
Aku berlari menuju toilet, mengunci pintu dan terisak di dalam sana. Sekarang aku tak memiliki siapa pun. Ayah, ibu dan seluruh keluarga besar sudah pasti tak akan memaafkan ku. Bahkan sebentar lagi, seluruh dunia pasti membenciku. Cepat atau lambat video itu akan tersebar luas dan meninggalkan jejak digital yang buruk untukku. Cap pelakor, sebutan itu akan selalu menempel padaku, selamanya.
Aku tidak ingin bersembunyi seperti ini, aku tidak bersalah. Akan tetapi nyaliku terlalu ciut untuk keluar. Aku terlalu takut dengan tatapan orang-orang yang memandang jijik padaku.
Kevin, kapan kau akan datang? Mengapa membiarkanku terjatuh sendirian seperti ini? Kevin ... Kau sedang apa dan dimana sekarang? Cepat datang kemari, aku membutuhkanmu.
Suara gaduh di luar sana membuatku berhenti menangis. Sayup-sayup ku dengar seseorang memanggil namaku.
"Ly ... Lily ... Dimana kau?"
Suara itu dan panggilan itu sangat familiar di telingaku. Aku bangkit berdiri, membuka pintu dan melangkah keluar. Di saat bersamaan seorang lelaki berdiri beberapa langkah di depanku.
"Ly ...," ucapnya dengan suara lirih. Ia memandangku dengan tatapan sendu. Kemudian melangkah cepat menghampiri dan memelukku.
Aku membalas pelukannya. Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. "Akhirnya kau datang juga, Mas," kataku, kembali berderai air mata.
"Maafkan aku, Ly," ucap Kevin, merasa bersalah. Setelah beberapa saat berpelukan, Kevin melepas pelukannya. "Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Ia menangkup wajahku, memeriksa keadaanku.
"Aakh," pekikku saat Kevin membelai pipiku yang masih lebam.
Kevin menatap lekat wajahku. "Apa sangat sakit? Maaf, aku tidak bisa melindungimu sebelumnya," ucapnya, menyesal.
Aku meraih telapak tangannya yang masih menangkup wajahmu dan menggenggamnya.
"Tidak apa-apa, besok juga sembuh, tidak akan sakit lagi," kataku.
"Tapi video itu ...." Wajah Kevin kembali cemas. Ia menatapku iba.
Ah, jadi Kevin juga sudah tahu tentang video yang beredar di media sosial itu.
"Maafkan aku, Ly. Aku benar-benar tidak berguna."
Kuraih wajahnya yang tertunduk, memaksanya agar kembali menatapku. "Mengapa berkata seperti itu, aku baik-baik saja sekarang," kataku, menenangkan.
"Tapi itu pasti membuatmu tidak nyaman, Ly. Saat aku kemari semua orang membicarakanmu, bahkan netizen memaki dan mengutukmu. Itu semua salahku, ly, aku tidak bisa melindungimu," ucapnya frustasi. Bisa kurasakan kalau ia bahkan lebih terpukul dari pada aku.
"Jangan dilihat dan jangan dengarkan mereka," kataku, memerintah. "Mas Kevin harus tahu, bagiku ini bukan apa-apa, meski semua orang mencaciku atau bahkan jika seluruh dunia membenciku itu tidak masalah, asalkan aku tetap bisa bersamamu," kataku. Menatap lekat wajahnya. Kami berdua saling memandang satu sama lain. Kevin kembali menarik tubuhku, membawaku ke dalam dekapannya. Tangan kirinya membelai kepalaku. Sementara satu tangannya yang lain bertengger di belakang punggungku, mendekap tubuhku dengan erat.
"Maafkan aku, Ly. Jika saja aku tidak jatuh cinta padamu ... tidak, jika saja aku tidak memaksamu melanjutkan hubungan terlarang kita, kau tidak akan menderita seperti sekarang," ucapnya, lirih.
"Hei ... Apa yang kau katakan," kataku seraya melepas pelukan. Aku sama sekali tidak menyukai perkataannya barusan.
"Lihat aku, Mas." Kevin mengangkat wajahnya yang tertunduk untuk menatapnya.
"Aku sama sekali tidak menderita, aku bahagia bersama denganmu, Mas. Kau adalah hidupku, jika kau tidak ada maka aku pun tidak ada. jika kau berani meninggalkanku maka aku akan mati."
Kevin kembali memelukku. "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, Ly. Takkan ku biarkan kau mati, tidak akan pernah. Meski harus mengorbankan nyawaku, aku akan melakukannya agar kau tetap hidup."
"Bodoh!" kataku, kesal. Air mataku kembali menetes. "Jika Mas Kevin ingin aku hidup, maka Mas Kevin juga harus tetap hidup. Ingat, kau sudah berjanji padaku. Setelah anak itu lahir, Mas Kevin harus menceraikannya, lalu menikahiku," kataku mengingatkan. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi, aku tetap harus melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaanku bersama Kevin. Aku tidak akan peduli lagi dengan ucapan orang-orang di luar sana. Toh meski aku dan Kevin tak melanjutkan hubungan ini mereka juga akan tetap menganggap ku pelakor, wanita hina dan sampah masyarakat. Jadi kenapa tidak sekalian terjun saja.
"Aku tidak akan lupa, Ly. Aku pasti akan menepati janji itu. Aku menikahimu dan juga membahagiakanmu, kita akan hidup bersama selamanya," janjinya.
.
.
.
.