
"Apa!" kataku, terkejut.
Sepuluh kali lipat dari gaji yang kuterima. Apa itu masuk akal? Aku bahkan belum sempat merasakan uang dari perusahaan ini, tapi mereka justru ingin merampas uangku.
Aku kembali menatap Dani. "Apa kau berniat memerasku!"
"Itu sudah peraturan perusahaan, Nona. Aku hanya menjalankannya saja," jelasnya. Dani begitu santai dan tenang. Tidak seperti diriku yang sudah mencak-mencak dan hampir meledak.
"Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu untuk membacanya terlebih dulu, tapi Anda bilang sudah tahu isinya."
Aku terdiam, tak bisa menyangkal perkataannya. Sebelumnya aku memang berkata seperti itu. Kukira peraturan di sini sama seperti perusahaan-perusahaan lain di luar sana. Jika melanggar kontrak maka diwajibkan membayar denda sebesar satu bulan gaji yang diterima. Tak disangka, perusahaan ini ternyata memiliki peraturan yang berbeda. Kalau di pikir-pikir ini murni kesalahanku karena tidak teliti.
"Jadi ... Bagaimana Anda akan membayarnya, Nona?" tanya Dani.
Aku terdiam lagi. Aku tidak ingin bekerja di sini, tapi aku juga tidak bisa membayar denda sebanyak itu. Tidak mungkin aku menggunakan uang yang di berikan Alan. Meskipun bisa saja tapi jumlahnya tidak akan cukup.
"Kalau begitu aku tidak jadi mengundurkan diri. Bisakah Pak Dani menganggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi?" kataku, setelah berpikir sejenak.
Dani mengerutkan kening. "Tapi Anda sudah menandatangani dokumennya," ucapnya, tampak keberatan.
"Bukankah itu hanya secarik kertas? Bapak bisa merobeknya lalu membuangnya ke tempat sampah," saranku.
"Tapi ... Bagaimana aku menjelaskannya pada Tuan Ars? Bahkan asisten Arman yang mengantarkan Nona Alea ke sini secara langsung."
"Bapak tenang saja, aku sendiri yang akan menjelaskan pada Alan."
"Maksudku, Tuan Ars," ralatku tak lama kemudian. Aku lupa kalau orang-orang di sini memanggilnya Ars. Wajar saja Dani terlihat kebingungan saat aku menyebut nama Alan.
"Baiklah, aku akan mempercayakannya padamu, Nona," ucapnya setuju.
Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah, pria ini tidak mempersulitku.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak," kataku, pamit undur diri.
Dani menganggukkan kepala. "Silahkan, Nona," sahutnya, ramah.
Aku bangkit berdiri, lalu berbalik dan mulai melangkahkan kaki. Dani memberikan semangat sesaat sebelum aku meninggalkan ruangannya.
Meskipun enggan, pada akhirnya aku kembali ke ruangan Alan dan menghadapnya dengan rasa malu. Saat aku tiba di sana, Alan masih duduk di sofa. Ia melirikku sebentar, setelah itu kembali ke laptopnya.
"Ada apa? Mengapa kembali? Apa kau meninggalkan sesuatu?" Ia memberondongku dengan tiga pertanyaan sekaligus. Nada suaranya terdengar dingin. Ia bahkan tak menatapku saat mengatakannya.
Entah mengapa hatiku terasa mencelos saat Alan bersikap seperti itu padaku. Aku tidak suka ia terlalu dekat denganku tapi lebih tidak suka lagi jika ia cuek padaku. Aku tidak tahu, mengapa aku begitu egois. Aku terus menunduk, tak berani menatapnya.
"Mengapa diam? Aku bertanya padamu, apa kau tuli?" bentak Alan.
Aku tidak mengerti mengapa aku menjadi lemah. Hanya karena ia berbicara dengan suara lebih tinggi, aku hampir menitikkan air mata. Ya, cairan bening itu mulai menggenang, menghalangi pandanganku.
"Al, Aku ... aku berubah pikiran, aku ingin tetap bekerja di sini," kataku, sedikit tergagap.
"Dengan siapa kau bicara? Apa kau sedang berbicara dengan semut?" Kali ini nada bicaranya lebih lembut. Namun terdengar sedikit mengejek.
"Tegakkan kepala dan tatap lawan bicaramu. Selain itu jangan hanya bergumam, besarkan suaramu agar aku bisa mendengarnya," titahnya kemudian.
Perlahan aku mengangkat wajah, memberanikan diri untuk menatapnya. "Aku tidak ingin berhenti. Aku ingin tetap bekerja di sini. Kutarik kata-kataku yang sebelumnya," kataku dengan suara lantang. Mata kami saling bertemu saat aku mengatakannya.
Alan mengernyitkan dahi. "Kau menangis?" tanyanya. Ia bangkit dari duduknya. Setelah itu berjalan mendekat ke arahku.
Aku memalingkan muka. Dengan cepat aku menyeka air mata yang keluar tanpa kusadari.
Beberapa detik kemudian Alan sudah berdiri di depanku. Seketika aroma mint yang menyegarkan sekaligus menenangkan itu menyeruak, menyerang hidungku.
Satu tangannya terulur, meraih wajahku. Ia sedikit membungkuk, mensejajarkan postur tubuh kami. "Jangan menangis, aku hanya bercanda," ucapnya seraya membelai pipiku. Ada penyesalan dalam suaranya.
Terkadang, saat sedang tidak menyebalkan, Alan bersikap begitu hangat padaku. Ia sangat baik dan juga perhatian. Seperti yang sedang ia lakukan saat ini. Ia bertingkah seolah begitu menyayangiku. Aku tersentuh oleh sikap dan nada bicaranya barusan, sangat lembut.
"Aku mengizinkanmu tetap bekerja di sini. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus kau perhatikan. Perusahaan memiliki aturan tersendiri. Meskipun kita dekat, tapi selama di kantor aku adalah atasanmu dan kau bawahanku. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan spesial karena itu akan membuat pegawai lain iri. Jika kau melakukan kesalahan maka akan mendapatkan hukuman, sama seperti yang lainnya. Jadi kau harus bekerja secara profesional, mengerti!" jelas Alan. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Aku sendiri tidak tahu mengapa air mata ini terus menetes. Tapi satu hal yang kutahu, aku merasa nyaman berada dalam pelukannya.
...****************...
Tak terasa beberapa hari telah berlalu. Aku berusaha keras supaya bisa beradaptasi dengan pekerjaan baruku dengan cepat. Hasilnya sedikit banyak aku sudah bisa menangani tugas-tugasku dengan cukup baik, menurutku. Seperti membuat jadwal pertemuan, menyiapkan dan menyusun laporan, menyambut tamu pimpinan dan lain sebagainya.
Akan tetapi ada satu tugas yang sulit kutangani. Yaitu tugas yang berkaitan dengan urusan pribadi direktur kami yang tak lain adalah Alan atau Ars. Ya, selama di kantor aku tidak bisa memanggilnya Alan. Melainkan harus memanggilnya dengan sebutan Tuan Ars, seperti yang lainnya.
Seperti biasa, saat jam makan siang aku harus ke ruangan Alan. Di saat yang lainnya pergi ke kantin dan bersiap untuk mengisi perut, aku justru harus menjalankan tugas yang menjengkelkan ini.
Dengan malas aku bergegas menuju ke ruang kerjanya yang besar itu. Sangking luasnya sampai ada tempat tidur di dalam ruangan itu yang di sekat dengan dinding pembatas. Saat melihatnya aku bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa fungsi dari ranjang itu. Sepertinya Alan juga tak pernah memakainya. Laki-laki itu bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di luar ketimbang di kantor.
Haruskah aku mencobanya lain kali? saat Alan tak ada di kantor?
Aku membuang pemikiran itu jauh-jauh, kembali fokus dengan yang sekarang. Saat itu Alan masih berada di meja kerjanya. Begitu fokus dengan dokumen-dokumen di tangannya hingga ia tak menyadari saat aku masuk.
Aku berdehem untuk mengalihkan perhatiannya. Berhasil, Alan akhirnya menoleh ke arahku.
"Kau sakit?" tanyanya. Wajahnya tampak cemas. Aku tidak mengerti mengapa Alan selalu bersikap seperti itu. Saat aku sedikit saja, ia akan terlihat cemas.
Aku menggeleng. "Tidak, hanya sedikit gatal saja," kataku, buru-buru. Sebelum ia semakin khawatir.
"Sudah setengah satu, apa Tuan Ars tidak lapar?" kataku seraya menjatuhkan diri di sofa.
Alan tersenyum. Melepaskan kacamatanya dan meletakan benda itu di meja. "Apa matahari terbit dari barat? Kau sangat perhatian hari ini," ucapnya seraya berjalan menuju ke arahku.
"Apa yang Tuan Ars bicarakan?" kataku sambil memasang senyum palsu. "Setiap hari aku memijat bahumu, membelikan makanan untukmu bahkan menyuapimu juga. Bukankah itu karena aku perhatian padamu?" kataku sambil menggertakan gigi.
"Itu sudah tugasmu," jawabnya sambil terkekeh.
Aku memalingkan muka sambil mengutuknya dalam hati. Setelah itu kembali memandangnya saat ia sudah duduk di sebelahku.
"Jadi ... Apa yang ingin Tuan Ars makan hari ini?"
"Aku sudah memesan di restoran, jadi kau tak perlu keluar untuk membelikanku makanan." Jemarinya terulur, menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaannya itu. Kalau tidak menyelipkan ke belakang telinga maka ia akan menggulung-gulung beberapa helai rambutku dengan telunjuknya. Aku tidak mengerti mengapa ia bisa memiliki kebiasaan seperti itu. Mungkin ia tidak bisa tidur jika seharian tak memainkan rambutku itu.
"Tuan Ars sudah memesan makanan sendiri, kalau begitu, bolehkah aku pergi ke kantin?" tanyaku, penuh harap.
"Mau apa? Makan?" tanyanya.
Apa masih perlu bertanya? Selain makan, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan di kantin? tidak mungkin juga aku salto atau main gulat di sana' kan?
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kalau kau ke sana bagaimana denganku?"
Aku menatapnya dengan bingung. "Maksudnya?"
"Sebentar lagi makanannya datang, siapa yang akan memasukan makanan itu ke mulutku?"
"Bukankah Anda punya tangan?" kataku. Melirik kedua lengannya yang kini lebih berisi dan sedikit berotot. Kurasa ia lupa bahwa selain untuk menandatangani dokumen tangan itu juga berfungsi untuk makan.
Alan menautkan kedua telapak tangannya. Jari-jarinya bergemeletukan saat ia menekuknya bersamaan. "Hari ini ini banyak sekali dokumen yang harus kutandatangani, tanganku sampai pegal."
Cih, alasan! Bilang saja kau ingin tetap di suapi. "Kalau begitu aku akan membantumu makan Tuan Ars," kataku, terpaksa.
"Maaf selalu merepotkanmu, Alea."
Kau tahu itu merepotkan, kenapa tidak berhenti dan makan dengan tanganmu sendiri!
"Tidak apa-apa, Tuan. Sama sekali tidak merepotkan," kataku, berbohong.
Bersambung ....