
Kepalaku sakit akibat membentur jok dan terasa semakin berdenyut karena teriakan Alan yang memarahi Arman tanpa henti. Sementara yang dimarahi hanya bisa menunduk sambil berulang kali meminta maaf. Jangankan membela diri, menatap matanya saja, Arman tak berani melakukannya. Ya, Alan memang agak mengerikan saat marah.
Antrian kendaraan di belakang mobil kami semakin panjang. Mereka mulai membunyikan klakson dan menunggu dengan tidak sabar. Suara-suara itu menyerbu gendang telingaku secara bersamaan, sangat memekakkan. Aku memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangan, berharap bisa menyingkirkan kebisingan itu meskipun hanya sia-sia. Aku masih bisa mendengar teriakan Alan dan juga bunyi klakson yang semakin kencang dan berulang-ulang.
"Jalan." Alan menginstruksikan pada Arman untuk kembali mengemudi. Aku menghela nafas lega karenanya dan menurunkan tanganku dari telinga.
"Baik, Tuan Muda," sahut Arman. Bahunya yang tegang kembali terkulai setelah pria itu mengambil nafas panjang. Akhirnya ia bisa bernafas dengan tenang sekarang, setelah mendapatkan makian panjang yang keluar dari mulut manis Alan yang berbisa.
"Sayang, kau tidak apa-apa?"
Aku kembali membuka mata dan mendapati Alan sedang menatapku dengan wajah cemasnya.
"Apa kau terluka?" Ia bertanya lagi sambil memeriksaku.
"Aku baik-baik saja," kataku seraya menyingkirkan kedua telapak tangannya yang menangkup wajahku.
"Biar aku periksa." Tangannya kembali menelusuri setiap bagian tubuhku. Terutama bagian kepala dan wajah. Ia membolak-balikannya beberapa kali.
"Apa yang kau lakukan?" aku menghentikan tangannya yang hendak melepas kancing kemejaku.
"Aku sedang memeriksamu," ucapnya seraya menatapku dengan alis terangkat.
"Kau yakin hanya ingin memeriksaku? bukan berniat menelanjangiku dan mengambil keuntungan?"
Alan menyeringai. "Aku melakukan keduanya." Ia mengakuinya tanpa malu. "Singkirkan tanganmu, Alea, biarkan aku mengeceknya, pinggang atau punggungmu mungkin terluka karena benturan tadi."
Aku memegang pakaianku erat-erat saat tangannya kembali menyentuhku. Aku takut ia nekat melepas bajuku dengan paksa.
"Berhenti bermain-main, Al, kau menakutinya," kataku seraya melirik Arman yang diam-diam mencuri pandang ke arah kami melalui kaca spion. Tangannya mencengkram stir dengan erat. Seluruh tubuhnya kembali menegang dan keringat di keningnya sebesar biji jagung.
Arman masih muda dan sedikit naif. Pernah suatu kali ia tak sengaja memergoki aku dan Alan sedang berciuman di kantor. Saat itu ia bukan hanya salah tingkah tapi juga menjadi agak bodoh. Ia mondar-mandir tak tentu arah. Bingung antara lanjut masuk dan menemui Alan atau kembali keluar. Seolah tak bisa menemukan pintunya, ia membentur kaca dua kali saat Alan menyuruhnya keluar.
Aku tak bisa membayangkan jika Alan benar-benar menanggalkan pakaianku saat ini juga. Mungkin lelaki polos itu akan pingsan saat menyaksikannya.
Alan mengalihkan pandangannya dariku dan beralih menatap Arman dengan tajam. "Apa kau mengintip dan menguping pembicaraan kami?"
Arman menggeleng dengan cepat. "Tidak, Tuan Muda. A-Aku mana berani," jawabnya sedikit tergagap.
"Bagus. Awas saja kalau kau berani mengintip wanitaku saat ia tak memakai baju, aku akan mencukil kedua bola matamu dan mendonorkannya pada orang yang membutuhkan." Ancaman Alan berhasil membuat asistennya itu ketakutan. Lelaki itu mengangguk sambil mengkeret di kursinya.
"Tutup matamu!" Titah Alan lagi.
"Tap..."
"Apa kau gila!" selaku seraya memukul pundak Alan. Kali ini cukup keras sampai Cecunguk itu mengaduh kesakitan.
"Maaf, aku salah bicara," ucapnya seraya menggosok bahu yang tadi kena pukul olehku. "Mana mungkin aku memiliki niat semacam itu. Aku bahkan belum menidurimu. Aku belum mau mati dan tak akan membiarkanmu mati juga," ucapnya sambil cengengesan.
Aku menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa aku menyukai laki-laki yang tidak tahu malu sepertinya? Kurasa otakku agak bermasalah akhir-akhir ini. Ya, aku pasti gila karena bersedia menjadi istrinya. Aku lekas berpaling darinya. Menyandarkan kepala ke belakang dan menutup mata. Aku mengabaikan Alan yang terus mengoceh tidak jelas. Ia bukan hanya tidak tahu malu tapi juga mesum gila.
"Alea!" Alan kembali memanggilku dengan suara menggelegar. Tak hanya itu, ia juga mulai mengguncang tubuhku saat aku tak kunjung meresponnya. "Alea, kau tidak apa-apa?"
"Berhenti menggangguku, aku ingin tidur," kataku sambil menepis tangannya, masih dengan mata tertutup.
"Kukira kau pingsan," ucapnya dengan tawa kecil. Dengan satu tarikan ia mengubah posisiku menjadi berbaring dengan kepala berada di pangkuannya. "Tidurlah," ucapnya setelah mengecup pipiku. Gerakan tangannya yang membelai dan memainkan rambutku membuatku mengantuk.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, saat kembali membuka mata, langit sudah gelap. Aku mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya.
"Kau sudah bangun," ucap Alan dengan wajah tersenyum. Jari-jarinya terasa hangat saat membelai pipiku. Aku segera bangun dan duduk dengan tegak. Kakinya pasti pegal setelah menyangga kepalaku begitu lama.
"Kita dimana sekarang?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling. Beberapa gedung tinggi dan pertokoan berjajar di sisi kanan dan kiri jalan raya yang kami lintasi.
"Sudah sampai di kota M," sahut Alan. Ia menyodorkan sebotol air mineral padaku. "Minum," titahnya.
Aku segera menerimanya dan meminum isinya beberapa teguk. Aku memang selalu haus saat bangun tidur. "Apa masih jauh?" tanyaku seraya mengembalikan botol itu pada Alan.
"Sebentar lagi sampai," ucapnya setelah menenggak habis sisa air yang sebelumnya telah kuminum.
"Mau makan sekarang atau nanti saja?" Alan menawarkan.
"Nanti saja, aku belum lapar."
"Baiklah," kata Alan.
Hatiku berdesir saat Alan meraih telapak tanganku dan mengecupnya beberapa kali. Wajahku memanas dan jantungku berdebar lebih cepat saat ia menarik tanganku lebih tinggi. Menempelkan dan menggosokkan punggung tanganku ke pipinya dengan mata terpejam.
"Tanganmu lembut sekali, Alea. Seperti sutra. Aku ingin terus membelainya seperti ini, nyaman sekali." Ia kembali membuka mata beberapa menit kemudian. Tatapannya jatuh ke tangannya yang sedang memainkan jemariku.
"Jari-jarimu juga sangat cantik. Mereka seperti biskuit yang berbentuk stik. Setiap kali melihatnya aku ingin menggigit dan memakannya," pujinya.
Aku ikut menatapnya dan tersenyum. "Tidak, punyamu lebih cantik," bantahku, tak setuju. Jari-jari Alan panjang dan ramping, sangat cantik. Meskipun jari-jariku juga ramping tapi mereka pendek.
"Tidak. Kau salah. Lihat, mereka kecil sekali, sangat menggemaskan," ucapnya sambil tertawa. Ia membandingkan jari manisku dengan kelingkingnya. Lalu, membuat lingkaran kecil dengan jari tangannya yang bebas dan memasukannya ke jari-jariku. Seolah sedang mengukur diameternya.
"Kita sudah sampai, Tuan Muda... Nona Alea," ucap Arman.
Aku dan Alan terlalu asyik mengobrol sampai-sampai tidak sadar kalau mobil sudah berhenti dan terparkir di halaman sebuah rumah yang... WOW.