
Pagi itu aku sedang di dapur saat Alan berteriak memanggilku berulang kali. Sambil membawa dua porsi sandwich dan juga dua gelas susu, aku melangkah menuju meja makan.
"Alea ...." Alan berteriak lagi. Aku meliriknya sebentar. Ia sedang di lantai atas, memeriksa kamarku.
"Berhentilah berteriak, aku tidak tuli," kataku seraya meletakan nampan ke atas meja.
"Kau dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi." Alan menuruni anak tangga. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan acak-acakan.
"Ada apa? Kenapa mencariku?" tanyaku seraya menjatuhkan tubuhku di kursi dan bersiap untuk sarapan.
Aroma sabun menyeruak, menusuk hidungku saat Alan mendekat. Ia berdiri di sebelahku. "Apa kau tak melihat? Rambutku basah."
Aku mendongak, menatapnya. "Terus?" Mau basah, kering atau botak sekalipun itu bukan urusanku. Aku mengulurkan tangan meraih sepotong sandwich berisi telur dan beberapa lembar daging sapi yang di riris tipis. Aku menggigitnya sedikit dan mengunyahnya pelan.
"Lakukan seperti yang semalam, keringkan rambutku." Ia melemparkan handuk putih nan kecil itu ke arahku. Handuk itu mendarat tepat di kepalaku.
Darahku serasa mendidih. Kurasa dia memang minta di pukul. Kuletakan kembali sandwich itu. Lalu menarik handuk itu dengan kasar sambil menoleh ke arahnya.
"Apa? Mengapa kau memelototiku? Kau mau marah padaku?" tanyanya dengan wajah datar.
Tanganku sudah mengepal, sangat geram. Ingin sekali aku meninju wajahnya. Sabar ... ingat posisimu, Alea. Kau menumpang di rumahnya dan juga berutang banyak padanya. Aku menghela nafas panjang, menekan amarah. "Apa yang kau katakan? Kau begitu baik padaku, dewa penyelamatku yang memberikan tempat tinggal gratis dan juga membayar seluruh belanjaanku semalam. Jadi mana berani aku marah padamu. Jika aku melakukannya itu berarti aku sedang tidak waras," kataku dengan senyum palsu.
Alan tersenyum lebar. "Bagus. Sayangku memang terbaik," ucapnya seraya mengusap kepalaku. "Cepat, keringkan rambutku," perintahnya.
Sayangku apaan, aku bukan Sayangmu!
Kami saling bertukar posisi. Alan duduk di kursi, sementara aku berdiri di belakangnya dan mulai mengelap rambutnya.
"Apa ini untukku?" tanyanya. Menatap sandwich di hadapannya.
Apa kau buta? Jelas-jelas itu kelihatan bekas gigitan. "Itu punyaku. Milikmu yang di sebelah sana," kataku. Melirik piring satunya lagi. Di sana ada dua potong sandwich yang masih utuh.
"Mengapa mereka terlihat berbeda?" Alan menunjuk kedua sandwich itu bergantian.
Beda dari mananya, sih? Jelas-jelas itu sama! "Apa yang kau katakan? Aku membuatnya sama."
"Tapi sepertinya punyamu lebih enak," ucapnya seraya memiringkan kepala.
Kalau begitu makan saja punyaku! Dasar aneh.
Alan mengangkat piring berisi sandwich yang sudah ku makan sedikit. "Aku mau yang ini saja," ucapnya.
"Terserah kau saja," sahutku, malas.
Alan memakan sandwich itu dengan gigitan besar. Kedua pipinya menonjol saat mulutnya penuh oleh makanan. Terlihat sangat lahap saat menikmati sarapan yang kubuat itu.
Aku masih mengeringkan rambutnya, saat ia menghabiskan sepotong sandwich tadi.
"Kau membuatnya sendiri?" tanya Alan. Ia mengambil sepotong lagi.
"Hm. Kenapa?" tanyaku sambil memijat kepalanya.
"Ini enak," ucapnya. Setelah itu kembali menggigit sandwich itu dan mengunyahnya.
Aku tersenyum. Ini pertama kalinya seseorang memuji makanan yang ku buat. Rasanya cukup menyenangkan. Aku merasa bangga dengan diriku sendiri.
"Buatlah setiap hari," ucapnya lagi.
"Kau akan bosan kalau aku membuatnya setiap hari. Besok kubuatkan menu lain yang tak kalah enak."
"Baiklah," sahutnya, setuju.
Setelah selesai mengeringkan dan menata rambutnya, aku bergegas mencuci tangan di belakang. Setelah itu kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Saat itu Alan sudah menghabiskan makanannya.
Aku duduk di sebelahnya dan mulai memakan makananku. "Mau lagi?" tanyaku saat ia terus menatapku.
"Apa boleh?" tanyanya.
"Makan saja," kataku seraya memalingkan wajah dan kembali memasukan sandwich ke dalam mulut.
"Baiklah."
Tiba-tiba ia menyambar makanan yang ada di mulutku. Bibir kami hampir bersentuhan saat ia menggigit sandwich yang menggantung di mulutku tadi. Aku tersedak karenanya.
Aku meraih gelas itu dan meminum isinya. Setelah meletakan kembali ke meja.
"Apa kau gila! Aku menyuruhmu memakan yang satunya lagi. Kenapa malah mencuri makanan di mulutku!"
Alan justru tersenyum saat aku mendelik ke arahnya. "Yang di sana terlihat lebih enak," ucapnya tanpa rasa malu.
Aku tak mengatakan apapun lagi. Percuma saja berdebat dengannya. Itu justru akan membuatku gila. Aku kembali fokus dengan makanan yang di hadapanku.
Detik demi detik terus berlalu. Alan tak berpaling, terus menatapku yang sedang mengunyah makanan.
"Berhenti menatapku," kataku, memerintah.
Bibirnya melengkung ke atas, tersenyum. "Kenapa? Apa kau malu?" ucap Alan seraya memiringkan kepala dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Masih terus memandangiku.
Jujur saja iya. Aku memang merasa sedikit malu saat ia terus menatapku. Wajahnya begitu tampan, wanita mana pun pasti tersipu malu jika di tatap seperti itu olehnya. Apalagi dengan jarak sedekat ini. Rasanya jantungku akan meledak. "Kau membuatku tidak nyaman," jawabku kemudian.
Alan menarik tubuhnya menjauh. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Aku menghela nafas lega. Akhirnya ia tak menatapku lagi.
"Mengapa kau membuat dua gelas susu?" tanyanya sambil menatap kedua gelas itu.
"Satu untukku dan satunya lagi untukmu," kataku tanpa menatapnya.
"Aku tidak minum susu," ucapnya dengan nada malas. "Aku lebih suka kopi," imbuhnya seraya menoleh ke arahku.
"Baiklah, besok akan ku buatkan kopi. Karena sudah terlanjur kubuat minumlah sedikit."
Alan mengulurkan tangan, meraih gelas berisi cairan putih itu. Kemudian mendekatkan gelas itu ke mulutnya. Di lihat dari ekspresinya ia jelas tak menyukainya. Hidung dan dahinya mengernyit saat cairan itu masuk ke tenggorokannya. Wajahnya terlihat aneh tapi tidak jelek.
"Aku tak sanggup lagi," ucapnya seraya meletakan gelas itu ke meja. Ia tak menghabiskannya. Masih tersisa separuh.
"Kau tak perlu menghabiskannya," kataku, tersenyum.
Alan bangkit berdiri. Melangkahkan kaki menuju kamarnya dan masuk ke dalam sana. Saat keluar ia sudah berganti pakaian. Seperti biasa. Ia mengenakan celana jeans sobek-sobek dan juga jaket kulit berwarna hitam. Kali ini ia tak memakai kalung rantai atau kalung-kalung lain yang sejenisnya. Namun ia tetap memakai satu anting di telinga kanannya. Tak bisa di pungkiri, apapun yang ia kenakan dan di lihat dari sudut mana pun Alan tetap terlihat tampan. Ia terlahir seperti dewa yang akan memikat siapa saja yang melihatnya.
"Kau mau ke mana?" tanyaku, penasaran. Pagi-pagi begini kemana ia akan pergi?
"Aku ada urusan, kau di rumah saja," ujarnya.
Siapa juga yang mau ikut, heh!
Aku lekas berpaling, menumpuk piring dan gelas ke nampan. Setelah itu membawanya ke belakang dan mencucinya.
Aku meliriknya sebentar saat ia berjalan mendekat.
"Aku pergi dulu," ucap Alan. Ia berdiri tak jauh dariku
Aku mengabaikannya, fokus mencuci piring.
"Kubilang aku mau pergi, Apa kau tidak dengar, Alea?" ucapnya setengah berteriak.
Aku menghentikan aktifitas yang sedang ku kerjakan. Meletakan spon dan mematikan keran, lalu menoleh ke arahnya. "Mau pergi ya pergi saja, mengapa kau malah berteriak padaku? Kau pikir aku tuli?" kataku, kesal.
"Maaf," ucapnya, nyengir. "Jangan mengabaikanku saat aku bicara padamu, aku tidak suka," imbuhnya.
Alan maju selangkah. Meraih pinggangku dan mendaratkan kecupan di keningku.
"Telpon aku jika kau membutuhkan sesuatu, aku pergi dulu," ucapnya seraya melepas pelukannya.
Aku masih membeku saat ia melangkah pergi. Jantungku kembali berdetak sangat cepat. Wajahku terasa sedikit memanas. Aku mengulurkan tangan ke atas, mengusap kening. Kecupan itu masih bisa kurasakan. Bibirnya sedikit kering tapi tetap terasa lembut.
Aku tidak mengerti, apa yang terjadi dengan diriku saat ini. Seharusnya aku marah karena ia berbuat semena-mena padaku. Tapi mengapa aku justru tak merasa demikian? Sebaliknya, ada gelayar aneh di hatiku. Tapi aku tidak tahu perasaan apa itu.
.
.
.
.