Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 42



Aku kembali bangkit berdiri. Mengusir rasa takut dan juga sesak di dada. Kutatap sesosok wajah yang mulai keriput itu. Sosok lelaki tua yang berdiri dengan angkuhnya.


Selama ini aku selalu menyayangi dan menghormatinya meskipun seringkali ia bersikap kasar dan tak adil padaku. Sebelumnya aku selalu bertanya-tanya kenapa kedua orang tuaku memperlakukanku dan juga Alia sangat berbeda. Mereka memanjakan Alia, menyuruhku mengalah saat kami berebut mainan maupun soal laki-laki. Kupikir itu semua karena aku adalah kakaknya. Seorang yang lebih tua harus mengalah pada yang lebih kecil. Ternyata aku salah, itu semua mereka lakukan karena mereka menyayangi putri tercintanya. Mungkin mereka tidak rela aku, yang hanya seorang anak pungut ini hidup lebih bahagia dari pada putri kandungnya.


Selama beberapa saat aku terus menatap ayahku itu. Rasa sayang dan juga hormat sirna sudah. Dia bukan ayahku lagi, aku tak perlu takut padanya.


"Kevin ...," kataku seraya menoleh, memandang kekasih yang berdiri di sampingku. Lelaki itu menatapku balik. "Ya," balasnya.


"Kau dengar? Aku dan Alia bukanlah saudara kandung. Kami tidak memiliki ikatan darah. Jadi kau bisa menikahiku kapanpun kau mau, tidak perlu menunggu kau dan Alia bercerai lebih dulu." Setelah mengatakannya, aku kembali memandang ayahku. Kulihat wajahnya berubah memerah, bibirnya terkatup rapat dan tangannya terkepal. Aku tersenyum senang, melihat kemarahannya. Selama ini ayah memaksaku menyerahkan apa yang kumiliki dan aku menurutinya begitu saja. Tapi mulai detik ini aku tak akan pernah melakukannya lagi. Justru akan ku rebut lagi apa yang seharusnya kumiliki. Dan yang paling pertama adalah Kevin, lelakiku yang paling di cintai oleh putri kesayanganmu. Jadi tunggu dan lihat saja ke depannya.


Aku kembali menoleh ke arah Kevin, saat ia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. Kami saling beradu pandang dengan tatapan penuh cinta. "Aku akan segera mengurusnya, Ly. Kau tunggu saja, tidak akan lama lagi kau menjadi istriku. Istri yang sesungguhnya, bukan istri kedua apalagi simpanan, kaulah satu-satunya pemilik hatiku. Hanya kau yang pantas menyandang status nyonya Kevin, bukan yang lainnya," ucap Kevin, tegas. Ia sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhir. Memberitahukan pada ayah bahwa satu-satunya yang ia cintai adalah aku. Ia sama sekali tak menganggap Alia, meskipun mereka sudah menikah.


Aku dan Kevin sama-sama menoleh saat ayahku tertawa lepas. Kevin menatap ayahku itu dengan dahi berkerut. Begitu pula denganku, merasa bingung dengan sikap ayah yang justru tertawa, bukankah seharusnya ia murka pada kami berdua?


"Apa kalian pikir kalian bisa menikah semudah itu?" ucap Ayah dengan nada mengejek. "Alea-Alea ... Apa kau pikir orang tua Kevin masih mau menerimamu setelah mereka tahu asal usulmu?"


Aku terdiam. Kata-kata ayah seolah menusukku. Ayah benar, aku tak memikirkan semua itu. Aku tidak yakin, apakah kedua orang tua Kevin masih mau menerimaku lagi? Aku bukan dari keluarga berada lagi, aku hanya seorang yatim piatu yang tak jelas asal usulnya. Sementara mereka merupakan keluarga terpandang yang tak asal memilih dan menerima seorang wanita sebagai menantunya. Aku tertunduk. Memikirkan hal itu membuatku sedih.


Kevin mengulurkan tangan, meraih wajahku dan membelai pipiku dengan lembut. "Karena kau baik, sopan dan juga pengertian. Tidak ada yang lebih penting dari ketiga itu. Kau pun tahu ayah dan ibu sangat menyayangimu, bahkan lebih dari rasa sayangnya padaku," imbuhnya, meyakinkan. Meskipun secercah harapan itu datang padaku, tapi aku masih tak bisa tersenyum. Aku takut itu harapan itu tak sesuai dengan kenyataan.


"Tersenyumlah, Ly. Hatiku sakit melihatmu bersedih seperti sekarang. Kau tenang saja, apapun yang terjadi nanti, sekalipun papa dan mama tak merestui kita, aku akan tetap menikahimu. Kita akan tetap bersama, Ly," ucapnya kemudian. Ia menarikku, membawaku dalam dekapannya. Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, memeluknya erat dan membenamkan wajahku di dada bidangnya.


Semoga seperti itu, Mas. Aku berharap kita akan terus bersama, selamanya.


.


.


.


.