
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya siksaan itu berakhir. Saat itu aku sudah terkapar tak berdaya. Aku memejamkan mata tapi tidak tidur.
Setelah memakai pakaiannya kembali, Kevin berbaring di sampingku. Memeluk erat tubuhku yang terbungkus selimut tebal.
"Maafkan aku, Ly. Maaf karena tak mempercayaimu," ucap Kevin penuh sesal.
Aku melengos saat ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Selain kecewa, aku juga merasa sangat malu. Meskipun Kevin tak jadi merenggut keperawanan ku tapi tetap saja ia sudah melihat dan menjamah seluruh tubuhku.
Aku kembali membuka mata saat Kevin meraih tanganku. Ia mengecup punggung telapak tanganku beberapa kali. "Kumohon maafkan aku, Ly. Aku menyesal," ucapnya lagi.
"Pergilah, Mas. Biarkan aku sendiri," kataku tanpa memandangnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkan aku, Ly."
Aku menoleh, menatapnya jengkel. "Jika kau terus bersikap seperti ini aku akan membencimu, Mas. Tolong, pergilah," pintaku.
"Baiklah, Ly. Aku akan pergi. Tapi sebelum itu izinkan aku membantumu ganti pakaian," ucap Kevin.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa melakukannya sendiri," kataku. Mencengkram selimut dengan kuat. Takkan kubiarkan Kevin melihat tubuhku yang tanpa busana untuk kedua kalinya.
"Tapi tubuhmu sangat lemah, Ly," ucap Kevin, lirih. Ia menatapku sendu. "Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, aku tidak akan menyakitimu lagi. Sungguh, aku hanya ingin membantumu. Aku bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan padamu, Ly," janjinya.
"Tolong jangan paksa aku, Mas. Kumohon keluarlah," pintaku, lagi. Kali ini aku mengucapkannya dengan nada meninggi.
"Baiklah, aku akan keluar," ucap Kevin, menyerah. Ia menangkup wajahku. Kemudian mendaratkan kecupan di keningku, cukup lama.
Kali ini kecupannya sangat lembut. Aku merasakan ketenangan dan juga ketulusan Kevin saat itu. Aku kembali membuka mata saat Kevin melepas ciumannya. "Aku pergi sekarang, Ly. Tidurlah--besok aku akan mengantarmu pulang," ucapnya sebelum beranjak.
Aku tak menjawab. Kevin turun dari tempat tidur dan berlalu pergi. Setelah Kevin menutup pintu aku bangun dan terduduk. Badanku terasa remuk, merasa sakit sekali di beberapa bagian. Terutama bagian dada dan pinggang akibat cengkraman Kevin.
Kusingkap selimut yang menutup sebagian tubuhku. Kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih.
Aku berdiri di bawah shower. Sower itu mulai menyemburkan air, membasahi wajahku yang sedang mendongak. Air itu kemudian mengalir ke bawah, mengguyur seluruh tubuhku yang hina ini.
Ini salah satu hari terberat dalam hidupku. Belum selesai rasa sesak di dada dengan perkataan ayah, kini di tambah perlakuan Kevin yang hampir memperkosaku. Bukan hanya tuduhannya saja menyakiti hati tapi perlakuannya barusan juga meninggalkan sakit fisik yang teramat nyeri.
Kupandangi pantulan tubuhku di cermin. Puluhan tanda merah tersebar hampir di sekujur tubuh. Paling banyak di leher, tulang selangka dan dada. Bibirku juga sedikit bengkak.
Otakku terus bekerja, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentang bagaimana aku menghadapi ayah dan ibu besok. Aku tak mungkin menemui mereka dengan kondisiku seperti sekarang. Mereka pasti akan curiga. Mengurung diri di dalam kamar seharian juga tidak mungkin.
Aku bergegas mempercepat mandi. Menggosok tubuh dengan sabun dan mengguyurnya dengan air bersih. Setelah selesai dan berpakaian, aku duduk di depan meja rias. Membuka laci berisi make up dan mengambil foundation.
Ide pertama yang kudapatkan setelah membersihkan diri yaitu menutupi bekas ****** dengan foundation. Hasilnya lumayan. Tanda merah di leherku tersamarkan dan hampir tak terlihat, kecuali jika benar-benar di perhatikan dari jarak dekat.
Untuk bagian lainnya kubiarkan saja. Besok aku akan mengenakan kaos turtle neck lengan panjang agar tertutup sempurna.
Malam semakin larut. Aku kembali ke tempat tidur. Membaringkan tubuhku di sana dan memejamkan mata. Besok aku harus bangun pagi dan cepat-cepat pulang. Kalau bisa sebelum kedua orang tuaku bangun.
...****************...
Pagi harinya aku di bangunkan oleh suara alarm yang memekakkan telinga. Mataku masih terpejam saat meraba ponselku. Rasa kantuk masih sepenuhnya menyelimutiku. Namun segera kusingkirkan saat melihat jam di layar ponsel itu. Sudah jam lima pagi. Aku harus bergegas pulang.
Aku melompat dari tempat tidur. Berjalan menghampiri lemari pakaian dan mengambil kaos dari dalam sana. Setelah itu mengganti piyama yang sedang kukenakan dengan kaos tersebut.
Setelah selesai aku bergegas keluar. Suasana pagi itu masih sepi. Mungkin yang lainnya masih belum bangun, pikirku. Aku berjalan cepat, menuruni anak tangga dan menuju pintu depan.
"Kau mau kemana, Nak?" tanya seseorang saat aku memegang handle pintu. Itu suara ibuku. Jantungku berdegup cepat, takut ketahuan.
"Alea ... Kenapa kau diam saja? Mau kemana pagi-pagi begini?" tanyanya, lagi. Aku bisa mendengar langkah kaki ibu yang berjalan mendekat.
Aku membalikkan badan dengan waspada. Meskipun takut setengah mati tapi aku harus menghadapinya dengan tenang. Karna sudah di lihat ibu maka aku harus pamit dengannya. Tidak mungkin aku nyelonong begitu saja, seperti maling. "Ibu sudah bangun?" tanyaku, tak perlu jawaban.
"Tentu saja sudah. Kalau belum ibu takkan melihatmu berjalan mengendap-ngendap seperti tadi," ucapnya.
"Ada apa, Alea? Kenapa kau pergi pagi-pagi sekali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ibu, menelisik.
Aku menggeleng cepat. "Tidak. Tidak ada apa-apa, Bu," kataku buru-buru.
"Lalu kau mau kemana pergi pagi buta begini? " tanya ibu, tak menyerah.
"Oh, ibu kira ada sesuatu yang terjadi. Sehingga kau ingin cepat-cepat keluar dari rumah," sahut ibu.
Aku tak mengerti maksud dari perkataan ibuku barusan. Tapi aku juga tak punya waktu untuk menanyakannya. Aku harus meninggalkan rumah ini secepatnya. Sebelum yang lainnya melihatku. Terutama Kevin. Untuk saat ini aku tak ingin melihatnya. Mungkin sampai beberapa hari ke depan, aku tak ingin bertemu dengannya dulu.
"Kalau begitu Lea pamit, Bu," kataku seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ibuku dan mengecup punggung telapak tangan wanita yang telah melahirkanku itu.
"Hati-hati di jalan, Nak," pesan ibu ketika aku keluar.
"Iya, Bu," jawabku sambil berlalu pergi. Aku menghela nafas lega saat berhasil keluar dari rumah itu.
"Untung tidak ketahuan," gumamku ketika sudah di luar gerbang. Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Berniat memesan ojek online.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pergelangan tanganku. "Biar kuantar," ucap pemilik tangan tersebut.
Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Kevin. Kenapa dia ada di sini? ucapku dalam hati. Aku menepis tangannya. "Aku bisa pulang sendiri," kataku, menolak.
Kevin tak menggubris ucapanku. Ia kembali meraih tanganku dan menyeretku masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Aku kalah. Tubuhku tak punya tenaga lagi untuk melawan. Aku duduk di jok depan, bersebelahan dengan Kevin yang duduk di belakang kemudi.
Aku melengos saat Kevin mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kupikir Kevin ingin menciumku, ternyata ia hanya ingin membantu memasang sabuk pengaman.
Selama perjalanan kami sama-sama membisu. Aku menatap keluar jendela. Sementara Kevin fokus mengemudi.
"Hari ini tidak usah ke kantor, istirahatlah di rumah," titah Kevin.
Tanpa di perintah pun aku memang tak berniat masuk kerja hari ini. Tubuhku sangat lelah dan juga sakit semua, jadi aku berencana izin satu atau dua hari.
"Kau dengar ucapanku, Ly?" tanya Kevin saat aku hanya diam.
"Ya," kataku singkat.
Kami kembali diam dan melanjutkan sisa perjalanan dengan tenang. Aku menoleh, menatap kevin. "Kenapa ke sini--aku ingin pulang ke tempat tinggalku," protesku saat menyadari jalan yang kami lalui bukan menuju kost melainkan menuju apartemen milik Kevin.
"Patuhlah, Ly. Di tempat lain aku tak bisa merawatmu dengan baik," ucap Kevin.
Aku menatapnya jengkel.
"Tenang saja, Ly. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi kepadamu. Aku bahkan membawa borgol. Jika kau tak percaya padaku, kau bisa memakaikannya di kedua tanganku agar aku tak bisa berbuat macam-macam padamu," imbuhnya dengan wajah serius. Aku mempercayainya.
Tak lama kemudian kami sudah sampai di apartemen. Kevin membukakan pintu untukku. Aku pun masuk ke dalam. Di ikuti Kevin yang mengekor di belakangku.
Kevin menarik tanganku, membuat langkahku terhenti. "Ambil ini, Ly," ucap Kevin seraya meletakan borgol di tanganku.
Aku mengangkat wajah untuk menatapnya. "Kau bisa memborgolku sekarang," ucap Kevin seraya mengulurkan kedua tangannya.
Nada suaranya terdengar putus asa. Aku melihat penyesalan sekaligus kesedihan di matanya. Aku yakin ia tak main-main dengan ucapannya, sangat serius.
Aku melempar borgol itu ke sembarang arah. Kemudian menghambur ke dalam pelukannya. Kevin membalas pelukanku. Ia mendekapku erat. "Maafkan aku, Ly," ucapnya, lirih.
"Berhentilah meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu," kataku.
Inilah aku. Wanita yang entah terlalu baik atau bodoh. Sebesar apapun kemarahanku pada Kevin, jika menatap wajahnya perlahan amarah itu surut dan lenyap begitu saja. Aku tak bisa marah dengannya. Meskipun kekasihku itu beberapa kali membuat kesalahan, aku selalu memaafkannya dan bisa memakluminya. Termasuk saat ia tertangkap basah tengah bercinta dengan adikku, aku tetap memaafkannya dan berusaha melupakannya. Seolah itu tak pernah terjadi.
"Terima kasih, Ly. Aku berjanji hal seperti semalam tidak akan terulang lagi. Kedepannya aku akan mempercayaimu," janjinya.
Kevin menjauhkan tubuhnya. Namun tak melepas kedua tangannya yang masih melingkar di pinggangku. Kami saling beradu pandang dalam diam. Aku memejamkan mata saat ia mendekatkan bibirnya ke bibirku. Ia kembali menciumku. Kali ini dengan sangat lembut.
Aku berharap kau menepati janjimu, Mas. Jika kau melanggarnya kurasa aku tak akan bisa memafkanmu lagi.
.
.
.
.