
"Apa yang membuatmu marah? Apa karena aku memukulnya?" tanya Alan yang tertinggal beberapa langkah di belakangku.
Aku memutar bola mata, merasa jengah dengan segala omong kosongnya. Tidak seperti yang ia tuduhkan, aku sama sekali tidak memikirkan Kevin. Apakah mantan kekasihku itu terluka parah? apa dia sedang kesakitan sekarang? Aku benar-benar tidak peduli tentangnya. Aku justru sedang mengkhawatirkan lelaki tampan yang sedang membuntutiku itu.
Selain itu saat ini aku baik-baik saja, tidak sedang marah. Sepanjang jalan aku diam saja karena malas berdebat dengannya.
"Ya, kau pasti marah karena aku meninju mantan pacarmu yang brengsek itu," tuduhnya, lagi.
Aku meletakan barang belanjaan di meja kaca yang ada di ruang tamu, lalu berbalik dengan cepat.
Alan sedikit terkejut, hampir saja menabrakku jika tidak buru-buru menghentikan langkahnya. Ia berdiri satu meter di depanku. "Apa? Mengapa kau melotot padaku?"
Aku melipat kedua tangan di dada. Mengamati wajahnya yang ... babak belur?
"Kenapa diam saja? Apa kau bisu?!" Alan berkata lagi, terlihat semakin kesal. Ia mondar-mandir di depanku dengan bingung. Sesekali mengacak rambutnya yang hitam legam. Kurasa ia menjadi salah tingkah karena aku terus memperhatikannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Apa sudah selesai?" tanyaku beberapa saat kemudian.
"Apanya yang selesai?" sahut Alan dengan wajah cemberut.
"Marahnya," kataku seraya memalingkan muka. Setelah itu melangkahkan kaki menuju dapur dan mengambil kotak P3K yang tersimpan di rak penyimpanan dekat lemari pendingin.
"Siapa yang marah? Aku tidak marah," sangkalnya.
"Begitukah?" kataku. Melirik Alan yang berada tak jauh dariku. Persisnya di sebelah meja makan. Ia berdiri tegak sambil memegangi sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati itu.
"Ya," jawabnya singkat.
"Oh," kataku seraya mengangguk-anggukkan kepala.
Heh, kau pikir aku akan percaya begitu saja? kita sudah lama hidup bersama, aku sudah tahu seperti apa perilakumu saat kau marah, cemburu ataupun sedih. Dan sekarang kau sedang marah karena cemburu.
Setelah mengambil ice bag compress dan mengisinya dengan es batu, aku kembali ke ruang tamu. "Kemari dan duduklah," kataku seraya menjatuhkan diri ke sofa dan menepuk sisi di sebelahku.
"Tidak mau!" tolaknya. Ia langsung membuang muka begitu aku menoleh dan menatapnya.
"Tidak mau ke sini?" tanyaku dengan intonasi lebih tinggi. Berharap ia sedikit takut dan segera datang padaku. Namun, Alan sepertinya tak terpengaruh. Terbukti dengan apa yang ia katakan selanjutnya.
"Kenapa aku harus menurutimu?" protesnya. Kepalanya menengadah ke atas, menatap langit-langit dengan tujuan menghindari bersitatap denganku.
Aku mendesah, merasa lelah menghadapi sifat kekanakannya. Tidak, itu bukan kekanakan tapi menyebalkan. Jika kekanakan seharusnya lebih mudah dibujuk, tapi kalau Alan... huh, sangat sulit membujuk lelaki tampan yang satu itu.
"Tidakkah kau lihat seperti apa wajahmu?" kataku, mengingatkan.
Kali ini ia menoleh ke arahku. Wajahnya masih cemberut saat ia bertanya, "Memangnya kenapa dengan wajahku?"
"Saat ini wajahmu tampak mengerikan, apa kau tidak tahu?" kataku sambil terus menatap wajahnya yang sedikit bengkak dan lebam di beberapa bagian. "Cepat kemari," titahku, lagi.
"Lukanya bisa meninggalkan bekas jika tidak cepat ditangani," tambahku.
Tak ada pergerakan apapun dari Alan. Ekspresinya tetap acuh tak acuh.
"Baiklah ..." kataku seraya meletakan ice bag compress ke atas meja dan bangkit berdiri.
"Mau kemana kau?" tanya Alan saat aku berjalan melewatinya. "Aku sedang berbicara padamu? Apa kau tuli!" ucapnya lagi.
Aku terus mengabaikannya dan tetap melangkahkan kaki menaiki anak tangga meskipun ia menyuruhku berhenti.
Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Kemudian terkekeh saat mendengar langkah kakinya yang menghentak lantai.
Dalam hati aku menghitung mundur mulai dari sepuluh sebelum ia sampai ke kamarku. Dan ketika sampai di hitungan ketiga aku menutup telinga.
Seperti dugaanku, Alan langsung menggedor pintu kamarku setelah tahu aku menguncinya dari dalam. "Buka pintunya sekarang atau aku akan mendobraknya," ancamnya sambil terus menggedor. "Alea, apa kau tak mendengarku!" teriaknya.
"Berhenti berteriak dan menggedor pintu, telingaku sakit," kataku seraya berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Ia segera menyelinap masuk begitu pintu terbuka.
"Ada apa?" tanyaku sambil berjalan menghampirinya yang tahu-tahu sudah berbaring di ranjang.
Alan memiringkan tubuhnya, menghadap ke arahku dan menyangga kepalanya dengan satu tangan. "Wanita macam apa kau? lelakimu sakit tapi kau bahkan tak peduli sedikitpun," gerutunya. Jangan heran, lidahnya memang selalu tajam kalau sedang kesal. Selain itu, dia juga suka berteriak, seolah lawan bicaranya memiliki pendengaran yang buruk.
Lalu yang tadi kulakukan menurutmu itu apa? sejak tadi aku menyuruhmu datang dan duduk di sebelahku karena aku ingin mengobati lukamu, bukankah itu berarti aku peduli?
Ia beringsut ke arahku begitu aku menjatuhkan bokong ke tepi tempat tidur. Kemudian ikut terduduk dengan posisi berhadapan denganku. "Lihat ...," ucapnya seraya menuding wajahnya dengan telunjuknya. "Mukaku bengkak," lanjutnya.
"Wajahmu bengkak, memangnya ada urusannya denganku?" kataku seraya membuang muka.
"Tentu saja," sahutnya tanpa ragu. "Seharusnya kau mengobati lukanya bukan malah mengabaikan aku"
Aku menoleh dan menatapnya lagi. "Aku bukan dokter. Kau seharusnya pergi ke rumah sakit jika ingin berobat."
"Nyonya Ars sangat hebat. Kau bisa melakukannya meskipun bukan dokter," ucapnya seraya mencubit daguku. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas saat mengatakannya, membuatku terpesona.
"Sayang, ini sangat menggoda, bolehkah aku menciumnya?" ucapnya seraya membelai bibirku dengan ibu jari.
"Tidak!" kataku seraya menepis tangannya dan menarik diri, menjauhinya.
Ia mengacungkan telunjuknya. "Satu kecupan saja, boleh ya?" Tingkahnya saat ia memohon sama persis seperti anak kecil yang minta di beri cokelat atau es krim, menggemaskan. "Cuma sebentar, tidak akan lama," janjinya.
"Aku tidak akan mengurus lukamu kalau kau berani menciumku," ancamku.
Seketika Alan berhenti mendekat dan kembali duduk dengan tegak seperti sebelumnya. "Baiklah," ucapnya dengan lesu.
"Tetap duduk di situ dan jangan pergi kemana pun, aku ambil obatnya dulu," kataku, mewanti-wanti.
"Siap, Nyonya."
Aku bergegas turun ke bawah. Mengambil ice bag compress yang sebelumnya sudah kusiapkan dan juga salep untuk mengobati luka di sudut bibirnya.
Aku kembali naik ke atas dengan tergesa-gesa, tak mau membuatnya menunggu dan ingin segera mengobati lukanya. Namun, saat aku kembali Cecunguk itu sudah tidak ada di tempat tidur.
Bukankah ia tadi setuju untuk tidak kemana-mana? Sekarang kemana dia pergi?