Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episide 75



"Sayang ... tolong ambilkan handuk, di sini tidak ada," teriak Alan dari dalam kamar mandi. Ya, Cecunguk itu sedang di kamar kecil itu sekarang.


"Ini handuknya," kataku seraya mengetuk pintu.


Alan membuka pintunya sedikit. Setengah badannya yang telanjang terlihat ketika ia menjulurkan kepala. "Terima kasih," ucapnya setelah mengambil handuk di tanganku. Setelah itu kembali menutup pintu.


Aku menghampiri lemari pakaian. Mengambil handuk berukuran lebih kecil dan juga hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Setelah itu kembali duduk di tepi tempat tidur.


Pintu kamar mandi kembali terbuka, Alan muncul dengan handuk melilit di pinggangnya. Rambutnya basah kuyup dan rintik air menyebar di sekujur badannya yang bertelanjang dada.


"Dimana bajumu? Kenapa tidak di pakai lagi?" tanyaku sambil terus menatapnya. Kulitnya yang seputih salju tampak bercahaya, mulus dan tanpa cela. Dada bidang, pinggang ramping dan perut rata, pemandangan seperti itu sayang kalau dilewatkan bukan? istilahnya, cuci mata.


"Mereka kotor. Kau menyuruhku untuk tidak menggunakan baju yang sudah di pakai," ucapnya.


Yah, aku memang pernah berkata seperti itu. "Kemari dan duduklah," kataku seraya menepuk kursi kecil di hadapanku.


Dengan kaki jenjangnya Alan tiba di sisiku dengan cepat. Lalu menjatuhkan bokongnya di kursi kayu berbentuk segi empat yang dilapisi busa di bagian atasnya. Ia menggeser kursinya ke depan, lebih dekat padaku hingga lutut kami saling bersentuhan. Lengannya yang panjang dan berotot terulur, meraba pinggangku dan melingkarkannya di sana.


"Apakah sesulit itu menuruti perkataan orang lain?" kataku seraya menyeka air di wajahnya menggunakan handuk. "Aku menyuruhmu diam di tempat dan tidak kemana-mana, tapi kau tak mendengarkan," lanjutku.


Ia menjawab dengan mata terpejam. "Aku tidak kemana-mana, hanya ke kamar mandi."


Seperti biasa, Alan tidak pernah kekurangan jawaban. Pertanyaan apapun bisa ditangani dengan mudah olehnya. Mulutnya seperti mesin otomatis yang bisa mengeluarkan kalimat kapan saja dengan cepat dan tepat tanpa perlu banyak berpikir. Aku bertaruh, otaknya pasti bekerja lebih keras dibandingkan orang lain. Seperti aku, misalnya.


Aku mengambil ice bag compress dan meletakkannya di sisi wajah Alan yang lebam. "Pegang ini," titahku padanya.


Alan mengulurkan tangan kirinya dan mengambil alih tugas itu. Sementara aku mengambil salep dan membuka tutupnya. Ia meringis saat aku mengoleskan salep itu ke sudut bibirnya yang terluka. "Apa sangat sakit?" tanyaku.


"Hm," sahutnya, singkat. Jemariku bergerak ke kanan dan ke kiri, membelai pipinya dengan lembut. Berharap sentuhan itu bisa membuatnya merasa lebih baik.


Orang lain mungkin menganggapku sinting karena memiliki pemikiran seperti itu. Bagaimana mungkin sebuah sentuhan bisa mengurangi rasa sakit yang di derita seseorang? Sungguh konyol.


Yah, itu memang agak konyol, aku mengakuinya. Akan tetapi hal-hal konyol seperti itu anehnya cukup berguna padaku. Ketika sedang sakit, entah itu sakit perut karena menstruasi atau demam, aku akan merasa lebih baik jika ada seseorang yang memegang tanganku atau membelai kepalaku. Sentuhan itu seolah menyerap rasa sakitnya, sangat ajaib.


"Alea ...," panggil Alan. Matanya kembali terbuka.


"Ya," jawabku.


"Apa kau tahu, salep yang kau pegang itu sebenarnya tidak terlalu ampuh," ucapnya dengan serius.


"Iyakah?" Aku mengira sebaliknya. Kupikir itu justru sangat manjur karena Alan menyetok lebih banyak dirumah. Aku menemukannya di beberapa tempat berbeda. Ada yang disimpan dalam kotak p3k, di laci meja kerjanya dan juga di dalam kamar. Selain itu, di kantor serta apartemennya juga ada salep seperti itu dan juga beberapa obat lain yang di produksi oleh perusahaan yang sama.


Alan mengangguk. "Itu sangat ajaib, bisa menyembuhkan berbagai macam luka dan juga mengatasi beberapa masalah tubuh seperti kelelahan, sulit tidur dan sebagainya. Selain itu, obat tersebut juga sangat manjur, sepuluh kali lipat lebih ampuh dibandingkan salep yang kau pegang."


"Memangnya ada obat yang semacam itu?" tanyaku tak percaya.


"Tentu saja ada. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya." Alan memindahkan ice bag compress dari wajahnya. Melemparnya ke meja, lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa? Apa karena sangat mahal?" Ya, kalau memang ada obat semacam itu, harganya pasti tidak murah.


Obat macam apa itu? mengapa harus mengandalkan keberuntungan seseorang untuk memperolehnya. Selain itu memangnya ada orang yang mau memberikan obat secara cuma-cuma?


Aku menatapnya dengan mata menyipit. "Kau tidak sedang membodohiku' kan?"


"Kau sangat pintar, bagaimana bisa aku membodohimu," sahutnya.


Aku masih mengamati wajahnya. Mencaritahu kebenaran dari kata-kata Alan lewat sorot matanya. Aku agak kaget karena tak mendapati kebohongan di sana. Jadi obat itu memang benar-benar ada?


"Beritahu aku, obat apa itu dan bagaimana cara mendapatkannya? Apa itu ada di semua toko obat? Atau hanya di apotek-apotek tertentu saja? Selain itu, apa obat di jual bebas atau harus dengan resep dokter?" Aku menunggu jawabannya dengan tidak sabar.


"Kau ingin tahu?"


Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau begitu mendekatlah," ucapnya seraya menjentikkan jemarinya.


Aku tertegun sejenak, merasa bingung. Mengapa aku harus mendekat? Itu agak aneh. Tapi aku sangat penasaran. Kucondongkan tubuhku ke depan, mendekatinya.


"Lebih dekat lagi," pintanya.


"Mau sedekat apa lagi?" Kami sudah sangat dekat, lututnya bahkan sudah masuk di antara pahaku.


Dengan satu tarikan aku sudah berada di pangkuannya. "Seperti ini, ini baru yang dinamakan mendekat," ucap Alan.


"Ini bukan mendekat tapi menempel," protesku seraya memukul dadanya, tapi tidak berniat menyakitinya.


"Kalau begitu biar aku ulangi. Menempelah padaku, Alea," ucapnya dengan senyum tipis.


"Sekarang cepat beritahu aku," desakku.


"Kau jadi tidak sabaran." Alan meraih tanganku dan membimbingnya menuju pundaknya.


"Ya, aku sangat penasaran," kataku seraya menautkan jemariku di tengkuknya.


"Karena kau sangat penasaran dan begitu tidak sabaran, maka aku akan memberitahumu sekarang," ucapnya. "Tutup matamu," titahnya kemudian.


"Mengapa aku harus menutup mata?"


"Tak bisakah kau berhenti bertanya?! lakukan saja yang kuperintahkan."


Aku tak bisa menahan tawa saat melihat wajah kesalnya. Namun segera berhenti ketika tatapan matanya menajam. "Baiklah, aku akan menurut sekarang," kataku seraya memejamkan mata.


Seperti apakah bentuk obat itu? Akankah itu padat seperti pil dan tablet? Atau berupa cairan sejenis sirup? Atau justru berbentuk krim seperti salep?


Bersambung ...