
"Apa kau tahu! Aku seperti anak hilang yang tersesat. Tidak tahu harus kemana dan apa yang akan kulakukan. Aku sendirian dan kesepian. Itu sangat menyebalkan!" kataku dengan kesal.
"Aku salah... Maafkan aku, ya?" Tangannya kembali terulur, merangkul pinggangku.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" bentakku seraya menyingkirkan tangan dan kakinya yang melingkar di pinggangku, tapi tidak bisa.
Alan menggeleng, pandangannya lurus ke depan, menatap wajahku. "Tidak mau... aku ingin terus memelukmu seperti ini, Alea," ucapnya, tak mengindahkan perkataanku. Pelukannya justru semakin erat dan tangannya menekan punggungku lebih dekat ke arahnya, seolah tubuh kami belum menyatu.
Aku diam tak bergerak, seperti guling dalam pelukannya. "Aku tidak mau dipeluk oleh orang menyebalkan sepertimu."
Alan mendekatkan kepala dan mendaratkan dagunya di bahuku. Sementara tangannya mulai bergerak naik turun, mengusap punggungku.
"Aku sudah minta maaf, mengapa kau masih marah?" ucapnya dengan nada sangat lembut.
"Apa aku perlu bersujud di kakimu? Baru kau mau memaafkan aku?" imbuhnya seraya menjauhkan wajahnya dan menatapku lagi
Mungkin karena terlalu sering mendengarnya berteriak, sehingga ketika ia berbicara dengan nada lembut membuat hatiku luluh. Kekesalanku luntur secara perlahan. Terlebih ketika memandang wajah tampannya yang tampak merasa bersalah, itu seperti anak kecil. Aku tidak tega memarahinya lagi.
"Jangan seperti itu lagi, aku tidak suka," kataku, terus terang.
Aku membalas pelukannya dan membenamkan wajah di dadanya. Bau tubuhnya yang bercampur dengan parfum terasa menenangkan. Aku menghidunya beberapa kali.
"Alea..." Alan membuka mulutnya lagi. Sementara tangan kirinya tak berhenti membelai bagian belakang kepalaku. Jari-jarinya yang panjang dan ramping menyusup ke sela-sela rambutku, menyisirnya.
"Hm," gumamku.
"Jangan pernah tinggalkan aku, ya? Kurasa aku tak bisa hidup tanpamu."
"Omong kosong apa yang kau katakan?" balasku sambil tertawa kecil. "Jika kau tak bisa hidup tanpaku, seharusnya kau sudah mati sejak lama. Lihat dirimu sekarang, kau masih bernafas. Kau bahkan terlihat baik-baik saja dan hidup dengan nyaman sebelum bertemu denganku."
"Dulu dan sekarang berbeda, Alea." Ia melepaskan pelukan. Menggeser tubuhnya sedikit ke belakang dan menatapku lagi. Sementara aku mendongak untuk melihat wajahnya.
"Sebelumnya hidupku tak tentu arah, aku tak punya tujuan. Selama ini aku menjalaninya seperti air mengalir, hanya mengikuti alurnya saja. Aku tak pernah memikirkan masa depan, juga tidak memiliki ambisi apapun sebelum akhirnya kau datang." Alan masih memandangku, menatap wajahku lekat-lekat. Sementara tangan kirinya terulur ke atas. Meraih salah satu sisi wajah dan membelai pipiku dengan ibu jarinya.
"Kedatanganmu mengubah segalanya, Alea. Aku, yang dulunya tidak pernah tertarik pada perempuan, kini justru menjadi maniak pada wanita lemah sepertimu. Aku menyukaimu, sangat-sangat menyukaimu, Alea. Seumur hidup ini pertama kalinya aku begitu menyukai dan menginginkan seseorang. Bahkan rasa sukaku padamu melebihi rasa sukaku pada ibu dan diriku sendiri. Tidak tahu kenapa, hatiku sakit setiap kali melihatmu bersedih apalagi terluka. Sebaliknya, aku merasa sangat bahagia meski hanya melihatmu tersenyum. Apa kau tahu hal paling aneh..." Alan berhenti sejenak. Tatapannya semakin dalam dan suaranya lebih rendah dari sebelumnya saat ia menambahkan, "Aku tidak rela jika kau melakukan kontak fisik dengan orang lain, baik itu wanita apalagi pria. Satu-satunya orang yang boleh menyentuhmu hanya aku."
Aku terus menatapnya dalam diam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak menyangka perasaannya begitu besar dan sedalam itu padaku.