaya.


"Hmm. Kalau tidak percaya cium saja sendiri."


Aku mengangkat kedua bahu bergantian. Mengendus aroma tubuhku sendiri. Benar kata Alan, aku cukup wangi. Mungkin karena parfum yang aku pakai tadi. Bau tubuhku jadi tersamarkan.


"Pergi sekarang?" tanya Alan.


Aku meraih telapak tangannya yang terulur. "Ayo," kataku dengan riang.


Kami melangkah keluar sambil bergandengan tangan. Itu hanya hal kecil dan sepele, tapi entah mengapa aku merasa sangat bahagia setiap kali bergandengan tangan dengannya. Sama seperti ketika ia memeluk atau mencium keningku.


Alan sudah seperti rumah bagiku. Dia memberiku rasa aman, nyaman dan damai. Dia bukan sosok yang lemah lembut, tapi perlakuan dan perhatiannya membuatku kembali merasakan seperti apa itu cinta dan kasih sayang.


Saat ini aku hanya bisa berharap dan terus berdoa. Semoga dialah lelaki yang Tuhan kirim untukku. Lelaki yang menjadi pelabuhan terakhir dalam perjalanan cintaku. Lelaki yang akan kupanggil dengan sebutan suami. Lelaki yang akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Dan yang terakhir, aku berharap kebahagian ini tidak akan pernah berakhir. Akan terus seperti ini, selamanya.