Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 53



Saat itu aku sedang mengeringkan rambut ketika terdengar suara siulan. Tak perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang bersiul, sudah pasti itu Alan.


"Ada apa? Mengapa datang ke kamarku?" tanyaku tanpa menatapnya. Mataku fokus ke cermin, melihat pantulan wajahku sendiri.


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya.


Aku memutar bola mata, malas. "Bukankah kau sudah masuk?"


Dimana pun berada Alan tetaplah Alan, si tetangga menyebalkan. Saat ia meminta izin, itu berarti ia sudah melakukannya dan jika aku tak mengizinkannya sekali pun ia akan tetap memaksa dan menerobos masuk. Seperti yang ia lakukan sebelumnya dan barusan.


Saat ia bersiul aku bahkan sudah mendengar langkah kakinya yang berjalan mendekat.


Tubuhku berguncang saat ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Bukan hanya sekali, ia mengangkat dan menjatuhkan bokongnya berulang kali sehingga ranjang yang sedang kami duduki itu terus berguncang.


Aku menoleh ke belakang, menatapnya tajam. "Apa kau anak kecil? Berhentilah bermain-main di sana."


Ia nyengir. "Ranjangmu empuk sekali," ucapnya.


"Ambil saja kalau kau mau," kataku seraya berpaling. Kembali menatap cermin dan melanjutkan mengeringkan rambut menggunakan hair dryer.


Secepat kilat ia bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya, tahu-tahu ia sudah berdiri di depanku. "Serius?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Aku tidak bercanda. Menyingkirlah, kau menghalangi pandangan," kataku. Mendorong tubuhnya dengan satu tangan.


Cecunguk itu tak bergeser sedikit pun. Masih ada di depanku. Namun, ia mengubah posisinya dengan duduk berjongkok sehingga aku bisa bercermin lagi.


"Kalau begitu malam ini aku akan tidur di sini, bersama denganmu," ucap Alan dengan seringai di wajahnya.


Aku menatapnya dengan mata mendelik. "Apa kau ingin di pukul?" ancamku.


"Asalkan bisa tidur denganmu, aku rela di pukuli sampai babak belur," ucapnya dengan tawa.


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Kurasa dia memang tidak waras. Alan belum beranjak. Kulihat air menetes-netes dari ujung rambutnya. Lalu mengalir ke pundak dan tengkuknya. Ia terlihat lebih kurus karena bulu-bulunya basah dan acak-acakan. Meski demikian tetap terlihat tampan. Wajahnya sangat mulus, tanpa cela dan terlihat sedikit imut saat ia tersenyum. Aku tak tahan lagi melihat penampilannya yang seperti anak kucing kecemplung got dan tampak tak terurus itu.


"Bangun dan duduklah," kataku seraya menepuk sisi di sebelahku.


Seperti anak anjing yang terlatih. Ia segera bangun dan duduk di tempat yang kuperintahkan, sangat patuh. Aku meraih handuk kecil dari dalam lemari. Kemudian mulai mengelap rambut hitamnya yang lepek. "Setelah mandi kau harus mengeringkan rambutmu dulu."


"Bukankah mereka akan kering dengan sendirinya? Mengapa harus repot-repot." Ia memejamkan mata saat aku memijat kepalanya.


"Tapi kau jadi terlihat seperti anak kucing yang baru saja tercebur ke air," kataku. Masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat sudah tak terlalu basah barulah ku keringkan dengan hair dryer sekaligus menata rambutnya.


Alan kembali membuka matanya. "Kalau begitu lakukan untukku setiap hari," ucapnya sambil mendongak. Lehernya yang panjang terekspos, putih dan mulus dengan jakun besar di tengahnya.


"Heh, kau pikir aku pengasuhmu!"


"Kalau begitu jadilah pengasuhku, Alea," pintanya dengan wajah memelas.


"Kau bukan bayi," kataku seraya bangkit berdiri. Menggulung kabel dan menyimpan hair dryer ke tempatnya.


Alan tertawa lagi. Ia tampak semakin mempesona saat rambutnya tertata rapi. "Karna kau sudah menata rambutku, aku akan mentraktirmu makan. Ayo kita keluar," ajaknya.


"Deal," sambarku, setuju. Aku berjalan keluar mendahuluinya. Alan terkikik di belakangku.


Alan lekas menginjak pedal gas ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil. Mobil melaju dengan kencang. Membelah jalanan yang lumayan renggang.


"Setelah makan nanti mampir ke supermarket ya, Al. Aku ingin membeli beberapa bahan makanan."


"Oke, Bos," sahutnya sambil menoleh ke arahku sebentar. Telapak tangannya di letakan di pelipisnya. Seperti seorang prajurit yang memberi hormat pada atasan saat menyampaikan laporan. Aku tertawa karena tingkahnya itu.


Sesuai rencana, usai perut kami kenyang dengan beberapa porsi makanan, aku dan Alan pergi ke supermarket tak jauh dari restoran yang kami kunjungi tadi.


Alan yang mendorong troli saat kami sedang berbelanja. Sementara aku sibuk memilih barang belanjaan.


"Apa kau berniat memelihara kambing? banyak sekali rumput yang kau beli."


Aku menoleh, menatap Alan yang sedang memegangi dua ikat kangkung dan bayam yang baru saja ku masukan ke dalam troli.


"Ya, kau kambingnya."


"Aku tidak suka rumput. Kau harus membeli banyak daging jika ingin memeliharaku." Alan mendorong troli dan berjalan menuju tempat yang memajang berbagai jenis daging dan juga seafood. Aku mengikuti di belakangnya. Tanpa banyak berpikir Alan meraih beberapa bungkus daging dan memasukan ke troli. Bukan hanya sekali ia mengambilnya lagi dan lagi.


"Hei ... Apa kau berniat memberi makan orang satu kampung?" Aku menghentikan tangannya yang hendak mengambil beberapa daging lagi. "Cepat letakan kembali, segini sudah cukup," kataku seraya menunjuk tumpukan daging di dalam troli.


Alan menurut. Ia meletakan kembali tumpukan daging yang ada di tangannya ke tempat semula.


"Kau suka makanan laut?" tanyaku sambil melihat-lihat deretan ikan segar.


Alan menggeleng. "Tidak terlalu, tapi aku suka ini," sahutnya seraya menuding udang dengan telunjuknya.


Aku mengangguk mengerti. Aku meminta pelayan di sana untuk membungkus beberapa untukku.


"Terima kasih," kataku saat menerima udang yang sudah di bersihkan oleh pelayan itu. Setelah itu memasukkannya ke troli bersama dengan belanjaan yang lain.


Tak terasa, tahu-tahu keranjang kami sudah penuh. "Apa masih ada yang ingin kau beli? Kalau aku sudah cukup," tanyaku pada Alan.


"Tidak ada," sahut Alan, menggelengkan kepala.


"Kalau begitu ayo bayar dan pulang," kataku seraya berjalan menuju kasir.


"Hm," sahutnya singkat.


Saat itu pengunjung cukup ramai. Kami harus mengantri dulu saat ingin membayar. Awalnya tak ada masalah, aku menunggu dengan tenang. Namun tak lama kemudian samar-samar terdengar orang berbisik sambil menunjuk ke arahku.


"Bukankah itu wanita yang di video? Si pelakor," ucap ibu-ibu berambut keriting.


"Sepertinya iya. Lihat, laki-lakinya ganti lagi, jangan-jangan itu juga suami orang," timpal seseorang di sebelahnya.


Semakin lama makin banyak orang yang melirikku dengan sinis. Aku menunduk, menyembunyikan wajahku, malu.


Tiba-tiba sebuah topi mendarat di kepalaku. Aku menoleh ke belakang, menatap Alan yang berdiri di belakangku.


"Lampunya terlalu terang, matamu pasti sakit," ucapnya seraya merapikan rambutku.


Aku tahu ia pasti mendengarnya juga. Jadi dengan sengaja melepaskan topinya dan memberikannya padaku. "Terima kasih, Al," kataku tersenyum.


"Biarkan saja, jangan dengarkan kata mereka," ucapnya lagi.


"Hm," kataku seraya mengangguk.


Setelah membayar belanjaan, kami pun pulang.


.


.


.


.


.