
"Ahh ... Sakit, Al," keluhku saat Alan mengoleskan salep di sudut bibirku yang berdarah. Meskipun sudah satu jam berlalu tapi nyeri di sekujur tubuhku tak kunjung sirna. Terutama di kedua pipiku. Di bagian itu terasa berdenyut.
"Tahan sebentar, nanti tidak akan sakit lagi," ucapnya.
"Ahh, pelan sedikit, Al," pintaku.
Alan menyingkirkan tangannya dari wajahku. "Berhentilah mendesah, kau membuatku tak bisa berkonsentrasi," ucapnya.
Aku melongo melihat kekesalannya. "Siapa yang mendesah, aku tidak mendesah. Kau hanya mengoleskan salep di wajahku, memangnya perlu konsentrasi?"
"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan?" tanyanya.
"Memangnya apa yang kuucapkan? Aku hanya mengeluh sakit dan memintamu pelan sedikit."
"Kau berkata ah, sakit sekali, lalu ah lagi dengan suara mendayu-dayu seperti seorang wanita yang sedang bercinta. Apa kau tidak sadar?"
"Hah, memangnya aku berkata seperti itu?"
"Ya. Apa kau sengaja melakukannya untuk menggodaku?"
"Yang benar saja, untuk apa aku menggodamu. Kau sama sekali tak menarik."
"Benarkah?" Alan mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Kau mau apa?" kataku, panik. Ia semakin mendekat. Aku mundur ke belakang hingga tubuhku membentur punggung sofa. Aku terjebak di bawah kungkungannya. Wajah kami sangat dekat hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menerpa kulit.
Alan tersenyum menyeringai. "Katamu aku tak menarik, tapi kenapa wajahmu merona? Bukankah karena kau tertarik denganku? Aku cukup menggoda bukan?" ucapnya percaya diri.
Bocah sialan. Wajah dan tubuhmu sangat dekat, bagaimana mungkin tubuhku tidak beraksi.
"Itu karena ruangan ini panas," kataku, mengelak.
"Suhu di ruangan ini 16° C, aku bahkan kedinginan tapi kenapa kau malah merasa panas?" bisiknya di telingaku.
"Aakk...." Aku memekik saat Alan menyenggol kakiku.
Alan kembali menjauhkan tubuhnya. Ia memandangku cemas. "Kenapa? Masih ada luka di tempat lain?" tanyanya.
Aku meringis, menahan sakit yang berdenyut. "Kurasa kakiku terkilir."
Alan beralih memandang pergelangan kakiku yang sedikit bengkak. Kemudian berjongkok di depanku. "Apa wanita itu petinju? Mengapa kau terluka banyak sekali," ucapnya seraya memeriksa kakiku.
"Tahan sebentar, mungkin akan sakit sedikit," ucapnya. Ia mulai mengurut kakiku. Aku menjerit kesakitan. Bagaimana bisa dia mengatakan sakit sedikit, ini bukan hanya sakit sedikit tapi sakit luar biasa. Aku sampai ingin menangis karena tak tahan.
"Sudah," ucap Alan beberapa saat kemudian. Ia bangkit berdiri kemudian duduk di sebelahku.
Berkat pijatannya, rasa sakit itu berangsur hilang, tapi tidak sepenuhnya. Masih sakit sedikit. "Terima kasih," kataku.
"Apa masih ada luka di tempat lain?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Tidak ada."
"Sebenarnya apa yang kalian ributkan? Mengapa dia menyiksamu sampai seperti ini? Dan juga apa kau tak bisa melawan? Kalau pun tidak bisa melawan, setidaknya kau harus menghindar saat wanita itu menyerang."
Aku tak menjawab. Alan yang bukan siapa-siapa saja begitu mencemaskanku. Ia juga sangat peduli padaku. Sementara Kevin justru sama sekali tak peduli denganku. Ia lebih mementingkan Alia dari pada aku yang terluka. Aku menunduk, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Si brengsek itu juga kenapa malah menolong wanita itu, jelas-jelas kau itu pacarnya," ucap Alan. Memandang sembarang arah. Entah mengapa sejak tadi Alan begitu kesal. Padahal apa yang terjadi padaku sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.
"Apa yang kau maksud itu Kevin?" tanyaku tanpa menatapnya.
"Siapa lagi kalau bukan dia, bukankah pacarmu itu cuma dia?" sahutnya.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Kevin mu itu, apa kau mengerti?" tanyanya. Ia kembali menatapku.
"Tentu saja, Al, aku sangat mengerti."
"Mengapa kau begitu tenang, apa kau tidak marah pacarmu itu lebih memilih menolong wanita lain di banding dirimu?" Alan menatapku seakan tak percaya.
"Wanita yang kau maksud itu bukan orang lain, dia adikku. Dan adikku itu istrinya Kevin,"
"Apa!" Alan terbelalak, kaget. "Apa maksud ini semua, Alea? Jangan bilang kau berselingkuh dengan adik iparmu sendiri." Alan menatap lekat wajahku, meminta penjelasan.
Aku tidak setuju dengan ucapannya. Aku bukan selingkuhan Kevin. Alia lah yang menjadi orang ketiga di antara kami. Hanya saja, status Alia sekarang lebih tinggi dariku. Ia istri yang sah di atas kertas. Sehingga seolah aku lah yang jadi pengganggu padahal sebaliknya.
"Bisa di bilang seperti itu," kataku, mengakui. Ya, semua orang pasti menganggapku berselingkuh dengan adik ipar. Aku seorang pelakor.
Alan bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan mondar-mandir di depanku sambil mengacak rambutnya. "Argh, kurasa aku akan gila," ucapnya, mengerang. Meletakan kedua tangan di tengkuknya. Kemudian menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Aku menatapnya bingung. Mengapa ia terlihat begitu frustasi. Alan kembali berjalan mendekat dan berhenti di depanku. "Apa yang kau pikirkan, Alea. Mengapa kau mengganggu hubungan orang lain? Terlebih itu suami adikmu sendiri?" tanyanya dengan suara lembut. Alan kembali berjongkok di depanku. Kemudian menggenggam kedua tanganku. Ia menatapku. "Kau cantik dan pintar, aku yakin banyak lelaki yang mengagumimu tapi kenapa kau malah memilih laki-laki yang telah bersuami?"
Aku menatapnya, balik. "Jika aku mengatakan aku tidak bersalah, apa kau percaya padaku, Al?" tanyaku.
"Jadi ... Kau merasa tidak bersalah?"
Aku mengangguk. "Aku memang tidak salah, Al. Sebelum menikah dengan adikku, Kevin adalah tunanganku. Kevin terpaksa menikahinya demi menjaga kehormatan keluarga. Kevin sama sekali tak menyukai Alia, dia hanya mencintaiku, Al. Kami saling mencintai," kataku, menjelaskan.
Alan melepas genggamannya. Kemudian kembali berdiri. "Kau gila, Alea," ucapnya, marah.
Terserah apa katamu, Al. Mau mengataiku, gila atau apapun itu aku sama sekali tidak peduli. Kami sama-sama terdiam selama beberapa menit.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau akan terus menjadi selingkuhannya meskipun kalian sudah ketahuan?" tanyanya, memecah keheningan.
"Beberapa bulan lagi, setelah adikku melahirkan, Kevin akan menceraikannya. Kemudian akan menikahiku."
"Apa!" Alan kembali tercengang. Ia menatapku dengan dahi berkerut. "Apa otak kalian itu kosong?" tanyanya dengan suara meninggi. "Kau benar-benar gila, Alea. Tidak. Bukan hanya kau. Laki-laki itu juga. Kalian sama gilanya, idiot!" ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku tersentak kaget saat ia membanting pintu dengan keras.
.
.
.
.