Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 76



Aku menunggu dengan tidak sabar, ingin segera mengetahui seperti apa bentuk obat ajaib itu.


"Ini dia obatnya..." seru Alan. Detik berikutnya aku merasakan sesuatu yang lembab menyapu bibirku.


Aku membuka mata dan terkejut dengan pemandangan yang tak terbayangkan sebelumnya. Wajahnya persis di depan mataku dan bibirnya mematuk bibirku. Matanya terpejam dan kedua lengannya menekan pinggang dan tengkukku.


Tubuhku terkunci, tak bisa bergerak. Hanya bisa pasrah dan... menikmatinya? Ya, kurasa aku cukup menikmatinya. Bibirnya sangat lembut, agak dingin juga. Aku tidak tahu apa yang ia konsumsi sebelumnya, aromanya seperti mint, harum dan menyegarkan tapi rasanya manis.


Rasa manis itu tidak sekuat gula atau permen. Itu hanya sedikit, seperti ... entahlah aku tidak bisa menjelaskan seperti apa persisnya rasa manisnya itu. Yang jelas itu tidak terlalu manis.


Ini bukan pertama kalinya kami berciuman, tapi aku masih saja berdebar-debar setiap kali kami melakukan keintiman seperti itu. Dan aku masih sama seperti sebelumnya, selalu terengah-engah dan kehabisan nafas.


"Manis," Ucap Alan usai melepas ciumannya. Ia tersenyum lebar dengan mata berbinar. Dia selalu seperti itu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kau membohongiku lagi!" Aku memukul dadanya dengan kesal. Hanya pukulan pelan, tidak berniat menyakitinya.


"Aku tidak bohong," bantahnya. Senyumnya semakin lebar. "Lihat, aku sudah sembuh sekarang, tidak sakit lagi," imbuhnya seraya meraba sisi wajahnya.


"Oh ya? Kalau begitu biarkan aku mengeceknya." Aku mencubit pipinya dan ia kembali meringis kesakitan.


"Ada apa dengan ekspresimu itu, bukankah katamu sudah sudah tidak sakit, hm?" tanyaku kemudian.


"Ampun, Sayang."


Aku mendelik padanya. "Masih mau bilang sudah tidak sakit lagi?"


Alan menggeleng. "Tidak, itu masih sakit," akunya. Ia memasang wajah memelas saat mengatakannya. Akan tetapi anehnya itu justru terlihat menggemaskan di mataku, seperti anak kecil. Jika saja ia sedang tidak sakit, aku pasti sudah mengunyel-unyel wajahnya yang tampan sekaligus imut itu.


Aku membelai pipinya sekali lagi. Jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Jangan berkelahi dengan Kevin lagi," kataku, memperingatkan.


Senyum diwajahnya luntur seketika. Digantikan dengan ekspresi... marah? "Kenapa? Kau takut aku menyakitinya?" ucapnya tanpa memandangku. Tatapannya jatuh ke leherku dan ia mulai mendekatkan kepalanya ke bagian itu.


Sekujur tubuhku merinding saat bibirnya menyusuri bagian itu. Memberikan kecupan-kecupan ringan yang membuat tulang ekorku mati rasa. Itu sangat geli. Tubuhku meliuk-liuk karenanya dan tanpa sadar aku bergerak semakin dekat ke arahnya. Tubuh kami benar-benar menempel sekarang. Aku menggigit bibir, menahan diri agar tidak mengeluarkan suara yang bisa memicu gairahnya.


Ya, beberapa pria atau bahkan sebagian besar nya, akan semakin bergairah ketika mendengar ******* wanita. Alan tidak terkecuali, ia juga termasuk orang semacam itu. Oleh karena itu aku selalu berhati-hati agar tidak memancingnya.


"Berhenti berkata yang tidak-tidak. Tidakkah kau tahu betapa aku mengkhawatirkan dirimu?" kataku kemudian.


Alan menghentikan tindakannya. Memundurkan kepalanya sedikit untuk memandangku lagi. Matanya terbelalak. "Kau mengkhawatirkan aku?"


"Ya, kau yang aku khawatirkan, bukan dia," kataku, memperjelas. "apa kau senang?" tanyaku.


"Sangat," jawabnya dengan senyum tipis. Matanya kembali berbinar. Ia menarikku lebih dekat, mendekapku dengan erat. "Terima kasih, Alea," ucapnya lagi.


Aku kembali mengalungkan tanganku di pundaknya, membalas pelukan. Detak jantungnya terdengar lebih jelas saat aku menyandarkan kepala di dada bidangnya. Tidak terlalu teratur tapi masih normal, tidak secepat seperti saat kami beradu bibir atau melakukan tindakan intim lainnya. "Kevin pemegang sabuk hitam di taekwondo, kau sama sekali bukan tandingannya."


Ya, salah satu alasan aku melarang keras ia berkelahi dengan Kevin karena faktor itu. Kekuatan mereka jelas tidak sebanding. Yang kedua, dan yang paling penting, aku tidak ingin melihatnya terluka lagi. Mungkin Alan akan terkejut jika mengetahui alasan keduaku itu. Aku pun sama. Jiwaku sedikit terguncang saat menyadari kalau aku lebih mengkhawatirkan Alan daripada Kevin.


Aku dan Kevin telah menjalin hubungan yang sangat lama. Meski dia pernah menyakitiku, tapi aku masih kesulitan untuk melupakannya. Sementara kalau dengan Alan, setahun pun belum ada. Hubungan kami benar-benar masih sangat baru.


Akan tetapi ketika dihadapkan dengan dua pria itu, anehnya aku justru lebih memilih Alan dibandingkan mantan kekasihku itu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkinkah aku mulai menyukainya? Cecunguk itu?


"Alea ...." Alan berkata lagi. Suaranya sedikit berat dan dalam. Saat mata kami bertemu, tatapannya menggelap.


"Kurasa aku harus mandi," imbuhnya.


"Mandi? Bukankah kau sudah mandi tadi?" Aku menatapnya dengan bingung. Dia baru saja selesai mandi beberapa menit yang lalu. Sekarang mau mandi lagi?


"Oh. Tapi sesuatu dibawah sana menyiksaku. Aku harus mandi untuk menenangkannya."


"Aku juga akan mandi," tambahku. Aku hendak turun dari pangkuannya, tapi Alan menahannya. Lengannya masih memeluk pinggangku dengan erat.


"Haruskah kita mandi bersama?" Tatapannya semakin dalam.


Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak. Itu terlalu beresiko."


Dengan mata terpejam Alan menelan salivanya dengan susah payah. "Kau benar, aku tidak terkendali sekarang."


Dekapannya mulai mengendur, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk turun. Alan ikut berdiri dan melangkah keluar kamar.


Aku bergegas ke kamar mandi. Menanggalkan pakaian dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Sama sepertinya, aku juga membutuhkan air untuk menjernihkan pikiran.


Adegan sebelumnya kembali berkelebat dalam benakku. Bagaimana jika kami tak bisa menahan keinginan itu? Apa jadinya jika kami sama-sama terlena dan melakukan itu pada akhirnya?


Aku bergidik ngeri membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Mungkin kami akan sama-sama menyesalinya sekarang. Bagaimana pun kami memiliki komitmen yang sama. Tidak ada 'itu' sebelum menikah. Itu bukan berarti kami sok suci. Kami juga tahu setiap sentuhan seperti pelukan dan ciuman juga tidak dibenarkan, tapi dua hal itu masih bisa ditolerir, kurasa.


Setelah membersihkan diri dan berpakaian, aku bergegas turun ke bawah. Menuju ke dapur dan mulai memasak untuk makan malam.


Kali ini aku membuatnya lebih sederhana. Dua porsi daging sapi yang kubumbui dengan saos teriyaki serta irisan paprika, bawang bombai dan sedikit jahe. Tak lupa dengan dua buah telur goreng mata sapi kesukaan Alan.


Aku tidak mengerti mengapa orang-orang menyukai olahan telur seperti itu. Menurutku itu agak hambar. Aku lebih suka telur dadar yang kaya akan rasa.


Setelah semuanya matang, aku bergegas menyajikannya di atas meja. Sembari menata alat makan, aku melirik ke kamar Alan. Sudah hampir satu jam, tapi Cecunguk itu tak kunjung menampakan batang hidungnya.


Panjang umur, baru saja aku mempertanyakannya, ia tiba-tiba nongol. Rambutnya masih basah tapi tidak ada air yang menetes di ujungnya. Kurasa ia sudah mengeringkannya dengan handuk terlebih dulu sebelum keluar.


"Apa kau selalu menghabiskan waktu selama itu untuk mandi? Itu hampir satu jam," kataku ketika Alan menjatuhkan tubuhnya di kursi.


"Tidak juga. Biasanya aku hanya butuh lima belas menit," ucapnya seraya menerima piring yang telah aku isi dengan dua centong nasi merah.


"Lalu, kenapa tadi begitu lama?" tanyaku lagi. Kali ini aku mengisi piringku sendiri dan duduk di seberangnya.


"Kau dan para wanita lainnya tidak akan mengerti." Alan mengulurkan tangan, memindahkan dua sendok daging dan juga telor ceplok ke dalam piringnya. "Dalam kondisi tertentu, pria perlu menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi demi menjaga kesehatan dan kewarasannya," lanjutnya.


Lagi, aku menatapnya dengan bingung. Apa hubungannya kesehatan dan kewarasan dengan kamar mandi?


"Kondisi tertentu seperti apa yang kau maksud?" tanyaku, penasaran.


Alan meletakan sendoknya. Menelan makanan di mulutnya terlebih dulu sebelum menjawab. "Kau benar-benar ingin tahu?" tanyanya seraya memandangku dengan serius. Aku mengangguk dengan cepat, mengiyakan.


Ia memperhatikan wajahku selama beberapa detik. "Aku akan memberitahumu nanti," ucapnya. Ia kembali menunduk, menatap piringnya. Lalu menyendok makanannya lagi dan memasukannya ke dalam mulut.


"Kenapa tidak sekarang saja?" kataku dengan wajah tertunduk. Aku memotong daging sapi dengan sendok, lalu mencampurnya dengan nasi dan melahapnya.


"Kita sedang makan," jawabnya.


Aku menatapnya lagi. "Setelah makan kau akan memberitahuku?"


"Hm," balasnya sambil mengangguk.


"Baiklah ..."


Dengan begitu kami berhenti bicara, fokus dengan makanan masing-masing. Alan selesai lebih dulu. Setelah mencuci tangan ia bergerak menuju ruang tamu. Menyalakan televisi dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Bersambung...