Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 32



Malam telah tiba. Aku duduk di depan cermin. Menyisir serta mencatok rambutku. Setelah itu membuatnya sedikit bergelombang di bagian ujungnya.


Pikiranku kembali menerawang saat acara tujuh bulanan Alia siang tadi. Selama acara itu berlangsung Alia tersenyum bahagia. Pujian dan juga doa tercurah untuknya serta calon bayi yang ada dalam kandungannya. Semua orang tampak bersemangat dan tak sabar menantikan kelahiran cucu pertama di keluarga Sanjaya.


Diam-diam aku menatapnya dengan iri. Betapa bahagia dan beruntungnya Alia. Mendapatkan semua yang ia inginkan tanpa perlu bersusah payah. Ia tak pernah kekurangan kasih sayang orang tua. Sejak kecil ayah dan ibu selalu memanjakan dan menuruti keinginannya.


Berbeda denganku yang harus berusaha keras jika menginginkan sesuatu. Kelahiran Alia seperti bencana bagiku. Setelah adikku itu lahir, kedua orang tuaku mulai berubah. Kasih sayangnya tak sehangat dulu, sebelum Alia ada. Terutama ayah, beliau memperlakukan aku dan Alia sangat berbeda. Sering kali aku dipaksa mengalah dan mengaku salah meskipun bukan aku yang melakukan kesalahan.


Sejak saat itu aku tak lagi merasa bahagia. Hingga suatu saat aku bertemu dengan Kevin, laki-laki yang selalu berusaha mengabulkan apa yang kuinginkan. Laki-laki yang tak malu mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Laki-laki yang mau mengalah demi membuatku bahagia.


Apa yang tak kudapatkan di keluargaku, aku dapatkan dari Kevin dan juga kedua orang tuanya. Cinta, kasih sayang dan juga perhatian, aku dapatkan dari sana. Ayah dan ibunya menerimaku dengan hangat. Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik. Apa lagi mama Nadia, beliau selalu memanjakan ku seolah aku ini putrinya sendiri.


Itulah alasan mengapa aku tak bisa melepaskan Kevin. Dia sebagian hidupku, sumber kebahagiaanku. Jika ia pergi maka aku mati.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku yang saat itu sedang bercermin. Aku berjalan menghampiri pintu kamar. Menarik slot dan membuka pintunya.


Begitu terbuka Kevin melangkah masuk dan mendorongku ke dalam. Hampir saja aku terjungkal ke belakang karena berjalan mundur. Beruntung Kevin segera menangkapku, sebelum tubuhku menghantam lantai.


Kevin berjalan mendahuluiku. Kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa abu-abu yang ada di sudut ruangan. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke belakang. Satu tangannya terulur ke atas, memijat pelipisnya.


"Mas Kevin sakit?" tanyaku, cemas. Aku berjalan mendekat ke arahnya.


"Kepalaku agak pusing," sahutnya.


"Mungkin karena kurang tidur, istirahatlah sebentar," kataku ketika sudah berada di sisinya.


Kevin menarik tanganku hingga membuatku jatuh dan terduduk di pangkuannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Apa yang kau lakukan, Mas. Ini bukan di apartemen," kataku, mengingatkan. Aku berusaha melepaskan diri. Namun, tidak bisa. Kevin justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan seperti ini, Mas. Lepaskan aku. Banyak orang di luar. Bagaimana kalau ada yang datang dan melihat kita seperti ini?"


"Tenang saja, Ly. Semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak akan ada yang menyadari keberadaan kita berdua.


"Tapi ...."


"Sstt." Kevin meletakan telunjuknya di bibirku. Menyuruhku berhenti berbicara. "Biarkan aku memelukmu seperti ini, Ly. Aku lelah," ucapnya, lirih. Ia menenggelamkan wajahnya di dadaku. Matanya terpejam.


Melihatnya yang seperti itu aku merasa kasihan. Akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk. Membuat kami jarang bertemu. Aku berhenti memberontak. Ku biarkan ia melakukan apa yang ia inginkan. Aku mengusap kepalanya dengan lembut. Memainkan jemariku di rambutnya yang sedikit bergelombang.


Tak lama kemudian Kevin kembali membuka mata. Ia mendekatkan wajahnya padaku. Mataku terpejam saat Kevin menyatukan bibir kami. Ia menciumku dengan lembut. Kami beradu bibir selama beberapa menit.


"Aku mencintaimu, Ly," ucap Kevin setelah melepas pagutannya. Ia menatap lekat wajahku.


"Aku juga mencintaimu, Mas," kataku, tersenyum.


Kevin kembali mendaratkan kecupan. Namun bukan di bibir. Melainkan di keningku. Ia mengecupnya cukup lama. Setelah itu melepas pelukannya. Aku segera turun dari pangkuannya. Kemudian duduk di sebelahnya.


"Sekarang keluarlah, sebelum Alia atau pun yang lainnya mencarimu," kataku, memerintah.


"Baik, Nyonya," ucap Kevin. Dengan malas ia bangkit berdiri. Kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.


Setelah Kevin pergi aku melanjutkan aktifitasku sebelumnya. Bersiap menghadiri acara kedua yang di gelar saat malam hari. Yaitu pesta perayaan ulang tahun ayah Kevin yang kini genap berusia enam puluh tahun.


Saat aku keluar, suasana di lantai bawah cukup ramai. Tamu undangan mulai berdatangan.


Beberapa orang menatapku saat aku menuruni anak tangga. Aku melangkah dengan percaya diri. Begitu sampai di anak tangga yang terakhir aku di kejutkan dengan kehadiran Alia yang berjalan cepat ke arahku. Matanya tampak berapi-api.


Ada apa dengannya? Mengapa dia menatapku seperti itu.


Byur


Tiba-tiba Alia menyiramkan minuman yang ada di tangannya ke wajahku. Aku gelagapan karenanya. Dalam sekejap cairan berwarna merah itu mengotori wajah dan juga gaunku.


Belum selesai keterkejutanku. Detik berikutnya ia melayangkan tamparan keras di pipiku.


Aku memegangi pipiku. Sakit. Sakit sekali.


"Apa maksudmu, Alia? Mengapa kau menamparku?" tanyaku.


"Dasar pelakor tidak tahu malu! Kenapa kau tidak mati saja, Alea!" Teriak Alia, marah. Ia kembali melayangkan tangannya, memukuli wajah dan kepalaku.


"Akh, sakit Alia," pekikku saat Alia menjambak rambutku. Aku memegangi rambutku.


"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang kurasakan Alea!" Lagi-lagi ia menampar wajahku.


"Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku saat Kevin mendatangimu? Semakin hari tingkahmu keterlaluan!"


"Apa maksudmu, Alia? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan."


"Berhentilah pura-pura bodoh, Alea! Kau pikir aku tidak tahu kalau tadi kau berduaan dengan Kevin di dalam kamar!"


Mataku membelalak, terkejut. Jadi ia tahu?


"Kau menjijikan, Alea. Aku membencimu!" Teriak Alia. Ia memukulku semakin ganas.


Aku pasrah. Hanya bisa meringkuk dan menutupi wajahku dengan kedua tangan.


"Hentikan, Alia!" Teriak ibuku. Beliau berusaha menghentikan tangan Alia yang terus memukulku.


"Lepaskan aku, Bu. Biarkan aku memukulnya agar dia sadar dan berhenti menggoda suamiku," ucap Alia, memberontak.


"Cukup Alia. Kau sedang mengandung," ucap ibu. Cengkraman tangan Alia di rambutku mulai mengendur. Ia terkulai lemah. Kemudian tak sadarkan diri dalam pelukan ibuku. Beberapa orang berdatangan. Mereka tampak panik melihat Alia pingsan. Kulihat Kevin juga datang. Ia mengangkat tubuh Alia kemudian membawanya pergi. Begitu juga dengan yang lainnya.


Hanya tersisa aku seorang diri. Yang tergeletak di lantai. Banyak orang di sekelilingku. Namun semuanya hanya menonton, tak ada yang menolongku.


Dengan sisa tenaga yang kupunya. Aku mencoba bangun. Namun kaki kananku terasa nyeri. Aku hanya bisa duduk. Menundukkan kepala, menatap lantai yang dingin. Nyeri di pipi akibat tamparan Alia terasa berdenyut. Namun sakit di tubuhku tak sebanding dengan sakit hati yang kurasakan.


Kevin, pahlawanku. Kenapa kau tak datang menolongku? Kenapa kau malah membantu Alia? tidakkah kau lihat aku terluka?


Kevin ... Apakah kali ini hubungan kita benar-benar akan berakhir?


Penglihatanku mulai buram. Seiring dengan keluarnya buliran cairan bening yang menggenang pelupuk mata.


Tuk tuk tuk


Derap langkah kaki berjalan mendekat ke arahku. Sepasang kaki yang terbungkus sepatu pantofel itu berhenti lima puluh senti di depanku. Aku seperti sedang berlutut di depannya. Entah siapa dan apa yang akan ia lakukan padaku. Aku terlalu takut hingga tak berani mengangkat wajahku.


"Apa kau suka sekali duduk di lantai?" ucap seseorang yang berdiri di depanku itu. Nada suaranya terdengar marah. Meski tak melihat wajahnya tapi bisa ku tebak ia seorang lelaki muda.


"Bangunlah, Ale-Ale--lantainya dingin," ucapnya lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.


Ale-Ale? hanya Alan yang memanggilku dengan sebutkan seperti itu. Tapi bagaimana mungkin ia ada di sini. Apa aku sedang berhalusinasi?


"Apa kau tuli? Aku menyuruhmu bangun, tapi mengapa kau masih duduk di situ seperti orang bodoh."


Perlahan aku mengangkat wajah. Mendongakkan kepala untuk menatap wajah lelaki di hadapanku yang menjulang tinggi. Laki-laki itu memandangku dengan tatapan sendu. "Al ... Kau kah itu?" tanyaku, tak yakin. Mirip sekali dengan Alan tapi penampilannya sangat berbeda.


"Hm, ini aku," sahutnya.


Tanpa sadar air mataku meluncur begitu saja. Membasahi kedua pipiku. Memandang wajahnya membuat tangisku pecah.


Alan membungkukkan badan. Kemudian berjongkok, salah satu lututnya di tekuk sebagai tumpuan. Jemarinya terulur, menyeka air mata di wajahku. "Jangan menangis," ucapnya.


Mendengar suaranya yang lembut serta perhatiannya membuat tangisku semakin tak tertahan. "Al, aku ingin pulang," kataku dengan suara bergetar.


"Iya. Ayo kita pulang," sahutnya. Alan meletakan tangan kananya di belakang punggungku. Sementara satu tangannya lagi di kedua kakiku. Sambil membopongku ia bangkit berdiri. Kemudian mulai melangkahkan kakinya, menerobos kerumunan orang yang menyaksikan pertengkaranku dengan Alia.


Aku menenggelamkan wajahku di dadanya. Menghindari tatapan orang-orang yang kami lewati. Orang-orang yang memandangku dengan tatapan jijik dan juga benci.


.


.


.


.